Main Perencanaan Pembelajaran Sesuai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Kurikulum 2013...

Perencanaan Pembelajaran Sesuai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Kurikulum 2013 (K-13)

,
0 / 0
How much do you like this book?
What’s the quality of the file?
Download the book for quality assessment
What’s the quality of the downloaded files?
Year:
2016
Edition:
Pertama
Publisher:
IAIN Jember Press
Language:
indonesian
Pages:
336
ISBN 13:
9786024140830
File:
PDF, 7.17 MB
Download (pdf, 7.17 MB)

Most frequently terms

 
0 comments
 

To post a review, please sign in or sign up
You can write a book review and share your experiences. Other readers will always be interested in your opinion of the books you've read. Whether you've loved the book or not, if you give your honest and detailed thoughts then people will find new books that are right for them.
1

Persona

Year:
2019
Language:
indonesian
File:
PDF, 1.70 MB
0 / 0
2

How to Wreck Your Business – It's the Story Every Business Owner Needs to Read

Year:
2020
Language:
english
File:
EPUB, 3.33 MB
0 / 0
PERENCANAAN PEMBELAJARAN
Sesuai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
dan Kurikulum 2013 (K-13)
Hak penerbitan ada pada IAIN Jember Press
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Penulis:
Dr. Hj. Mukni'ah, M.Pd.I
Editor:
Dr. H. Abd. Muhith, M.Pd.I

Layout:
Khairuddin
Cetakan I:
Agustus 2016
Foto Cover:
Internet
Penerbit:
Pustaka Pelajar (Anggota IKAPI)
Celeban Timur UH III/548 Yogyakarta 55167
Telp. 0274 381542, Faks. 0274 383083
E-mail: pustakapelajar@yahoo.com
Bekerja sama dengan
IAIN Jember Press
Jl. Mataram No. 1 Mangli Jember
Tlp. 0331-487550 Fax. 0331-427005
e-mail: iainjember.press14@gmail.com
ISBN: 978-602-414-083-0
Isi diluar tanggung jawab penerbit

PENGANTAR PENULIS

P

uji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
nikmat sehat dan kesempatan yang luar biasa kepada penulis untuk menulis dan berkarya melalui salah satu buku yang
berjudul “Perencanaan Pembelajaran sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Kurikulum 2013
(K-13)”. Perencanaan pembelajaran merupakan penjabaran atau
operasionalisasi dari silabus, sedangkan silabus merupakan penjabaran dari kurikulum. Perencanaan pembelajaran memberikan konsep-konsep dasar serta ketentuan–ketentuan praktis tentang cara
menyusun rencana atau persiapan mengajar serta melaksanakan
pengajaran suatu bidang studi atau mata pelajaran. Sebelum seorang
guru atau calon guru memberikan pengajaran di dalam kelas, ia harus menyusun rencana pembelajaran yang di dalamnya terdapat perumusan Standar Kompetensi atau Kompetensi Inti pada K-13,
Kompetensi Dasar, tujuan pembelajaran, materi atau bahan ajar,
metode yang digunakan, sumber belajar, media pembelajaran, alat
pendukung proses pembelajaran, serta evaluasi yang digunakan untuk menilai pencapaian tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan buku bahan ajar untuk memudahkan dan memenuhi kebutuiii

han mahasiswa dan dosen dalam melaksanakan proses pembelajaran.
Melalui buku ini harapan penulis agaru buku inidapat dijadikan sebagai bahan kajian dan acuan bagi mahas; iswa yang menempuh mata kuliah perencanaan pembelajaran di semua jurusan dan
program studi di lingkungan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
(FTIK) di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri
(PTKIN/PTKI) dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di
Perguruan Tinggi Umum (PTU).
Pada kesempatan ini dengan senang hati saya mengucapkan
terimakasih kepada semua pihak yaitu
1. Rektor IAIN Jember, Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE,MM.,
yang telah memberi fasilitas dan dorongan sehingga penulis
semangat untuk menulis buku ini.
2. Ketua LP2M IAIN Jember , Bapak Muhibbin, S.Ag., M.Si.
yang telah memberi kesempatan pada penulis untuk berkompetisi dalam penerbitan buku Bahan ajar di IAIN Jember melalui IAIN Press bekerja sama dengan Pustaka Pelajar pada tahun 2016 ini.
3. Suami tercinta Drs. H. Khotim Ashom, M.Pd.I yang selalu
menemani, memberi motivasi dan memberikan sumbangan
pikiran pada penulis, serta anak-anak saya Radiv Muhammad
Aflah Annaba, Lafif Ahmad Rofid Al-Azmi dan Arifah Wafda
Nadiyya yang selalu mendoakan dan memberi semangat pada
penulis sehingga buku ini selesai.
4. Yatik Septi Wulandari, S.Pd. saat itu mahasiswa Program Studi
PGMI yang ikut membantu dalam penulisan buku ini sehingga terselesaikan.
Akhirnya, masukan pikiran, kritik dan saran selalu diharapkan
demi penyempurnaan buku ini pada waktu-waktu mendatang. Bersyukur kepada Allah dan Rosul-Nya semoga buku ini bermanfaat
iv

bagi semua pihak khususnya dosen, dan mahasiswa calon guru sebagai bekal untuk menjadi guru yang berkualitas. Amin ya Robb al
alamin. Wallahu a’lamu bi al-shawab.

Jember, 28 Juni 2016
Penulis,

Dr. Hj. Mukni’ah, M.Pd.I

v

vi

PENGANTAR
REKTOR IAIN JEMBER

Alhamdulillah, puji dan syukur dipersembahkan kehadirat Allah SWT atas terbitnya BUKU DARAS (BAHAN AJAR) yang
merupakan materi dan bahan kajian untuk Mata kuliah Perencanaan Pembelajaran sebagai salah satu sarana untuk memudahkan
proses pembelajaran mahasiswa dan dosen di lingkungan Fakultas
Tarbiyah dan Ilmu Keguruan pada semua Jurusan dan Program
Studi di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri
(PTKIN) khususnya di lingkungan IAIN Jember maupun Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di lingkungan Perguruan
Tinggi Umum.
Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 103 tahun 2014 tentang Pembelajaran pada
Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, dinyatakan bahwa
setiap guru di setiap satuan pendidikan berkewajiban menyusun
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk kelas dimana guru
tersebut mengajar (guru kelas) di Sekolah Dasar (SD) atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan untuk guru mata pelajaran yang diampunya
untuk guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Madrasah Tsanawiyah (MTS), Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Madrasah
Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) atau Madrasah
Aliyah Kejuruan (MAK).
Sebagai refleksi dan realisasi tanggung jawab akademik, dosen
dituntut untuk memberikan kontribusi nyata dalam bentuk pemikiran dan ide-ide konstruktifnya sebagai solusi atau tawaran pemecavii

han atas berbagai problematika yang tengah dihadapi oleh masyarakat maupun mahasiswa.
Sumbangsih pemikiran atau ide-ide kontruktif tersebut salah
satunya diwujudkan dalam bentuk karya tulis ilmiah sebagai salah
satu wujud karya ilmiah dikalangan dosen adalah penulisan buku,
baik buku daras, buku ilmiah populer, maupun buku dari adaptasi
hasil riset ilmiah dalam beragam bentuknya.
Buku daras sebagai buku rujukan materi perkuliahan, sampai
saat ini menjadi bagian penting yang patut diperhatikan bagi kalangan dosen. Selain faktor perubahan kurikulum yang terus berkembang, ketersedian buku-buku daras belum menyentuh seluruh mata
kuliah dan jumlahnya masih sangat terbatas.
Berangkat dari fenomena tersebut, IAIN Jember Press memberikan peluang kepada dosen IAIN Jember untuk menfasilitasi karyanya dalam beragam bentuk sesuai dengan kompetensinya untuk
diterbitkan melalui program penerbitan buku IAIN Jember Press
yang bekerjasama dengan penerbit Pustaka Pelajar tahun 2016.
Akhirnya, saya berharap agar buku daras yang telah diterbitkan
ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan dapat dikembangkan lagi pada masa-masa yang akan datang.
Jember, 28 juni 2016
Rektor IAIN Jember
Ttd.,
Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE., MM.
NIP.19660322 199303 1 022

viii

PENGANTAR EDITOR

Dengan mengucap bismillahirranirahim saya menyanggupi
permintaan sahabat saya Dr. Nyai. Hj. Mukni’ah, M.Pd.I. untuk
menjadi editor buku yang beliau tulis dengan judul Perencanaan
Pembelajaran sesuai Kurikulum 2006 (KTSP) dan Kurikulum
2013. Walaupun tugas tersebut sangat berat tanggung jawabnya,
dengan berbekal semangat dan pengalaman selama 26 tahun menjadi guru di madrasah diniyah, taman kanak-kanak, madrasah
ibtidaiyah, kejar paket, madrasah tsanawiyah, madrasah aliyah,
pengalaman menjadi dosen selama 15 tahun, dan aktif dalam
diskusi seminar dan workshop tentang perencanaan pembelajaran.
Tugas tersebut dilakukan dengan senang hati dan penuh
tanggun jawab, kesanggupan menjadi editor buku tersebut didorong oleh beberapa petimbangan yang mendasar, pertama, tugas
mengedit buku diharapkan bernilai ibadah; kedua, kehadiran buku
tersebut merupakan salah satu buku yang sangat dibutuhkan oleh
para guru dan mahasiswa calon guru untuk menambah kompetensi
mereka dalam melaksanakan salah satu tugas pokok dan fungsi
guru, yaitu merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran; ketiga, melaksanakan pesan yang saya anggap sebagai
amanah dari Kepala Kantor Kemeterian Agama Kabupaten
Bondowoso Drs. H. Slamet M.H.I. dan Kepala kantor
Kementerian Agama Propinsi Jawa Timur Drs. H. Mahfud Shodar,
M.Pd.I. saat merekomendasi mutasi saya dari Kepala Madrasah
Ibtidaiyah Negeri Lombok Kulon Wonosari Bondowoso menjadi
Dosen di IAIN Jember, beliau berdua berpesan kepada saya agar
senantiasa berjuang dan berkontribusi untuk mengembangkan
ix

kualitas pendidikan terutama di madrasah sebagai tempat awal
berpijak meniti karier sebagai praktisi pendidikan, keempat
komitmen yang dibangun bersama penulis buku ini untuk terus
berkarya, saling memberikan semangat, dan saling memberikan
apresiasi.
Semoga kehadiran buku ini dapat menambah khazanah
keilmuan, memberikan banyak manfaat, dan keberkahan, sehingga
menjadi bagian inspirasi bagi guru dan mahasiswa calon guru
untuk merencankan pembelajaran yang tepat dan benar dalam
rangka meningkatkan kualitas pembelajaran yang kemudian
melahirkan sumber daya insani yang memiliki keunggulan, baik
pada tataran lokal, regional, nasional, maupun global. Kepada
beliau Dr. Nyai. Hj. Mukni’ah, M.Pd.I. agar terus berkarya walau
penuh dengan kesibukan dengan berbagai atribut sebagai ibu dari
putera-puterinya, isteri dari Drs.KH. Khotim Ashom, M.Pd.I
Ketua PC. Fatayat NU Kabupaten Jember Periode 2004-2013,
pengasuh di Pondok Pesantren Al-Musawa ,, Ketua Prodi PGMI di
IAIN Jember, sebagai praktisi pendidikan, dan sebagai pakar
Perencanaan Pembelajaran.
Kepada semua pihak, baik yang terlibat secara langsung
maupun tidak langsung dalam dunia pendidikan mohon saran dan
kritik apabila terdapat kesalahan dalam tugas ini. Semoga Allah
SWT tetap memberikan petunjuk terhadap upaya yang telah,
sedang, dan yang akan kita lakukan untuk peningkatan mutu
pendidikan di Indonesia.
Jember, Juni 2016
Editor,
Dr. H. Abd. Muhith, S.Ag. M.Pd.I.
x

DAFTAR ISI

PENGANTAR PENULIS  iii
PENGANTAR REKTOR IAIN JEMBER  vii
PENGANTAR EDITOR  vii
DAFTAR ISI  ix

Bab 1
Pendahuluan  1
A. Latar Belakang 1
B. Kedudukan dan Tujuan Matakuliah  3
Bab 2
Konsep Dasar Perencanaan 5
A. Pengertian Perencanaan, Belajar dan Pembelajaran 5
B. Makna Perencanaan Pembelajaran 11
C. Jenis-Jenis Perencanaan Pembelajaran 12
D. Prinsip-Prinsip Perencanaan Pembelajaran 13
E. Manfaat dan Fungsi Perencanaan Pembelajaran 14
xi

Bab 3
Desain dan Model Desain Pembelajaran 17
A. Hakekat Desain Pembelajaran  17
B. Model-Model Desain Pembelajaran 19
C. Prinsip-Prinsip Desain Pembelajaran 23
D. Langkah-Langkah Pengembangan Desain Pembelajaran 25
Bab 4
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan
Kurikulum 2013 (K-13)  39
A. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)  39
B. Komponen-komponen KTSP 43
C. Kurikulum 2013  46
D. Struktur Kurikulum 2013  48
Bab 5
Perangkat Pembelajaran  61
A. Pengertian Perangkat Pembelajaran 61
B. Silabus 62
C. Kalender Pendidikan 63
D. Program Tahunan (Prota) 64
E. Program Semester (Promes) 66
F. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)  68
G. Manfaat Perangkat Pembelajaran 69

xii

Bab 6
Pengembangan Silabus  71
A. Prinsip Pengembangan Silabus 71
B. Langkah-Langkah Pengembangan Silabus 75
C. Komponen dan Format Silabus 78
Bab 7
Pengembangan Perencanaan
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 81
A. Prinsip-Prinsip Menyusun RPP81
B. Komponen-Komponen RPP84
C. Langkah-Langkah Pengembangan RPP87
D. Format RPP KTSP dan K-13 102
Bab 8
Pengembangan Penilaian107
A. Prinsip Dasar Pengembangan Penilaian 107
B. Teknik dan Instrumen Penilaian 111
C. Aspek yang Dinilai 125
D. Penilaian Kelompok Matapelajaran 131
DAFTAR PUSTAKA  137
TENTANG PENULIS  141
Lampiran contoh perangkat pembelajaran
Lampiran Kompetensi Dasar SD/MI  147
Lampiran Kompetensi Dasar PAI SMP  260
Lampiran Kompetensi Dasar PAI SMA/SMK 223
Lampiran Contoh Kalender Akademik 232
xiii

Lampiran Contoh Program Tahunan 233
Lampiran Contoh Program Semester 245
Lampiran Contoh Silabus
248
Lampiran RPP KTSP 261
Lampiran RPP K-13
272

xiv

Bab

1

Pendahuluan

A. Latar Belakang
Pendidikan Indonesia berkembang sesuai dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Pendidikan di zaman yang serba modern saat ini menduduki peringkat pertama dalam memperbaiki moral anak bangsa. Tujuan pendidikan dalam
Undang-Undang 2 0 Tahun 2003 akan terwujud apabila kurikulum
pendidikan dapat diterapkan secara maksimal, namun dengan adanya pergantian dan pemberharuan kurikulum yang telah dilakukan
oleh pemerintah, terkadang menimbulkan kebingungan dipihak
masyarakat terutama orang tua, termasuk guru maupun pihak pengelola lembaga. Berdasarkan realita di lapangan banyak persepsi
masyarakat yang mengatakan ganti menteri ganti kurikulum. Presepsi ini berdasarkan perkembangan dari Kurikulum Berbasis
Kompetensi (KBK) 2004 yang kemudian berganti Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dan pada tahun 2013 berganti
BAB 1 Pendahuluan| 1

menjadi Kurikulum 2013 (K-13) yang pada tahun 2016 masih tetap
menjadi Kurikulum K-13.
Suksesnya kurikulum juga tergantung kepada pengajar dalam
mengimplementasikan kurikulum. Pengajar memiliki peran penting
dalam kurikulum, yakni sebagai penyampai kurikulum kepada
peserta didik melalui materi yang diajarkan dalam proses belajar
mengajar dalam kelas. Selain sebagai penyampai kurikulum pengajar juga harus mempersiapkan perencanaan pembelajaran yang
sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Dalam hal ini, mulai dari
pembuatan kalender pendidikan, program tahunan, program semester, silabus, dan RPP. Hal itu dilakukan untuk memenuhi tugas
seorang pendidik dalam bidang kompetensi professional.
Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Republik Indonesia No. 103 tahun 2014 tentang Pembelajaran
pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, dinyatakan
bahwa setiap guru di setiap satuan pendidikan berkewajiban menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk kelas dimana guru tersebut mengajar (guru kelas) di Sekolah Dasar (SD)
atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan untuk guru mata pelajaran yang
diampunya untuk guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau
Madrasah Tsanawiyah (MTS), Sekolah Menengah Atas (SMA) atau
Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) atau
Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK).
Berdasarkan permasalahan tersebut, sangatlah penting untuk
kita yang sudah jadi dosen, guru maupun mahasiswa calon guru untuk mempelajari mata kuliah Perencanaan Pembelajaran terutama
bagi mahasiswa jurusan pendidikan di lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Perguruan Tinggi Umum atau
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu keguruan di lingkungan IAIN/STAIN
atau PTKIN maupun PTKI.
Perencanaan pembelajaran merupakan pedoman seorang guru
2 | PERENCANAAN PEMBELAJARAN Sesuai Kurikulum KTSP dan K-13

dalam proses belajar mengajar. Sebagai calon guru kita dituntut untuk mengerti tentang perencanaan pembelajaran berdasarkan kurikulum yang berlaku, hal ini dilakukan agar ketika kita melaksanakan
tugas sebagai guru di sebuah lembaga pendidikan tidak merasa
canggung dan merasa kebingungan untuk membuat perencanaan
pembelajaran.
Perencanaan pembelajaran memberikan konsep-konsep dasar
serta ketentuan –ketentuan praktis tentang cara menyusun rencana
atau persiapan mengajar serta melaksanakan pengajaran suatu bidang studi atau mata pelajaran tertentu,sebelum seorang guru atau
calon guru memberikan pengajaran di dalam kelas, ia harus menyusun rencana pembelajaran yang di dalamnya terdapat Standar
Kompetensi, atau Kompetensi Inti pada kurikulum 2013, Kompetensi Dasar, perumusan tujuan pembelajaran, materi atau bahan
ajar, metode yang digunakan, media/alat pendukung proses pembelajaran, serta evaluasi yang digunakan untuk menilai pencapaian
tujuan pembelajaran. prinsip-prinsip mengenai cara menyusun perencanaan pembelajaran dan bagaimana cara merumuskan perencanaan pembelajaran akan dibahas dalam buku ini.
Buku ini ditulis sesuai dengan silabus mata kuliah perencanaan
pembelajaran Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Jember
yang berisikan tentang : Konsep Dasar Perencanaan, Desain dan
Model Pembelajaran, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP) dan Kurikulum 2013 (K-13), Perangkat Pembelajaran,
Pengembangan Silabus, Pengembangan Perencanaan Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP), dan Pengembangan Penilaian.

B. Kedudukan dan Tujuan Mata Kuliah
Mata kuliah perencanaan pembelajaran termasuk ke dalam kelompok mata kuliah Program Studi, mata kuliah Proses Belajar
BAB 1 Pendahuluan| 3

Mengajar yang membahas prinsip-prinsip dan cara-cara merencanakan pembelajaran suatu mata pelajaran. Kegiatan pembelajaran ini
terdapat tiga proses yang harus dilalui yaitu: Pertama, perencanaan
pembelajaran. Kedua, pelaksanaan pembelajaran. Ketiga, evaluasi
pembelajaran. Perencanaan pembelajaran merupakan langkah pertama dalam kegiatan pembelajaran yang berisi upaya yang akan dilakukan dalam proses pembelajaran.
Secara umum, perencanaan pembelajaran mencakup kegiatan
perumusan tujuan pembelajaran, strategi yang digunakan untuk
menilai pencapaian tujuan pembelajaran, materi atau bahan yang
akan diajarkan, metode yang digunakan dalam menyampaikan
materi, media/alat yang diperlukan untuk mendukung proses pembelajaran, serta perencanaan evaluasi yang akan digunakan. Perencanaan tersebut digunakan agar terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien, serta relevan dengan misi dan tujuan dari lembaga pendidikan.
Tujuan umum mata kuliah Perencanaan Pembelajaran ialah
agar mahasiswa mampu menyusun perangkat pembelajaran yang
sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Tujuan tersebut dapat diperinci lagi menjadi: pembuatan kalender pendidikan, program
tahunan, program semester, program mingguan, Silabus, serta pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran(RPP).

4 | PERENCANAAN PEMBELAJARAN Sesuai Kurikulum KTSP dan K-13

Bab

2

KONSEP DASAR PERENCANAAN

A. Pengertian Perencanaan, Belajar dan Pembelajaran
Secara terminologi, perencanaan pembelajaran terdiri atas dua
kata, yakni : kata perencanaan dan kata pembelajaran. kata perencanaan
berasal dari kata rencana yaitu pengambilan keputusan tentang hal
yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, hal
yang harus dilakukan dalam melakukan perencanaan yaitu menetapkan tujuan yang akan dicapai, kemudian menetapkan langkahlangkah yang harus dilakukan dalam mencapai tujuan.
Zainal Arifin mengatakan bahwa perencanaan mengandung
beberapa istilah, diantaranya :1
1

Zainal Arifin Ahmad, Perencanaan Pembelajaran, (Yogyakarta: Pedagogia,
2012), 32-33.

BAB 2 Konsep Dasar Perencanaan | 5

1.

Perencanaan merupakan suatu bentuk pengambilan keputusan
suatu proses yang mengikuti langkah-langkah prosedural dalam rangka pengambilan keputusan, pemilihan alternative,
konsesus, dan hasil.
2. Perencanaan merupakan suatu proses dimana berbagai masalah sistem dipecahkan secara sistemik.
3. Perencanaan merupakan suatu metode untuk mereduksi
kompleksitas masalah dan memajukan organisasi yang ditujukan secara langsung pada proses pengambilan keputusan.
4. Perencanaan adalah pemilihan sekumpulan kegiatan dan pembuatan keputusan lebih lanjut mengenai apa yang harus dilakukan, kapan, bagaimana, dan oleh siapa.
Berdasarkan pendapat tersebut, dapat difahami bahwa
perencanaan mengandung beberapa unsur, yaitu :
1. Tujuan yang ingin dicapai
2. Langkah-langkah yang akan dilakukan
3. Identifikasi masalah yang akan terjadi
4. Proses pertimbangan dan pengambilan keputusan
Perencanaan merupakan hasil pengambilan keputusan dari
pemikiran yang mendalam mengenai prediksi hal-hal yang akan terjadi pada saat pelaksanaan suatu kegiatan dengan mencari alternativ
penyelesaian masalah yang efektif dan efisien. Perencanaan merupakan awal dari suatu pelaksanaan kegiatan yang merupakan
pedoman dalam melaksanakan suatu kegiatan.
Sedangkan belajar merupakan proses perubahan tingkah laku.
Siswa dalam belajar diharapkan mampu menyerap apa yang telah ia
pelajari dari proses membaca, melihat, mendengar, melakukan
observasi, dan lain-lain, kemudian diterapkan dalam kehidupannya.
Ada beberapa teori yang membahas tentang pengertian
belajar, yaitu:
6 | PERENCANAAN PEMBELAJARAN Sesuai Kurikulum KTSP dan K-13

a.

Teori behavioristik
Teori behavioristik mendasarkan bahwa terbentuknya tingkah
laku yang nampak sebagai hasil dari proses belajar.2 Dengan belajar
siswa akan mengetahui tentang suatu teori ilmu pengetahuan yang
dapat implementasikan secara nyata dalam kehidupannya seharihari.
b. Teori kognitif
Teori kognitif berpandangan bahwa belajar merupakan aktifitas yang melibatkan proses berfikir yang sangat kompleks.3 Teori
kognitif menuntut siswa untuk berfikir dari konkret ke abstrak,
sehingga siswa dapat mengerti apa yang telah ia dapatkan dari proses belajar.
c. Teori kontruktifistik
Teori kontruktifistik memamndang bahwa belajar merupakan
kegiatan untuk memperoleh informasi atau ilmu pengetahuan dari
fakta-fakta yang ada.4 Teori ini menekankan agar setiap siswa memperoleh pengalaman dari hasil belajar, sehingga ia dapat membuat
pemahaman tersendiri mengenai ilmu yang ia peroleh.
d. Teori humanistik
Teori humanistik menyatakan bahwa siswa akan belajar sesuai
dengan kebutuhannya serta menginternalisasi pengalaman tersebut
kedalam dirinya secara aktif.5 Guru dalam teori ini berperan untuk
memberikan pengalaman belajar kepada siswa yang dapat mereka
gunakan dalam kehidupan dan lingkungannya.

2

Haryu Islamuddin, Psikologi Pendidikan, (Jember: Stain Jember Press,
2011), 59.
3
C. Asri Budiningsih, Belajar & Pembelajaran, (Jakarta: Rhineka Cipta, 2012,
34.
4
C. Asri Budiningsih, Belajar & Pembelajaran, 58.
5
Abdorrakhman Ginting, Esensi Praktis Belajar dan Pembelejaran, (Bandung: Humaniora, 2007), 29

BAB 2 Konsep Dasar Perencanaan | 7

Belajar dapat difahami sebagai proses perubahan tingkah laku
berdasarkan informasi yang diperoleh berdasarkan pengalaman,
fakta-fakta disekitar, apa yang telah dibaca, dan didengar oleh siswa
untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Proses belajar, menurut Nasution , dibedakan menjadi tiga
fase, yaitu:
1. Informasi
Setiap proses belajar kita akan mendapatkan sejumlah informasi untuk menambah ilmu pengetahuan kita, informasi tersebut
dapat memperluas dan memperdalam pemahaman ilmu yang kita
milik, serta dapat juga bertentangan dari pemahaman kita mengenai
suatu ilmu pengetahuan.
2. Transformasi
Informasi yang telah kita dapatkan kemudian dianalisis, diubah, atau ditansformasikan ke dalam suatu konsep untuk dapat
digunakan secara lebih luas.
3. Evaluasi
Evaluasi digunakan untuk mengukur sejauh mana ilmu pengetahuan itu dapat digunakan untuk memecahkan gejala-gejala yang
terjadi di lingkup sosial.6
Pembelajaran merupakan kegiatan yang kompleks, yang didalamnya tidak hanya transfer ilmu pengetahuan dari pendidik kepada peserta didik, tetapi pendidik juga melakukan upaya –upaya
agar peserta didik mampui mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Titiek Rohanah Hidayati mengemukakan ada beberapa ciri
pembelajaran, diantaranya:

6

S. Nasution, Berbagai pendekatan dalam Proses Belajar & Mengajar, (Jakarta : Bumi Aksara, 2008), 9.

8 | PERENCANAAN PEMBELAJARAN Sesuai Kurikulum KTSP dan K-13

1.

Pembelajaran adalah proses berfikir
Dalam belajar siswa ditekankan untuk berfikir untuk mencari
dan menemukan pengetahuanm melalui interaksi antar individu dalam lingkungannya. Proses belajar akan membuat siswa menggunakan sebagian besar fikirannya untuk mencari tahu dan menganalisis
informasi yang ia peroleh. Disinilah guru peran guru untuk merangsang siswa dalam belajar dengan mengekplorasi pemahaman siswa
melalui proses belajar mengajar.
2. Proses Pembelajaran adalah memanfaatkan Potensi Otak
Pembelajaran dengan berfikir akan memaksimalkan kerja otak.
Otak terdiri dari 2 bagian, yaitu : otak kanan dan otak kiri. Dimana
otak kanan bekerja dengan sifat acak, teratur, intuitis, dan holistik.
Sedangkan otak kiri bekerja dengan sifat logis, skuensial, linier, dan
rasional. Apabila keduanya digunakan secara maksimal maka seseorang akan dapat mengembangkan bahasa, memecahkan masalah, dan membangun kreasi dengan cerdas.
3. Pembelajaran berlangsung sepanjang hayat
Belajar dilakukan secara terus-menerus, tidak akan pernah berhenti dan terbatas di bangku sekolah saja. Konsep belajar sepanjang
hayat menyatakan bahwa manusia belajar disepanjang hidupnya selama dia masih bernafas tidak terbatas dan berhenti dibangku sekolah saja. Belajar dilakukan agar manusia dapat memecahkan permasalahan yang dihadapi sepanjang hidupnya.7
Prinsip belajar sepanjang hayat beriringan dengan pendapat
Unesco (1996) mengenai 4 pilar pendidikan universal, yaitu :
a. Learning to know/ learning to learn yang berarti belajar tidak hanya untuk memperoleh hasil, tetapi belajar lebih menekankan
kepada proses.
7

Titiek Rohanah Hidayati, Perencanaan Pembelajaran, (Jember : Center For
Society Studies, 2009), 13.

BAB 2 Konsep Dasar Perencanaan | 9

b.

Learning to do yang berarti belajar bukan saja untuk memperoleh informasi semata, tetapi belajar digunakan untuk
mengimplementasikan ilmu pengetahuan yang dimiliki untuk
menjawab permasalah yang terjadi dalam lingkungan sosial.
c. Learning to be yaitu belajar untuk membentuk manusia menjadi
dirinya sendiri. Maksudnya, dengan belajar, manusia akan
menganggap dirinya sebagai individu yang memiliki kepribadian dan tanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
d. Learning to live together yaitu belajar untuk bekerjasama dengan
orang lain. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak akan pernah
hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Oleh karena itu, dengan belajar, manusia akan bekerjasama untuk membangun
suatu hubungan yang harmonis dalam masyarakat.
Pembelajaran merupakan interaksi antara pendidik dan peserta
didik dalam memanfaatkan segala potensi dan sumber daya yang
ada dalam diri guru dan siswa.8 Menurut Undang-undang Sistem
pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 pembelajaran adalah
proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar
pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran sebagai interaksi antara pengajar dengan satu atau lebih individu untuk belajar, direncanakan sebelumnya dalam rangka untuk menumbuh kembangkan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman belajar kepada peserta didik.9
Pembelajaran merupakan proses transfer knowledge yang dilakukan oleh pendidik dan peserta didik atau guru dan siswa melalui interaksi antar keduanya. Hal utama yang harus ditekankan dalam kegiatan pembelajaran, adalah pembelajaran tidak hanya ber8

Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pengajaran, (Jakarta :
Kencana, 2009),26.
9
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Pendidikan No. 20 tahun
2003 tentang Standar Pendidikan Nasional

10 | PERENCANAAN PEMBELAJARAN Sesuai Kurikulum KTSP dan K-13

tumpu kepada kegiatanpendidik /guru atau pendidik/siswa saja,
tetapi, guru dan siswa bersama-sama dalam membangun pembelajaran yang interaktif diantara mereka.
Setiap proses pembelajaran membutuhkan tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, dan rencana evaluasi pembelajaran yang sesuai dengan
kurikulum yang berlaku. Semua hal tersebut harus dipersiapkan
oleh seorang guru sebelum memulai pelaksanaan pembelajaran
dalam kelas.

B. Makna Perencanaan Pembelajaran
Berdasarkan pengertian perencanaan dan pembelajaran, dapat
kita ketahui bahwa perencanaan pembelajaran merupakan proses
pembuatan keputusan mengenai tujuan yang ingin dicapai dalam
proses pembelajaran, pemilihan materi pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, dan rencana evaluasi pembelajaran
yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang sesuai
dengan kurikulum yang berlaku.
Sedangkan menurut Undang-undang Sistem pendidikan
Nasional Nomor 20 tahun 2003 pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar. Pembelajaran sebagai interaksi antara pengajar
dengan satu atau lebih individu untuk belajar, direncanakan sebelumnya dalam rangka untuk menumbuh kembangkan pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman belajar kepada peserta didik.10
Berdasarkan Undang-Undang Sisdiknas tersebut, maka perencanaan pembelajaran merupakan tahapan penting yang harus dilakukan guru sebelum mereka melaksanakan kegiatan belajar-me10

Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Pendidikan No. 20 tahun
2003 tentang Standar Pendidikan Nasional

BAB 2 Konsep Dasar Perencanaan | 11

ngajar dan untuk mencapai tujuan akhir pembelajaran. Pembelajaran bukan sekedar aktivitas rutin pendidikan tetapi merupakan komunikasi edukatif yang penuh pesan, sistemik, prosedural,
dan sarat tujuan, karena itu, pembelajaran harus dipersiapkan secara cermat dan tepat.

C. Jenis-Jenis Perencanaan Pembelajaran
Perencanaan pembelajaran memiliki berbagai jenis. Berdasarkan ruang lingkupnya atau besaran aspek yang direncanakan, perencanaan pembelajaran terdiri dari perencanaan makro, meso, dan
mikro.11
Perencanaan makro mencakup perencanaan unsur-unsur sistem pembelajaran yang holistic (menyeluruh) dan integrative (terpadu), meliputi peserta didik, pendidik, tujuan, materi, pendekatan,
metode, media, sumber belajar, dan sistem evaluasi. Perencanaan
makro berbentuk desain sistem pembelajaran (course design).
Perencanaan makro juga berarti perencanaan terhadap materi
pelajaran secara menyeluruh sesuai dengan ruang lingkup materi yang ditetapkan dalam kurikulum. Perencanaan makro bersifat jangka
panjang atau long range plan. Contoh untuk perencanaan ini, yaitu
program tahunan (prota) dan penyususan silabus.
Sedangkan perencanaan meso merupakan perencanaan terhadap satu unit kegiatan pembelajaran dalam jangka menengah.
Perencanaan meso biasa disebut dengan middle rang plan atau unit
plan. Contoh untuk perencaan meso adalah perencanaan program
semester (promes) atau satu unit materi pelajaran.
Perencaan mikro, merupakan perencanaan untuk satu kegiatan pembelajaran atau satu tatap muka, perencanaan ini disebut
11

Zainal Arifin Ahmad, Perencanaan Pembelajaran, (Yogyakarta : Pedagogya, 2014), 36.

12 | PERENCANAAN PEMBELAJARAN Sesuai Kurikulum KTSP dan K-13

short range plan atau lesson plan. Contoh perencanaan ini adalah
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

D. Prinsip-Prinsip Perencanaan pembelajaran
Prinsip perencanaan pembelajaran merupakan landasan dasar
yang dijadikan pedoman dalam membuat perencanaan pembelajaran. Menurut Nana Jumhana prinsip-prinsip yang harus dijadikan dasar dalam merancang pembelajaran, yaitu :
1. Ilmiah, yaitu keseluruhan materi yang dikembangkan atau dirancang oleh guru termasuk kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran harus
benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.
2. Relevan, yaitu bahwa setiap materi memiliki ruang lingkup
atau cakupan dan urutan penyajiannya.
3. Sistematis, yaitu unsur perencanaan harus saling terkait, mempengaruhi, menentukan dan suatu kesatuan yang utuh untuk
mencapai tujuan atau kompetensi.
4. Konsisten, yaitu adanya hubungan yang konsisten antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok, pengalaman belajar,
sumber belajar dan sistem penilaian.
5. Memadai, yaitu cakupan indikator, materi pokok, pengalaman
belajar, sumber belajar dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.
6. Aktual dan konseptual, cakupan indikator, materi pokok,
pengalaman belajar, sumber belajar dan sistem penilaian memperhatikan penilaian perkembangan ilmu, teknologi dan seni
mutakhir dalam kehidupan nyata dan peristiwa yang terjadi.
7. Fleksibel, yaitu keseluruhan komponen silabus maupun rencana pelaksanaan pembelajaran harus dapat mengakomodasi

BAB 2 Konsep Dasar Perencanaan | 13

8.

keragaman peserta didik, pendidik serta dinamika perubahan
yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.
Menyeluruh, yaitu komponen silabus dan rencana pelaksanaan
pembelajaran harus mencakup keseluruhan ranah kompetensi
(kognitif, afektif, psikomotor).12

E. Manfaat dan Fungsi Perencanaan Pembelajaran
Seorang guru sebelum mengajar dituntut untuk membuat
perencanaan pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman dalam
proses belajar-mengajar.Wina Sanjaya menyatakan alasan perlunya
seorang guru membuat perencanaan pembelajaran, yaitu :
Pertama, pembelajaran adalah proses yang bertujuan. Setiap
proses yang memiliki tujuan, maka dituntut untuk membuat suatu
perencanaan untuk mencapai tujuan tersebut. Begitu pula dengan
seorang guru, dalam mencapai tujuan pembelajaran guru harus
menyiapkan suatu rencana untuk mencapai tujuan pembelajaran
yang telah ditetapkan.
Kedua, pembelajaran adalah proses kerja sama. Pembelajaran
membutuhkan kerjasama minimal antara seorang guru dengan
siswa. Proses pembelajaran tidak akan berjalan dengan sendirinya
tanpa adanya guru dan siswa. Dalam proses kerjasama ini, guru berperan aktif dalam melakukan kegiatan pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa melalui strategi pembelajaran yang digunakan. Strategi pembelajaran juga harus difikirkan oleh seorang guru
sebelum melakukan kegiatan pembelajaran dalam kelas untuk
mengkondisikan peserta didik agar siap dalam menerima materi
yang akan diajarkan.

12

Nana Jumhana dan Sukirman, Perencanaan Pembelajaran, (Bandung: UPI
Press,2008) 45.

14 | PERENCANAAN PEMBELAJARAN Sesuai Kurikulum KTSP dan K-13

Ketiga, proses pembelajaran adalah proses yang kompleks.
Kompleks disini berarti proses pembelajaran tidak hanya dilakukan
untuk transfer knowledge saja, tetapi juga sebagai proses pembentukan tingkah laku siswa. Siswa dengan segala keunikannya
akan memiliki kepribadian dan gaya yang belajar yang berbedabeda. Oleh karena itu, guru harus membuat perencanaan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.
Keempat, proses pembelajaran akan efektif manakala memanfaatkan berbagai sarana dan prasarana yang tersedia termasuk
memanfaatkan berbagai sumber belajar. Pembelajaran yang efektif
tergantung kepada ketersediaan sarana dan prasarana yang
menunjang dalam proses pembelajaran. Selain itu pemanfaatan
berbagai sumber belajar juga akan menambah wawasan peserta
didik. Perencanaan mengenai penggunaan sarana dan prasarana serta pemanfaatan berbagai sumber belajar akan mempengaruhi
semangat belajar peserta didik dalam menangkap materi yang
diajarkan.13
Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa
manfaat perencanaan pembelajaran, yaitu :
1. Sebagai pedoman dalam proses pembelajaran
2. Untuk memprediksi keberhasilan tujuan pembelajaran yang
hendak dicapai
3. Sebagai alat untuk mengidentifikasi masalah yang dihadapi
dalam proses belajar mengajar.
Perencanaan pembelajaran juga akan memudahkan guru
dalam proses belajar mengajar. Karena perencanaan pembelajaran
memuat garis besar langkah-langkah yang akan dilakukan guru
untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Selain

13

Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pengajaran, 28.

BAB 2 Konsep Dasar Perencanaan | 15

itu, dengan adanya perencanaan pembelajaran proses belajar
mengajar akan berjalan secara sistematis dan terorganisir.

16 | PERENCANAAN PEMBELAJARAN Sesuai Kurikulum KTSP dan K-13

Bab

3

DESAIN DAN MODEL
PEMBELAJARAN

A. Hakekat Desain Pembelajaran
Desain adalah sebuah istilah yang diambil dari kata design
(Bahasa Inggris) yang berarti perencanaan atau rancangan. Ada pula
yang mengartikan dengan “Persiapan”. Di dalam ilmu manajemen
pendidikan atau ilmu administrasi pendidikan, perencanaan disebut
dengan istilah planning yaitu “Persiapan me-nyusun suatu keputusan
berupa langkah-langkah penyelesaian suatu masalah atau pelaksanaan suatu pekerjaan yang terarah pada pen-capaian tujuan tertentu”.14
14

Rudisiswoyo, “ Hakikat dan Model Desain Pembelajarn dalam http: //
rudisiswoyo89. blogspot.co.id/2013/11/hakikat-dan-model-desain-pembelajaran.
html

BAB 3 Desain dan Model Pembelajaran | 17

Menurut Herbert Simon dalam Wina Sanjaya desain diartikan
sebagai proses pemecahan masalah.15 Tujuan dari sebuah desain
adalah untuk mencapai solusi agar dapat memecahkan masalah
dengan memanfaatkan informasi yang tersedia, melalui desain
manusia mampu melakukan langkah-langkah yang sisitematis untuk
memecahkan permasalahan yang dihadapi.
Pembelajaran memurut Undang-undang Sistem Pendidikan
Nasional adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan
sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.16 Proses pembelajaran memerlukan sebuah desain untuk menentukan langkahlangkah dalam memecahkan permasalahan pembelajaran.
Wina Sanjaya menyatakan bahwa desain pembelajaran atau
desain intruksional merupakan proses yang sistematis untuk memecahkan persoalan pembelajaran melalui proses perencanaan
bahan-bahan pembelajaran serta perencanaan evaluasi keberhasilan,. Pendekatan yang dapat digunakan dalam desain pembelajaran adalah pendekatan sistem, yang mencakup analisis pengembangan, analisis implementasi, dan analisis evaluasi.17
Desain Instruksional dapat dimaknai sebagai upaya untuk
meningkatkan hasil belajar dengan menggunakan pendekatan
sistem Instruksional. Pendekatan sistem dalam Instruksional lebih
produktif untuk semua tujuan Instruksional, di mana setiap komponen bekerja dan berfungsi untuk mencapai tujuan Instruksional.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas, maka desain instruksional berkenaan dengan proses pembelajaran yang dapat dilakukan
guru untuk mempelajari suatu materi pelajaran yang di dalamnya
15

Wina sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, (Jakarta :
Kencana, 2009), 65.
16
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang
Sistem Pendidikan Nasional (Bandung: Permana, 2006) Bab 1 Pasal 1 Ayat 20.
17
Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, 66.

18 | PERENCANAAN PEMBELAJARAN Sesuai Kurikulum KTSP dan K-13

mencakup rumusan tujuan yang harus dicapai atau hasil belajar
yang diharapkan, rumusan strategi yang dapat dilaksanakan untuk
mencapai tujuan termasuk metode, teknik, strategi dan media yang
dapat dimanfaatkan serta teknik evaluasi untuk mengukur atau menentukan keberhasilan evaluasi untuk mengukur atau menentukan
keberhasilan pencapaian tujuan.

B. Model-Model Desain Pembelajaran
Pada sistem intruksional, kita dihadapkan kepada tiga buah
pertanyaan penting, yakni bagaimana cara mendesain suatu program, struktur program yang bagaimana yang akan dipergunakan,
dan pola mengajar apa yang akan diterapkan sehubungan dengan
pelaksanaan program yang telah didesain itu. Terdapat beberapa
desain pembelajaran menurut para ahli, diantaranya :
1.

Model Kemp
Model desain sistem intruksional yang dikembangkan oleh
Kemp merupakan model yang berbentuk siklus. Menurut Kemp
pengembangan desain sistem pembelajaran terdiri atas komponenkomponen, yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, tujuan
dan berbagai kendala yang timbul.18 Komponen-komponen dalam
desain menurut Kemp, yaitu : hasil yang ingin dicapai, analisis tes
mata pelajaran, tujuan khusus pelajaran, aktivitas belajar, sumber
belajar, layanan pendukung, evaluasi belajar, tes awal, dan karakteristik peserta didik.
Model pengembangan pembelajaran menurut Kemp setiap tahap selalu diikuti dengan kegiatan revisi yang terdiri dari 8 tahapan,
yaitu :
18

ibid, 72

BAB 3 Desain dan Model Pembelajaran | 19

a.

b.

c.

d.
e.
f.
g.
h.

Menentukan tujuan pembelajaran umum yaitu tujuan yang
ingin dicapai dalam mengajarkan masing-masing pokok
bahasan.
Membuat analisis tentang karakteristik peserta didik, analisis
ini diperlukan untuk mengetahui apakah latar belakang pendidikan, kemampuan, budaya, sosial yang dimilki peserta didik
untuk dipertimbangkan dalam desain pembelajaran.
Menentukan tujuan pembelajaran khusus, operasional, dan
terukur. Dengan demikian peserta didik mengetahui apa yang
harus dikerjakan, pelajari dan diukur keberhasilannya. Untuk
instruktur tujuan ini penting untuk melaksanakan kegiatan secara operasional dan dapat merumuskan kegiatan secara
operasional.
Menentukan materi/bahan pelajaran.
Menetapkan penjajagan awal.
Menentukan strategi belajar yang sesuai.
Mengkoordinasikan, yaitu menganalis fungsional komponen
yang ada dalam pembelajaran.
Mengadakan evaluasi pembelajaran.19

2.

Model Banathy
Model desain sistem pembelajaran Banathy memandang
bahwa penyusunan sistem intruksional dilakukan melalui tahapantahapan yang jelas. Terdapat 6 tahap dalam mendesain suatu program pembelajaran, yaitu :20

19

Oemar Hamelik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan
Sistem, (Jakarta : PT. Bumi Aksara, 2005), 59.
20
Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, 73

20 | PERENCANAAN PEMBELAJARAN Sesuai Kurikulum KTSP dan K-13

a.

b.

c.

d.

e.

f.

Menganalisis dan merumuskan tujuan pengembangan sistem
maupun tujuan spesifik. Tujuan merupakan sasaran dan arah
yang harus dicapai oeh siswa atau peserta didik.
Merumuskan kriteria tes yang sesuai dengan tujuan yang
hendak dicapai. Item tes dalam tahap ini dirumuskan untuk
menilai perumusan tujuan. Melalui rumusan tes dapat meyakinkan kita bahwa setiap tujuan ada alat untuk menilai keberhasilannya.
Menganalisis dan merumuskan kegiatan belajar, yakni kegiatan
menginventarisasi seluruh kegiatan belajar mengajar, menilai
kemampuan penerapannya sesuai dengan kondisi yang ada
serta menentukan kegiatan yang mungkin dapat diterapkan.
Merancang sistem, yaitu kegiatan menganalisis sistem menganalisis setiap komponen sistem, mendistribusikan dan mengatur penjadwalan.
Mengimplementasikan dan melakukan control kualitas sistem,
yakni melatih sekaligus menilai efektivitas sistem, melakukan
penempatan dan melaksanakan evaluasi.
Mengadakan perbaikan dan perubahan berdasarkan hasil
evaluasi.

3.

Model Dick and Cery
Model pembelajaran Dick and Cery dimulai dnegan mengidentifikasi tujuan pembelajaran umum. Menurut model pembelajaran ini, sebelum memulai untuk merumuskan tujuan khusus,
perlu melakukan analisis pembelajaran serta menentukan kemampuan awal siswa terlebih dahulu.
Langkah-langkah desain pembelajaran menurut model ini
adalah :
a. Merumuskan tujuan kurikuler,
BAB 3 Desain dan Model Pembelajaran | 21

b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Melakukan analisis pembelajaran dan peserta didik serta aspek
terkait,
Merumuskan tujuan kinerja/pembelajaran,
Mengembangkan asesmen pembelajaran,
Mengembangkan strategi pembelajaran,
Mengembangkan dan memilih materi pembelajaran,
Mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif,
Mendesain dan melaksanakan evaluasi sumatif,
Merevisi pembelajaran.21

4.

Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem
Intruksional)
Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Intruksional)
adalah model yang dikembangakan di Indonesia untuk mendukung
pelaksanaan kurikulum 1975. Konsep model PPSI adalah bahwa
sistem instruksional yang menggunakan pendekatan sistem, yaitu
kesatuan yang terorganisasi, yang terdiri atas sejumlah komponen
yang saling berhubungan satu sama lainnya dalam rangka mencapai
tujuan yang diinginkan.22 Sementara itu, fungsi PPSI adalah untuk
mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran
secara sistemik dan sistematis, untuk dijadikan sebagai pedoman
bagi pendidik dalam melaksanakan proses belajar mengajar.23
Ada lima langkah pokok dari pengembangan model PPSI ini,
yaitu :

21

Dewi Salma Prawiradilaga, Prinsip Desain Pembelajaran (Instructional Design principles), Edisi Pertama, (Jakarta; Kencana Prenada Media Group, 2007),
40.
22
Rusman, Manajemen Kurikulum, (Jakarta; Raja Grafindo Persada, 2009),
232.
23
Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, 75.

22 | PERENCANAAN PEMBELAJARAN Sesuai Kurikulum KTSP dan K-13

a.

b.
c.

d.

e.

Merumuskan tujuan pembelajaran (menggunakan istilah yang
operasional, berbentuk hasil belajar, bentuk tingkah laku, dan
hanya ada satu kemampuan/tujuan),
Pengembangan alat evaluasi (menentukan jenis tes yang digunakan, menyusun item soal untuk setiap tujuan),
Menentukan kegiatan belajar mengajar (merumuskan semua
kemungkinan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan,
menetapkan kegiatan pembelajaran yang akan ditempuh),
Merencanakan program kegiatan belajar mengajar (merumuskan materi pelajaran, menetapkan metode yang digunakan,
memilih alat dan sumber yang digunakan dan menyusun program kegiatan/jadwal), dan
Pelaksanaan (mengadakan pre-tes, menyampaikan materi pelajaran, mengadakan post-tes, dan revisi).24

C. Prinsip-Prinsip Pengembangan Desain Sistem
Pembelajaran
Seorang desainer dalam mengembangkan desain sistem pembelajaran, harus memperhatikan prinsip-prinsip pengembangan
desain pembelajaran agar desain yang dibangun dapat dipertanggung jawabkan secara rasional.
Beberapa prinsip pengembangan desain sistem pembelajaran
menurut Zainal Arifin, yaitu:
1.

Holistik
Desain pembelajaran harus bersifat holistic, yakni mencakup
seluruh komponen-komponen penting sistem pembelajaran. Se-

24

Ibid, 233.

BAB 3 Desain dan Model Pembelajaran | 23

makin lengkap komponen yang didesain, maka desain pembelajaran semakin baik.
2.

Sistemik dan sistematis
Sistemik yaitu bersifat sistem, yaitu perancangan komponenkomponen sistem pembelajaran harus berbentuk sistem yang utuh
dan efektif. Sedangkan sistematis artinya mengikuti urutan kerja
suatu sistem, yaitu komponen-komponen pembelajaran harus disusun sesuai dengan urutan langkah-langkah kerja sistem. Misalnya,
penentuan tujuan pembelajaran harus mendahului penentuan
materi pembelajaran.
3.

Koheren
Prinsip koheren atau kesesuaian dalamdesain pembelajaran
mengandung makna bahwa komponen-komponen suatu sistem
pembelajaran yang didesain harus memiliki kesesuaian antara satu
komponen dengan komponen lainnya. Misalnya, suatu pembelajaran bertujuan untuk meningkatkan kemampuan penghayatan
terhadap nilai-nilai moral. Dengan tujuan tersebut, maka strategi
pembelajaran yang dipilih haruslah strategi yang dapat meningkatkan kepekaan rasa bukan sekedar penghayatan pengetahuan
kognitif saja.
4.

Akurat
Prinsip akurasi menekankan pentingnya ketepatan aspekaspek yang didesain. Contoh akurasi dalam penentuan tujuan pembelajaran bahasa. Jika hakikat bahsan merupakan alat komunikasi,
maka tujuan pembelajaran bahasa haruslah diarahkan untuk meningkatkan kemmapuan peserta didik dalam berkomunikasi dengan
bahasa yang dipelajari.
24 | PERENCANAAN PEMBELAJARAN Sesuai Kurikulum KTSP dan K-13

5.

Fleksibel
Prinsip fleksibitas maksudnya dalam mendesain pembelajan
harus memiliki sifat luwes (fleksibel). Luas dalam arto mampu beradaptasi denganperubahan situasi yang terjadi dengan cepat, baik
situasi di kelas maupun situasi pada umumnya.
6.

Realistis dan Aplikatif
Prinsip realistis dan aplikatif menekankan bahwa yang terpenting dari desain pembelajaran adalah kesesuaian dengan kondisi
riil dan kemungkinannya untuk bisa diterapkan, bukan hanya kecanggihan desainnya.25
Desain pembelajaran yang akan dibuat hendaknya memenuhi
minimal empat prinsip tersebut, yaitu : holistik, sistemik dan sistematis,koheren, akurat, fleksibel, realistik, dan aplikabel.

D. Langkah-langkah Pengembangan Desain Pembelajaran
Model desain pembelajaran yang harus dipilih tergantung pada
wawasan masing-masing perancang mengenai kondisi objektif
pembelajaran, seperti kondisi yang berkaitan dengan tujuan, peserta
didik, sifat dan materi pelajaran, dan lain-lain. Model desain pembelajaran terdiri dari desain yang sederhana dan desain yang kompleks. Model desain pembelajaran yang paling sederhana terdiri dari
empat komponen, yaitu : tujuan, materi, strategi/metode, dan evaluasi. Empat komponen dasar desain sistem pembelajaran tersebut
dapat dikembangkan ke dalam bentuk desain yang lebih komprehensif.

25

Zainal Arifin Ahmad, Perencanaan Pembelajaran, (Yogyakarta:
Paedayogya, 2012), 74-75.

BAB 3 Desain dan Model Pembelajaran | 25

Dalam mengembangkan desain model pembelajaran, berikut
ada 13 langkah yang harus dilakukan, yaitu :261) Membangun
asumsi-asumsi dasar mengenai pembelajaran ideal dan efektif; 2)
Mengidentifikasi karakteristik peserta didik; 3) Menganalisis kondisi
awal sistem dan menganalisis kebutuhan (need assessment); 4)
Merumuskan tujuan umum pembelajaran; 5) Merumuskan tujuan
spesifik pembelajaran dan indikator hasil belajar: 6) Pemilihan dan
penyusunan topik materi atau pokok bahasan; 7) Penyiapan dan
penyusunan bahan ajar; 8) Menyusun dan mengembangkan alat
ukur atau instrument evaluasi hasil belajar; 9) Mengidentifikasi dan
menyiapkan sarana dan prasarana, media pembelajaran, sumber
belajar dan pengaturan lingkungan yang kondusif, 10) Mengidentifikasi dan mengembangkan strategi/metode pembelajaran, 11)
Mengembangkan sistem evaluasi hasil belajar, 12) Implementasi,
13) Evaluasi sistem pembelajaran.
Uraian masing-masing langkah tersebut adalah sebagai berikut:
1.

Membangun asumsi-asumsi dasar megenai
pembelajaran ideal dan efektif
Proses desain pembelajaran harus dimulai dengan membangun asumsi-asumsi dasaratau keyakinan-keyakinan mengenai
pembelajaran yang ideal dan efektif. Asumsi-asumsi ini dibangun
berdasarkan wawasan mengenai filsafat pendidikan pendidikan,
teori belajar dan pembelajaran, hakikat materi yang diajarkan dan
wawasan mengenai ilmu-ilmu yang relevan. Asumsi-asumsi tersebut menjadi landasan dalam merancang desain pembelajaran.

26

Zainal Arifin Ahmad, Perencanaan Pembelajaran, (Yogyakarta:
Paedayogya, 2012), 77-78

26 | PERENCANAAN PEMBELAJARAN Sesuai Kurikulum KTSP dan K-13

Beberapa asumsi dasar, misalnya :
a. Pembelajaran yang efektif, adalah pembelajaran yang sesuai
dengan perkembangan peserta didik (teori belajar kognitifistik)
b. Pembelajaran akan efektif apabila dapat mengaktifkan peserta
didik dalam segala ranah potensi peserta didik (teori belajar
kognitifistik)
c. Pembelajaran akan efektif apabila dapat memperlakukan peserta didik secara manusiawi (teori belajar humanistik)
d. Pembelajaran akan efektif apabila dapat membantu peserta
didik untuk mampu mengkonstruksi sendiri pengetahuan yang
dipelajari (teori belajar kontruktivisme)
e. Pembelajaran akan efektif apabila dapat menyentuh seluruh
potensi peseta didik (holistic learning)
f. Pembelajaran akan efektif apabila sesuai dengan keragaman
potesi kecerdasan peserta didik (multiple intelligence)
g. Pembelajaran akan efektif apabila mampu mengembangkan
kemampuan peserta didik untuk berkolaborasi dalam belajar
(collaborative learning)
h. Pembelajaran akan efektif apabila didukung dengan lingkungan yang kondusif (behaviorisme)
Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut sistem beserta komponen-komponen sistem pembelajaran tidak boleh bertentangan.
Karena akan merubah desain sistem yang telah dibuat.
2.

Mengidentifikasi karakteristik peserta didik
Pentingnya pemahaman terhadap karakteristik peserta didik
antara lain didasarkan pada prinsip bahwa pembelajaran akan
efektif apabila sesuai dengan perkembangan peserta didik. Analisis
peserta didik dilakukan dengan merihat realitas belajar, tempat
belajar, dan hasil belajar peserta didik. Aspek-aspek yang diungkap
dalam mengidentifikasi peserta didik adalah bakat, minat, motvasi
BAB 3 Desain dan Model Pembelajaran | 27

belajar, gaya belajar, kemampuan berfikir dan sikap. Yang secara
keseluruhan disebut kemampuan awal (entry behavior).
3.

Menganalisis kondisi awal sistem dan kebutuhan
pembelajaran (Need Assesment)
Kajian kondisi awal sistem pembelajaran terdiri dari kurikulum, sarana prasarana, sumber belajar, serta kondisi lingkungan,
baik fisik maupun psikis.
Aspek –aspek yang dianalisis dalam kondisi awal sistem yaitu:
tujuan, materi, metode, sumber belajar, dan sistem evaluasi yang telah ada atau yang telah ditetapkan oleh pihak yang berwenang.
Misalkan bagaimana sarana pendukungnya? Apa probem-problem
yang selama ini dihadapi? Dan sebagainya. Analisis kondisi awal sistem pembelajaran sangat berguna untuk membangun sistem pembelajaran yang realistis.
Setelah memahami kondisi awal sistem pembelajaran, langkah
selanjutnya yaitu melakukan need assessmen atau menganalisis kebutuhan. Analis kebutuhan digunakan untuk meningkatkan efektifitas
pembelajaran.
4.

Merumuskan tujuan umum pembelajaran
Tujuan pembelajaran merupakan arah dan informasi mengenai apa yang telah dapat dilakukan peserta didik setelah mengikuti tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran umum atau
Standart Kompetensi dalam KTSP dan Kompetensi Inti dalam K13 harus mencakup seluruh kemampuan yang diharapkan dan dapat dicapai oleh peserta didik setelah mengikuti satu program mata
pelajaran, baik kemampuan kognitif, afektif, maupun psikomotor.
Proses desain tujuan umum pembelajaran dapat dilakukan dengan mempertimbangkan serangkaian tujuan pembelajaran. tujaun
pembelajaran dapat ditemukan dari analisis kebutuhan, kesulitan28 | PERENCANAAN PEMBELAJARAN Sesuai Kurikulum KTSP dan K-13

kesulitan peserta didik dalam proses pembelajaran, analisis yang dilakukan oleh guru-guru mata pelajaran, keperluan pembelajaran
yang aktual dari kurikulum serta pendekatan tujuan pembelajaran.
Pendekatan tujuan pembelajaran dapat dibedakan menjadi
tiga, yaitu: pendekatan akademik, pendekatan teknologi, dan pendekatan humanistik.
Pendekatan akademik merupakan proses pembelajaran yang
bertujuan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik menguasai dan mengembangkan ilmu (materi pelajaran) seluas dan sedalam mungkin sesuai dengan perkembangan disiplin ilmu tersebut.
Pendekatan teknologi merupakan proses pembelajaran yang
bertujuan memberikan kemampuan peserta didik untuk dapat menerapkan ilmu dan melaksanakan tugas-tugas yang bersifat
operasional.
Sedangkan pendekatan humanistik adalah proses pendidikan
dan pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan kepribadian peserta didik. Tujuan utama pendidikan dan pembelajarannya adalah membangun karakter peserta didik agar menjadi manusia yang memiliki karakter dan integritas.
5.

Merumuskan tujuan spesifik (khusus) pembelajaran dan
indikator hasil belajar
Tujuan umum akan diperinci lagi menjadi tujuan khusus yang
lebih spesifik. Tujuan khusus pembelajaran terdiri dari Kompetensi
Dasar dan indikator keberhasilan yang merupakan turunan dari
Standar Kompetensi atau Kompetensi Inti.
Fungsi dari tujuan spesifik adalah untuk memperjelas isi dari
tujuan umum. Tujuan spesifik berguna untuk menentukan materi
dan bahan ajar, strategi pembelajaran, sumber belajar, dan penyusunan instrumen evaluasi hasil belajar secara tepat.
BAB 3 Desain dan Model Pembelajaran | 29

Tujuan spesifik pembelajaran dapat diterapkan ke dalam tiga
ranah dalam prespektif taksonomi Bloom yaitu : ranah kognitif,
ranah afektif, dan ranah psikomotor. 27 a) Cognitive Domain (Ranah
Kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pengertian, dan keterampilan berpikir. b) Affective Domain (Ranah Afektif) berisi perilaku-perilaku
yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap,
apresiasi, dan cara penyesuaian diri. c) Psychomotor Domain (Ranah
Psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan
mengoperasikan mesin.
a. Ranah kognitif
Ranah kognitif menitik beratkan pada proses intelektual
peserta didik. Bloom mengemukakan jenjang tujuan kognitif mulai
dari yang sederhana sampai yang paling kompleks. Berikut enam
jenjang menurut Bloom :

27

Moh. Sahlan, Evaluasi Pembelajaran, (Jember : Stain Press, 2013), 21.

30 | PERENCANAAN PEMBELAJARAN Sesuai Kurikulum KTSP dan K-13

Pertama pengetahuan (knowledge), merupakan tingkatan terendah, yang berhubungan dengan kemampuan mengingat apa
yang telah diperolehnya.
Kedua, pemahaman (comprehension), merupakan kemampuan
untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. memahami adalah mengetahui tentang sesuatu
dan dapat melihatnya dari berbagai segi. Seseorang peserta didik dikatakan memahami sesuatu apabila ia dapat memberikan penjelasan
atau memberi uraian yang lebih rinci tentang hal itu dengan menggunakan kata-katanya sendiri.
Ketiga, penerapan (application), merupakan kemampuan menggunakan atau menerapkan materi yang sudah dipelajari pada situasi
yang baru dan menyangkut penggunaan aturan dan prinsip.
Keempat, analisis (analysis), merupakan kemampuan untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagianbagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan di antara
bagian-bagian atau faktor-faktor yang satu dengan faktor-faktor
lainnya.
Kelima, sintesis (synthesis), merupakan kemampuan berfikir yang
merupakan kebalikan dari proses berfikir analisis. Sisntesis merupakan suatu proses yang memadukan bagian-bagian atau unsur-unsur
secara logis, sehingga menjelma menjadi suatu pola yang yang berstruktur atau berbentuk pola baru.
Keenam, evaluasi (Evaluation), merupakan jenjang berpikir paling tinggi dalam ranah kognitif dalam taksonomi Bloom. Penilaian/
evaluasi disini merupakan kemampuan untuk membuat pertimbangan terhadap suatu kondisi, misalnya jika seseorang dihadapkan
pada beberapa pilihan maka ia akan mampu memilih satu pilihan
yang terbaik sesuai dengan patokan-patokan atau kriteria yang ada.

BAB 3 Desain dan Model Pembelajaran | 31

b.

Ranah Afektif
Ranah afektif berkaitan dengan sikap, perasaaan, dan nilai.
Ciri-ciri hasil belajar afektif akan nampak pada perubahan tingkah
laku peserta didik. Ranah afektif terbagi menjadi 5 jenjang, yaitu :
Pertama, penerimaan (receiving) merupakan kepekaan seseorang
dalam menerima rangsangan (stimulus) dari luar yang datang
kepada dirinya dalam bentuk masalah, situasi, gejala dan lain-lain.
Kedua, tanggapan (responding) merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mengikut sertakan dirinya secara aktif
dalam fenomena tertentu dan membuat reaksi terhadapnya salah
satu cara.
Ketiga, menilai atau menghargai (valuing) merupakan memberikan nilai atau memberikan penghargaan terhadap suatu kegiatan atau obyek. Dalam kaitan dalam proses belajar mengajar, peserta didik disini tidak hanya mau menerima nilai yang diajarkan tetapi mereka telah berkemampuan untuk menilai konsep atau fenomena, yaitu baik atau buruk.
Keempat, pengorganisasian (organization) merupakan mempertemukan perbedaan nilai sehingga terbentuk nilai baru yang universal, yang membawa pada perbaikan umum.
Kelima, karakterisasi berdasarkan nilai-nilai (characterization by
value complex), merupakan tingkatan domain afektif tertinggi. Tiingkatan ini merupakan kemampuan individu yang memiliki sistem
nilai untuk menyelaraskan perilaku individu sesuai dnegan sistem
nilai tertentu. Seperti sikap objektif.
c. Ranah Psikomotor
Ranah psikomotor adalah kemampuan yang dihasilkan oleh
fungsi motorik manusia yaitu berupa keterampilan untuk melakukan sesuatu. Keterampilan melakukan sesuatu tersebut, meliputi keterampilan motorik, keterampilan intelektual, dan keterampilan
sosial.
32 | PERENCANAAN PEMBELAJARAN Sesuai Kurikulum KTSP dan K-13

Berikut klasifikasi ranah psikomotor, yaitu :
Pertama, presepsi (perception), sebagai tingkatan terendah yang
berhubungan dengan penggunaan indera dalam melakukan suatu
kegiatan tertentu.
Kedua, kesiapan (set), berkaitan dengan kesiapan seseorang dalam mengerjakan suatu kegiatan tertentu. Kesiapan ini meliputi kesiapan mental, jasmani, atau emosi dalam melakukan tindakan.
Ketiga, mekanisme (mechanism), respon fisik yang sudah dipelajari dan sudah menjadi kebiasaan. Gerakan yang ditampilkan menunjukkan kepada suatu kemahiran. Seperti menghalus, kepandaian
menari, menulis dan sejenisnya.
Keempat, respon terbimbing (guided response), berkaitan dengan
peniruan seseorang dengan kegiatan tertentu. Misalnya: mengikuti,
mengulangi, melakukan dan sejenisnya terhadap perbuatan orang
lain.
Kelima, respon yang kompleks (complex overt response), berhubungan dengan penampilan motorik dengan ketrampilan penuh,
cepat, dan dengan hasil baik.
Kelima, penyesuaian (adaptation),berkenaan dengan ketrampilan
individu yang sudah berkembang sehingga orang yang bersangkutan dapat merubah pola gerakannya dengan situasi baru.
Ketujuh, penciptaan (origination), sebagai tingkatan tertinggi dalam aspek psikomotor yang menunjukkan penciptaan pada gerakan
baru untuk disesuaikan dengan situasi atau masalah tertentu, dimana gerakan tadi biasanya dapat dilakukan oleh orang yang mempunyai ketrampilan tinggi.

BAB 3 Desain dan Model Pembelajaran | 33

6.

Pemilihan dan penyusunan topik materi atau materi
pokok bahasan
Topik materi atau pokok bahasan adalah judul-judul bahasan
yang akan diajarkan. Proses pemilihan topik materi menurut Zainal
arifin perlu mempertimbangkan prinsip-prinsip sebagai berikut :
a. Materi harus relevan dengan tujuan pembelajaran.
b. Materi harus sesuai dengan perkembangan dan kebebutuhan
peserta didik.
c. Materi harus bersifat kontesktual atau sesuai dengan situasi
yang dihadapi oleh peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
d. Materi harus disusun sedemikian rupa sedemikian rupa sehingga memungkinkan bagi peserta didik untuk mengembangkan
pola belajar mendalam (deeply learning).
e. Antara satu materi dengan materi yang lain harus saling berkaitan atau memiliki hubungan erat untuk mendukung pencapaian tujuan umum pembelajaran.
f. Cakupan materi harus sesuai dengan alokasi waktu yang tersedia.28
7.

Penyiapan dan penyusunan bahan ajar
Bahan ajar adalah materi yang akan diajarkan kepada peserta
didik yang telah dipillih (diseleksi), atau bahan ajar adalah materi
(pesan-pesan) yang harus dipelajari dan dipahami oleh peserta
didik.
Bahan ajar dapat dituangkan dalam berbagai bentuk, antara
lain :
a. Bahan cetak, seperti : handout, buku, modul, lembar kerja
siswa, brosur, leaflet, wallchart.
b. Audio visual, seperti ; video/film,VCD.
28

Zainal Arifin Ahmad, Perencanaan Pembelajaran, 97.

34 | PERENCANAAN PEMBELAJARAN Sesuai Kurikulum KTSP dan K-13

c.
d.
e.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Audio, seperti ; radio, kaset,CD audio, PH.
Visual, seperti : foto, gambar, model/market.
Multimedia, seperti : CD Interaktif, computer based, internet.
Bahan ajar sebaiknya memuat hal-hal sebagai berikut :
Identitas materi pelajaran : judul, MP, SK/KI, KD, Indikator
tempat.
Petunjuk belajar (petunjuk siswa/guru).
Tujuan yang akan dicapai
Informasi pendukung
Latihan-latihan
Petunjuk kerja
Penilaian

8.

Menyusun dan mengembangkan instumen evaluasi
hasil belajar
Evaluasi adalah suatu proses berkelanjutan tentang pengumpulan dan penafsiran informasi untuk menilai (assess) keputusankeputusan yang dibuat dalam merancang suatu sistem pengajaran.29
Secara umum, evaluasi dimaksudkan untuk melihat sejauh
mana kemajuan belajar para siswa telah tercapai dalam program
pendidikan yang telah dilaksanakannya. Tujuan evaluasi adalah
untuk mengetahui efektivitas proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. Sedangkan fungsi dari evaluasi adalah untuk menentukan kemajuan atau hasil belajar siswa, untuk menepatkan para siswa
ke dalam situasi belajar mengajar yang tepat dan serasi dengan
tempat kemampuan, minat, dan berbagai karakteristik yang dimili
oleh setiap siswa, untuk mengetahui latar belakang siswa (psikis,

29

Oemar hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan
Sistem, (Jakarta : Bumi Aksara, 2011), 210.

BAB 3 Desain dan Model Pembelajaran | 35

fisik, dan lingkungan), sebagai umpan balik bagi guru untuk memperbaiki proses pembelajaran di dalam kelas.30
Beberapa hal yang juga harus dipertimbangkan dalam penyusunan instrument evaluasi adalah prinsip-prinsip penyusunan,
yang berupa : prinsip kontinuitas (keberlanjutan), komprehensif
(mencakup), objektivitas (sesuai dengan realitas), kooperatif (kerjasama), mendidik, akuntabilitas (bisa dipertanggung jawabkan), dan
praktis.
9.

Mengidentifikasi dan menyiapkan media pembelajaran
dan sumber dalam belajar
Peningkatkan efektifitas dan efisiensi pembelajaran diperlukan
media dan sumber belajar. Media pembelajarn berguna untuk memudahkan proses pembelajaran dalam rangka mengefektifkan
komunikasi antara guru dan murid. Sedangkan sumber belajar dapat diartikan sebagai informasi yang disajikan dan disimpan dalam
berbagai bentuj media, yang dapat membantu siswa dalam belajar
dan sebagai perwujudan dari kurikulum.
10. Mengidentifikasi dan mengembangkan strategi/metode
pembelajaran
Strategi pembelajaran merupakan cara atau jalan yang dilalui
untuk mencapai tujuan pendidikan. Strategi mencakup perencanaan, dan segala upaya yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Strategi dipilih dan digunakan guru dalam menyampaikan
bahan pelajaran (materi) dalam rangka mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Setiap guru harus memiliki berbaagai model strategi

30

Oemar hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan
Sistem, 212.

36 | PERENCANAAN PEMBELAJARAN Sesuai Kurikulum KTSP dan K-13

yang bervariasi sehingga dapat mudah memilih strategi pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan kondisi-kondisi yang ada.
11. Implementasi Pembelajaran
Fase implementasi merupakan fase dimana seorang pendidik
memiliki gambaran jelas mengenai komponen-komponen sistem
pembelajaran. Mereka sudah merencanakan gambaran pembelajaran yang akan dilalui dengan membuat perangkat perencanaan
pembelajaran yang operasional. Perangkat pembelajaran yang
operasional disini meliputi : program tahunan, program semester,
silabus, dan Rencana Pelaksanaan pembelajaran (RPP).
12. Evaluasi sistem pembelajaran
Evaluasi sistem pengejaran merupakan evaluasi terhadap seluruh atau sebagian komponen-komponen sistem pengajaran, mulai dari penetapan tujuan sampai dengan penetapan evaluasi hasil
belajar. Evaluasi sistem pembelajaran ini biasa disebut juga dengan
evaluasi program (program evaluation). Program pembelajaran merupakan suatu rencana pembelajaran yang dijadikan sebuah landasan atau pedoman dalam melaksanakan proses pembelajaran.
Program pembelajaran juga memiliki kelmahan dan kelebihan oleh
karena itu program pembelajaran juga membutuhkan sebuah evaluasi program pembelajaran agar kelemahan yang terjadi tidak terulang kembali.
Program yang dapat dievaluasi paling tidak meliputi : a) input
(masukan), b) materi atau kurikulum, c) guru, d) metode atau pendekatan dalam mengajar, e) sarana, f) lingkungan.

BAB 3 Desain dan Model Pembelajaran | 37

38 | PERENCANAAN PEMBELAJARAN Sesuai Kurikulum KTSP dan K-13

Bab

4

KURIKULUM TINGKAT SATUAN
PENDIDIKAN (KTSP)
DAN KURIKULUM 2013 (K-13)

A. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
Menurut Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, kurikulum adalah seperangkat rencana
dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara
yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.31
Kurikulum merupakan komponen yang penting dan harus ada
dalam pendidikan. Kurikulum merupakan pedoman yang akan me31

Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional Bab I , Pasal 1: 19

BAB 4 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Kurikulum 2013 (K-13) | 39

mandu dan membawa kearah mana pendidikan itu dilaksanakan.32
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) adalah kurikulum
operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing
satuan pendidikan. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)
terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur
dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus.33
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang diberlakukan sejak tahun 2007 memberikan keluasan kepada guru
dan sekolah (lembaga tingkat satuan pendidikan) untuk mengembangkannya. Guru dan sekolah diberikan kebebasan untuk berkreasi dengan berpatokan pada standar isi, standar kompetensi lulusan, dan panduan penyusunan kurikulum yang ditetapkan oleh
pemerintah dalam hal ini Badan Standar Nasional Pendidikan
(BSNP).
Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), KTSP
dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1.

Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan
kepentingan peserta didik dan lingkungannya
Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta
didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut
pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan po32

S. Nasution, Asas-asas kurikulum, (Jakarta : Bumi Aksara, 2011), 5.
Badan Standart Nasional Pendidikan, Panduan Umum KTSP untuk
Pendidikan Dasar dan Menengah, (Jakarta : BSNP, 2006), 5.
33

40 | PERENCANAAN PEMBELAJARAN Sesuai Kurikulum KTSP dan K-13

tensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik
serta tuntutan lingkungan. Memiliki posisi sentral berarti kegiatan
pembelajaran berpusat pada peserta didik.
2.

Beragam dan terpadu
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman
karakteristik peserta didik, kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan, serta menghargai dan tidak diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan
jender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib
kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu,
serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antar substansi.
3.

Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan,
teknologi dan seni
Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu
pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara dinamis. Oleh
karena itu, semangat dan isi kurikulum memberikan pengalaman
belajar peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
4.

Relevan dengan kebutuhan kehidupan
Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh karena
itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.
BAB 4 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Kurikulum 2013 (K-13) | 41

5.

Menyeluruh dan berkesinambungan
Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antar semua jenjang
pendidikan.
6.

Belajar sepanjang hayat
Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan peserta didik agar mampu dan mau
belajar yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal,
dan informal dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia
seutuhnya.
7.

Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan
daerah
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).34

34

Badan Standart Nasional Pendidikan, Panduan Umum KTSP untuk Pendidikan Dasar dan Menengah, 6-8.

42 | PERENCANAAN PEMBELAJARAN Sesuai Kurikulum KTSP dan K-13

B. Komponen – komponen KTSP
Komponen-komponen KTSP meliputi : Tujuan Pendidikan
Tingkat Satuan Pendidikan, Struktur dan Muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Dan Kalender akademik.35
1.

Tujuan Pendidikan Tingkat Satuan Pendidikan
Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu kepada tujuan umum pendidikan
berikut:
a. Tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan
untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
b. Tujuan pendidikan menengah adalah meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.
c. Tujuan pendidikan menengah kejuruan adalah meningkatkan
kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya.36

35

Badan Standart Nasional Pendidikan, Panduan Umum KTSP untuk Pendidikan Dasar dan Menengah, (Jakarta : BSNP, 2006), 9.
36
Badan Standart Nasional Pendidikan, Panduan Umum KTSP untuk Pendidikan Dasar dan Menengah, 6-8.

BAB 4 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Kurikulum 2013 (K-13) | 43

2.

Struktur dan Muatan Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan
Struktur dan muatan KTSP pada jenjang pendidikan dasar
dan menengah yang tertuang dalam SI meliputi lima kelompok mata pelajaran sebagai berikut:37
a. Kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia
b. Kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian
c. Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi
d. Kelompok mata pelajaran estetika
e. Kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga dan kesehatan
Kelompok mata pelajaran tersebut dilaksanakan melalui muatan dan/atau kegiatan pembelajaran sebagaimana diuraikan dalam
PP 19/2005 Pasal 7. Muatan KTSP meliputi sejumlah mata pelajaran yang keluasan dan kedalamannya merupakan beban belajar
bagi peserta didik pada satuan pendidikan. Di samping itu materi
muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri termasuk ke dalam
isi kurikulum.
1) Mata pelajaran
Mata pelajaran beserta alokasi waktu untuk masing-masing
tingkat satuan pendidikan berpedoman pada struktur kurikulum
yang tercantum dalam SI.
2) Muatan Lokal
Muatan lokal merupakan kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas dan potensi
daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak sesuai
menjadi bagian dari mata pelajaran lain dan atau terlalu banyak sehingga harus menjadi mata pelajaran tersendiri. Substansi muatan
lokal ditentukan oleh satuan pendidikan, tidak terbatas pada mata
37

Badan Standart Nasional Pendidikan, Panduan Umum KTSP untuk
Pendidikan Dasar dan Menengah, (Jakarta : BSNP, 2006), 11.

44 | PERENCANAAN PEMBELAJARAN Sesuai Kurikulum KTSP dan K-13

pelajaran keterampilan. Muatan lokal merupakan mata pelajaran, sehingga satuan pendidikan harus mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar untuk setiap jenis muatan lokal
yang diselenggarakan. Satuan pendidikan dapat menyelenggarakan
satu mata pelajaran muatan lokal setiap semester. Ini berarti bahwa
dalam satu tahun satuan pendidikan dapat menyelenggarakan dua
mata pelajaran muatan lokal.
3) Kegiatan Pengembangan Diri
Pengembangan diri adalah kegiatan yang bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan
dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, minat,
setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan/atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk
kegiatan ekstrakurikuler.
Kegiatan pengembangan diri dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah
diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karier
peserta didik serta kegiatan keparamukaan, kepemimpinan, dan
kelompok ilmiah remaja. Khusus untuk sekolah menengah kejuruan pengembangan diri terutama ditujukan untuk pengembangan
kreativitas dan bimbingan karier.
Pengembangan diri untuk satuan pendidikan khusus menekankan pada peningkatan kecakapan hidup dan kemandirian sesuai
dengan kebutuhan khusus peserta didik. Pengembangan diri bukan
merupakan mata pelajaran. Penilaian kegiatan pengembangan diri
dilakukan secara kualitatif artinya dalam bentuk narasi, tidak kuantitatif atau dalam bentuk angka-angka seperti pada mata pelajaran.

BAB 4 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Kurikulum 2013 (K-13) | 45

3.

Kalender Pendidikan
Satuan pendidikan dasar dan menengah dapat menyusun
kalender pendidikan sesuai dengan kebutuhan daerah, karakteristik
sekolah, kebutuhan peserta didik dan masyarakat, dengan memperhatikan kalender pendidikan sebagaimana yang dimuat dalam
Standar Isi.38

C. Kurikulum 2013 (K-13)
Kurikulum 2013 (K-13) merupakan kurikulum yang berbasis
karakter. Pemerintah menetapkan pendidikan karakter pada kurikulum 2013 dengan tujuan untuk meningkatkan mutu proses dan
hasil pendidikan, yang mengarah pada pembentukan budi pekerti
dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang,
sesuai dengan standar kompetensi lulusan pada setiap satuan pendidikan.39
Kurikulum 2013 merupakan suatu kebijakan dari pemerintah
dalam bidang pendidikan yang diharapkan mampu untuk menjawab tantangan dan persoalan yang akan dihadapi oleh bangsa Indonesia kedepan. Kurikulum 2013 diharapkan mampu memberikan keseimbangan pada aspek sikap (spiritual dan sosial), aspek
pengetahuan, dan aspek ketrampilan, sehingga kurikulum 2013 dapat menjawab permasalahan pembelajaran yang selama ini dlam
prakteknya cenderung mengutamakan aspek kognitif saja.
Melalui implementasi Kurikulum 2013 yang berbasis kompetensi sekaligus berbasis karakter, dengan pendekatan tematik dan
kontekstual diharapkan peserta didik mampu secara mandiri me38

Badan Standart Nasional Pendidikan, Panduan Umum KTSP untuk Pendidikan Dasar dan Menengah, (Jakarta : BSNP, 2006), 14.
39
E. Mulyasa, Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013, (Bandung
: Remaja Rosdakarya, 2015), 7.

46 | PERENCANAAN PEMBELAJARAN Sesuai Kurikulum KTSP dan K-13

ningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan
menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan
akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.
Karakteristik merupakan ciri khas yang terdapat dalam kurikulum 2013. Adapun karakteristik kurikulum 2013, yaitu :
1. Mengembangkan keseimbangan antara pengembangan sikap
spiritual dan sosial, rasa ingin tahu, kreativitas, kerjasama dengan kemampuan intelektual dan psikomotorik.
2. Sekolah merupakan bagian dari masyarakat yang mmeberikan
pengalaman belajar terencana dimana peserta didik menetapkan apa yang dipelajari di sekolah ke masyarakat dan memanfaatkan masyarakat sebagai sumber belajar.
3. Mengembangkan sikap, pengetahuan, dan ketrampilan serta
menerapkannya dalam berbagai situasi di sekolah dan masyarakat.
4. Mmeberi waktu yang cukup leluasa untuk mengembangkan
berbagai sikap, penegtahuan, dan ketrampilan.
5. Kompetensi dinyatakan dalam bentuk kompetensi inti kelas
yang dirinci lebih lanjut dalam kompetensi dasar mata pelajaran.
6. Kompetensi inti kelas meliputi unsur pengorganisasian (organizing elements) kompetensi dasar dimana semua kompetensi dasar dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai
kompetensi yang dinyatakan dalam kompetensi inti.
7. Kompetensi dasar dikembangkan didasarkan pada prinsip
akumulatif, saling memperkuat (reinforced) dan memeperkaya
(enriched) anatar mata pelajaran dn jenjang pendidikan (organisasi horizontal dan vertical).40
40

Permendikbud No. 67 tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur
Kurikulum Sekolah Dasar/ Madrasah Ibtidaiyah.

BAB 4 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Kurikulum 2013 (K-13) | 47

D. Struktur Kurikulum 2013
Kompetensi Inti
Kompetensi Inti merupakan terjemahan atau operasionalisasi
Standar Kompetensi Lulusan dalam bentuk kualitas yang harus dimiliki oleh peserta didik yang telah menyelesaikan pendidikan pada
satuan pendidikan tertentu atau jenjang pendidikan tertentu, gambaran mengenai kompetensi utama yang dikelompokkan ke dalam
aspek sikap, ketrampilan, dan pengetahuan yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas, dan mata pelajaran.41
jadi kompetensi Inti harus menggambarkan keseimbangan antara
pencapaian hard skill dan soft skill.
Rumusan kompetensi inti menggunakan notasi sebagai
berikut:
a. Kompetensi Inti -1 (KI-1) untuk sikap spiritual
b. Kompetensi Inti-2 (KI-2) untuk kompetensi inti sikap sosial;
c. Kompetensi Inti-3 (KI-3) untuk kompetensi inti pengetahuan;
d. Kompetensi Inti-4 (KI-4) untuk kompetensi inti keterampilan.
Kompetensi yang berkenaan dengan sikap keagamaan dan
sosial dikembangkan tidak secara langsung tetapi pada waaktu peserta didik belajar tentang pengetahuan (Kompetensi Inti 3 dan penerapan pengetahuan (Kompetensi Inti 4)
Uraian tentang Kompetensi Inti untuk jenjang Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah dapat dilihat pada tabel berikut :42
1.

41

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kurikulum 2013 Kompetensi
Dasar, (Jakarta : Kemendikbud, 2013), 5.
42
Permendikbud No. 67 tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur
Kurikulum Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah.

48 | PERENCANAAN PEMBELAJARAN Sesuai Kurikulum KTSP dan K-13

Kompetensi Inti Kelas I, II, dan III
Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah
KOMPETENSI INTI KOMPETENSI INTI
KELAS I
KELAS II
1. Menerima dan
1. Menerima dan
menjalankan ajaran
menjalankan ajaran
agama yang
agama yang dianutnya
dianutnya
2. Memiliki perilaku
2. Menunjukkan
jujur, disiplin,
perilaku jujur, disiplin,
tanggung jawab,
tanggung jawab,
santun, peduli, dan
santun, peduli, dan
percaya diri dalam
percaya diri dalam
berinteraksi dengan
berinteraksi dengan
keluarga, teman, dan
keluarga, teman, dan
guru
guru
3. Memahami
3. Memahami
pengetahuan faktual
pengetahuan faktual
dengan cara
dengan cara
mengamati
mengamati
[mendengar, melihat,
[mendengar, melihat,
membaca] dan
membaca] dan
menanya
menanya berdasarkan
berdasarkan rasa
rasa ingin tahu
ingin tahu tentang
tentang dirinya,
dirinya, makhluk
makhluk ciptaan
ciptaan Tuhan dan
Tuhan dan
kegiatannya, dan
kegiatannya, dan benbenda-benda yang
da-benda yang
dijumpainya di
dijumpainya di rumah
rumah dan di
dan di sekolah
sekolah
4. Menyajikan
4. Menyajikan
pengetahuan faktual
pengetahuan faktual
dalam bahasa yang
dalam bahasa yang
jelas dan logis, dalam
jelas dan logis, dalam
karya yang estetis,
karya yang estetis,
dalam gerakan yang
dalam gerakan yang
mencerminkan anak
mencerminkan anak
sehat, dan dalam
sehat, dan dalam
tindakan yang
tindakan yang

KOMPETENSI INTI
KELAS III
1. Menerima dan
menjalankan ajaran
agama yang dianutnya
2. Menunjukkan perilaku
jujur, disiplin,
tanggung jawab,
santun, peduli, dan
percaya diri dalam
berinteraksi dengan
keluarga, teman, guru
dan tetangganya
3. Memahami
pengetahuan faktual
dengan cara
mengamati
[mendengar, melihat,
membaca] dan
menanya berdasarkan
rasa ingin tahu
tentang dirinya,
makhluk ciptaan
Tuhan dan
kegiatannya, dan benda-benda yang
dijumpainya di rumah
dan di sekolah
4. Menyajikan
pengetahuan faktual
dalam bahasa yang
jelas, sistematis dan
logis, dalam karya yang
estetis, dalam gerakan
yang mencerminkan
anak sehat, dan dalam
tindakan yang

BAB 4 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Kurikulum 2013 (K-13) | 49

KOMPETENSI INTI KOMPETENSI INTI KOMPETENSI INTI
KELAS I
KELAS II
KELAS III
mencerminkan
mencerminkan
mencerminkan
perilaku anak
perilaku anak beriman
perilaku anak beriman
beriman dan
dan berakhlak mulia
dan berakhlak mulia
berakhlak mulia

Kompetensi Inti Kelas IV, V, dan VI
Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah
1.

2.

3.

4.

Kompetensi Inti
Kelas IV
Menerima,
1.
menjalankan, dan
menghargai ajaran
agama yang
dianutnya.
Menunjukkan
2.
perilaku jujur, disiplin,
tanggungn jawab,
santun, peduli, dan
percaya diri dalam
berinteraksi dengan
keluarga, teman, guru,
dan tetangganya.
Memahami
3.
pengetahuan faktual
dengan cara
mengamati dan
menanya berdasarkan
rasa ingin tahu
tentang dirinya,
makhluk ciptaan
Tuhan dan
keinginannya, dan
benda-benda yang
dijumpainya di
rumah, di sekolah,
dan tempat bermain.
Memahami
4.
pengetahuan faktual

Kompetensi Inti
Kompetensi Inti
Kelas V
Kelas VI
Menerima,
1. Menerima,
menjalankan, dan
menjalankan, dan
menghargai ajaran
menghargai ajaran
agama yang
agama yang
dianutnya.
dianutnya.
Menunjukkan
2.Menunjukkan perilaku
perilaku jujur, disiplin,
jujur, disiplin,
tanggungn jawab,
tanggungn jawab,
santun, peduli, dan
santun, peduli, dan
percaya diri dalam
percaya diri dalam
berinteraksi dengan
berinteraksi dengan
keluarga, teman, guru,
keluarga, teman, guru,
dan tetangganya serta
dan tetangganya.
cinta tanah air.
Memahami
3. Memahami
pengetahuan faktual
pengetahuan faktual
dengan cara
dengan cara
mengamati dan
mengamati dan
menanya berdasarkan
menanya berdasarkan
rasa ingin tahu
rasa ingin tahu tentang
tentang dirinya,
dirinya, makhluk
makhluk ciptaan
ciptaan Tuhan dan
Tuhan dan
keinginannya, dan
keinginannya, dan
benda-benda yang
benda-benda yang
dijumpainya di rumah,
dijumpainya di
di sekolah, dan tempat
rumah, di sekolah,
bermain.
dan tempat bermain.
Memahami
4.Memahami
pengetahuan faktual
pengetahuan faktual

50 | PERENCANAAN PEMBELAJARAN Sesuai Kurikulum KTSP dan K-13

dengan cara
mengamati dan
menanya berdasarkan
rasa ingin tahu
tentang dirinya,
makhluk ciptaan
Tuhan dan
kegiatannya, dan benda-benda yang
dijumpainya di
rumah, di sekolah dan
tempat bermain.

dengan cara
mengamati dan
menanya berdasarkan
rasa ingin tahu
tentang dirinya,
makhluk ciptaan
Tuhan dan
kegiatannya, dan benda-benda yang
dijumpainya di
rumah, di sekolah dan
tempat bermain.

dengan cara
mengamati dan
menanya berdasarkan
rasa ingin tahu tentang
dirinya, makhluk
ciptaan Tuhan dan
kegiatannya, dan benda-benda yang
dijumpainya di rumah,
di sekolah dan tempat
bermain.

Uraian Kompetensi Inti Sekolah Menengah Pertama dan
Madrasah Tsanawiyah sebagai berikut :43
Kompetensi Inti kelas VII, VIII, IX SMP/MTS
KOMPETENSI INTI
KELAS VII
1. Menghargai dan
menghayati ajaran
agama yang dianutnya
2. Menghargai dan
menghayati perilaku
jujur, disiplin,
tanggungjawab, peduli
(toleransi, gotong
royong), santun,
percaya diri, dalam
berinteraksi secara
efektif dengan
lingkungan sosial dan
alam dalam jangkauan
pergaulan dan
keberadaannya
3. Memahami

KOMPETENSI INTI
KELAS VIII
1. Menghargai dan
menghayati ajaran
agama yang dianutnya
2. Menghargai dan
menghayati perilaku
jujur, disiplin,
tanggungjawab, peduli
(toleransi, gotong
royong), santun,
percaya diri, dalam
berinteraksi secara
efektif dengan
lingkungan sosial dan
alam dalam jangkauan
pergaulan dan
keberadaannya
3. Memahami

KOMPETENSI INTI
KELAS IX
1. Menghargai dan
menghayati ajaran
agama yang dianutnya
2. Menghargai dan
menghayati perilaku
jujur, disiplin,
tanggungjawab,
peduli (toleransi,
gotong royong),
santun, percaya diri,
dalam berinteraksi
secara efektif dengan
lingkungan sosial dan
alam dalam jangkauan
pergaulan dan
keberadaannya
3. Memahami

43

Permendikbud No. 68 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur
Kurikulum Sekolah Menengah Pertama/ Madrasah Tsanawiyah

BAB 4 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Kurikulum 2013 (K-13) | 51

pengetahuan (faktual,
pengetahuan (faktual,
konseptual, dan
konseptual, dan
prosedural)
prosedural)
berdasarkan rasa ingin
berdasarkan rasa ingin
tahunya tentang ilmu
tahunya tentang ilmu
pengetahuan,
pengetahuan,
teknologi, seni, budaya
teknologi, seni, budaya
terkait fenomena dan
terkait fenomena dan
kejadian tampak mata
kejadian tampak mata
4. Mencoba, mengolah, 4. Mencoba, mengolah, 4.
dan menyaji dalam
dan menyaji dalam
ranah konkret
ranah konkret
(menggunakan,
(menggunakan,
mengurai, merangkai,
mengurai, merangkai,
memodifikasi, dan
memodifikasi, dan
membuat) dan ranah
membuat) dan ranah
abstrak (menulis,
abstrak (menulis,
membaca,
membaca,
menghitung,
menghitung,
menggambar, dan
menggambar, dan
mengarang) sesuai
mengarang) sesuai
dengan yang dipelajari
dengan yang dipelajari
di sekolah dan sumber
di sekolah dan sumber
lain yang sama dalam
lain yang sama dalam
sudut pandang/teori
sudut pandang/teori

pengetahuan (faktual,
konseptual, dan
prosedural)
berdasarkan rasa ingin
tahunya tentang ilmu
pengetahuan,
teknologi, seni, budaya
terkait fenomena dan
kejadian tampak mata
Mencoba, mengolah,
dan menyaji dalam
ranah konkret
(menggunakan,
mengurai, merangkai,
memodifikasi, dan
membuat) dan ranah
abstrak (menulis,
membaca,
menghitung,
menggambar, dan
mengarang) sesuai
dengan yang dipelajari
di sekolah dan sumber
lain yang sama dalam
sudut pandang/teori

Uraian Kompetensi Inti SMA/SMK/MA sebagai berikut :44
Kompetensi Inti kelas X, XI, XII SMA/SMK/MA
KOMPETENSI
KOMPETENSI
KOMPETENSI INTI
INTI KELAS X
INTI KELAS XI
KELAS XII
1. Menghayati dan
1. Menghayati dan
1. Menghayati dan
mengamalkan ajaran
mengamalkan
mengamalkan ajaran agama
agama yang
ajaran agama yang
yang dianutnya
dianutnya
dianutnya
2. Menghayati dan
2. Menghayati dan
2. Menghayati dan
mengamalkan
mengamalkan
mengamalkan perilaku jujur,
44

Permendikbud No. 69 Tahun 2013 Tentang Kerangka Dasar dan Struktur
Kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah

52 | PERENCANAAN PEMBELAJARAN Sesuai Kurikulum KTSP dan K-13

perilaku jujur,
perilaku jujur,
disiplin, tanggungjawab,
disiplin,
disiplin,
peduli (gotong royong,
tanggungjawab,
tanggungjawab,
kerjasama, toleran, damai),
peduli (gotong
peduli (gotong
santun, responsif dan proroyong, kerjasama,
royong, kerjasama,
aktif dan menunjukkan
toleran, damai),
toleran, damai),
sikap sebagai bagian dari
santun, responsif
santun, responsif
solusi atas berbagai
dan pro-aktif dan
dan pro-aktif dan
permasalahan dalam
menunjukkan sikap
menunjukkan sikap
berinteraksi secara efektif
sebagai bagian dari
sebagai bagian dari
dengan lingkungan sosial
solusi atas berbagai
solusi atas berbagai
dan alam serta dalam
permasalahan dalam
permasalahan
menempatkan diri sebagai
berinteraksi secara
dalam berinteraksi
cerminan bangsa dalam
efektif dengan
secara efektif
pergaulan dunia.
lingkungan sosial
dengan lingkungan
dan alam serta
sosial dan alam serdalam
ta dalam
menempatkan diri
menempatkan diri
sebagai cerminan
sebagai cerminan
bangsa dalam
bangsa dalam
pergaulan dunia.
pergaulan dunia.
3. Memahami,
3. Memahami,
3. Memahami,menerapkan,
menerapkan,
menerapkan,
menganalisis pengetahuan
menganalisis
menganalisis
faktual, konseptual,
pengetahuan
pengetahuan
prosedural berdasarkan rasa
faktual, konseptual,
faktual, konseptual,
ingintahunya tentang ilmu
prosedural
prosedural
pengetahuan, teknologi,
berdasarkan rasa
berdasarkan rasa
seni, budaya, dan
ingintahunya
ingintahunya
humaniora dengan wawasan
tentang ilmu
tentang ilmu
kemanusiaan, kebangsaan,
pengetahuan,
pengetahuan,
kenegaraan, dan peradaban
teknologi, seni,
teknologi, seni,
terkait penyebab fenomena
budaya, dan
budaya, dan
dan kejadian, serta
humaniora dengan
humaniora dengan
menerapkan pengetahuan
wawasan
wawasan
procedural pada bidang
kemanusiaan,
kemanusiaan,
kajian yang spesifik sesuai
kebangsaan,
kebangsaan,
dengan bakat dan minatnya
kenegaraan, dan
kenegaraan, dan
untuk memecahkan
peradaban terkait
peradaban terkait
masalah
penyebab fenomena
penyebab
dan kejadian, serta
fenomena dan
menerapkan
kejadian, serta

BAB 4 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Kurikulum 2013 (K-13) | 53

pengetahuan procedural pada bidang
kajian yang spesifik
sesuai dengan bakat
dan minatnya untuk
memecahkan
masalah

menerapkan
pengetahuan procedural pada bidang
kajian yang spesifik
sesuai dengan bakat
dan minatnya untuk
memecahkan
masalah
4. Mengolah, menalar, 4. Mengolah, menalar, 4. Mengolah, menalar, dan
dan menyaji dalam
dan menyaji dalam
menyaji dalam ranah
ranah konkret dan
ranah konkret dan
konkret dan ranah abstrak
ranah abstrak terkait
ranah abstrak
terkait dengan
dengan
terkait dengan
pengembangan dari yang
pengembangan dari
pengembangan dari
dipelajarinya di sekolah
yang dipelajarinya di
yang dipelajarinya
secara mandiri, dan mampu
sekolah secara
di sekolah secara
menggunakan metoda
mandiri, dan
mandiri, dan
sesuai kaidah keilmuan
mampu
mampu
menggunakan
menggunakan
metoda sesuai
metoda sesuai
kaidah keilmuan
kaidah keilmuan

Mata Pelajaran
Mata pelajaran dalam Kurikulum 2013 melebur menjadi tematik integratif, yaitu penggabungan mata pelajaran berdasarkan tematema tertentu. Penggabungan tema tersebut disesuaikan dengan
Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Kurikulum 2013.
Susunan mata pelajaran untuk Sekolah Dasar/ Madrasah
Ibtidaiyah sebagai berikut :45
2.

MATA PELAJARAN
I
Kelompok A
1 Pendidikan Agama dan Budi Pekerti

4

ALOKASI WAKTU
BELAJAR
PER MINGGU
II III IV V VI
4

4

45

4

4

4

Permendikbud No. 67 tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur
Kurikulum Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah.

54 | PERENCANAAN PEMBELAJARAN Sesuai Kurikulum KTSP dan K-13

2 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
3 Bahasa Indonesia
4 Matematika
5 Ilmu Pengetahuan Alam
6 Ilmu Pengertahuan Sosial
Kelompok B
1 Seni Budaya dan Prakarya
2 Pendidikan Jasmani, Olahraga dan
Kesehatan
Jumlah Alokasi Waktu Per Minggu

5
8
5
-

5
9
6
-

6
6
6
-

4
4
6
3
3

4
4
6
3
3

4
4
6
3
3

4
4

4
4

4
4

5
4

5
4

5
4

30

32

34

36

36

36

= Pembelajaran Tematik Integratif
Keterangan :
a. Mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya dapat memuat
Bahasa Daerah
b. Selain kegiatan intrakulikuler seperti yang tercantum di dalam
struktur kurikulum, terdapat pula kegiatan ekstrakulikuler SD/
MI antara lain Pramuka (wajib), Usaha Kesehatan Sekolah,
dan Palang Merah Remaja
c. Mata pelajaran kelompok A adalah kelompok mata pelajaran
yang kontennya dikembangkan oleh pusat
d. Mata pelajaran kelompok B yang terdiri atas mata pelajarans
Seni Budaya dan Prakarya serta Pendidikan Jasmani, Olahraga,
dan Kesehatan adalah kelompok mata pelajaran yang kontennya dikembangkan oleh pusat dan dilengkapi dengan konten
lokal yang dikembangkan oleh pemerintah daerah
e. Satuan pendidikan dapat menambah jam pelajaran per minggu
sesuai dengan kebutuhan peserta didik pada satuan pendidikan
tertentu.
Susunan mata pelajaran untuk Sekolah Menengah Pertama/
Madrasah Tsanawiyah sebagai berikut :46
46

Permendikbud No. 68 Tahun 2013 tentang Kerangka Dasar dan Struktur
Kurikulum Sekolah Menengah Pertama/ Madrasah Tsanawiyah

BAB 4 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Kurikulum 2013 (K-13) | 55

MATA PELAJARAN
KELOMPOK A
1.
Pendidikan Agama dan Budi Pekerti
2.
Pendidikan
Pancasila
dan
Kewarganegaraan
3.
Bahasa Indonesia
4.
Matematika
5.
Ilmu Pengetahuan Alam
6.
Ilmu Pengetahuan Sosial
7.
Bahasa Inggris
Kelompok B
1.
Seni Budaya
2.
Pendidikan Jasmani, Olah Raga, dan
Kesehatan
3.
Prakarya
JUMLAH ALOKASI WAKTU
PER MINGGU

ALOKASI WAKTU PER
MINGGU
VII
VIII
IX
3
3

3
3

3
3

6
5
5
4
4

6
5
5
4
4

6
5
5
4
4

3
3

3
3

3
3

2
38

2
38

2
38

Keterangan:
a. Mata pelajaran Seni Budaya dapat memuat Bahasa Daerah.
b. Selain kegiatan intrakurikuler seperti yang tercantum di dalam
struktur kurikulum diatas, terdapat pula kegiatan ekstrakurikuler Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah
antara lain : Pramuka (Wajib), Usaha Kesehatan Sekolah, dan
Palang Merah Remaja.
c. Kegiatan ekstra kurikuler seperti Pramuka (terutama), Unit
Kesehatan Sekolah, Palang Merah Remaja, dan yang lainnya
adalah dalam rangka mendukung pembentukan kompetensi
sikap sosial peserta didik, terutamanya adalah sikap peduli. Disamping itu juga dapat dipergunakan sebagai wadah dalam penguatan pembelajaran berbasis pengamatan maupun dalam
56 | PERENCANAAN PEMBELAJARAN Sesuai Kurikulum KTSP dan K-13

usaha memperkuat kompetensi keterampilannya dalam ranah
konkrit. Dengan demikian kegiatan ekstra kurikuler ini dapat
dirancang sebagai pendukung kegiatan kurikuler.
d. Mata pelajaran Kelompok A adalah kelompok mata pelajaran
yang kontennya dikembangkan oleh pusat. Mata pelajaran
Kelompok B yang terdiri atas mata pelajaran Seni Budaya dan
Prakarya serta Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan
adalah kelompok mata pelajaran yang kontennya dikembangkan oleh pusat dan dilengkapi dengan konten lokal yang
dikembangkan oleh pemerintah daerah.
e. Bahasa Daerah sebagai muatan lokal dapat diajarkan secara
terintegrasi dengan mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya
atau diajarkan secara terpisah apabila daerah merasa perlu untuk memisahkannya. Satuan pendidikan dapat menambah jam
pelajaran per minggu sesuai dengan kebutuhan satuan pendidikan tersebut.
f. Sebagai pembelajaran tematik terpadu, angka jumlah jam pelajaran per minggu untuk tiap mata pelajaran adalah relatif.
Guru dapat menyesuaikannya sesuai kebutuhan peserta didik
dalam pencapaian kompetensi yang diharapkan.
g. Jumlah alokasi waktu jam pembelajaran setiap kelas merupakan jumlah minimal yang dapat ditambah sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
h. Khusus untuk matapelajaran Pendidikan Agama di Madrasah
Tsanawiyah dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan
yang ditetapkan oleh Kementerian Agama.
Susunan Mata pelajaran SMA/SMK/MA/MAK sebagai
berikut :47
47

Permendikbud No. 69 Tahun 2013 Tentang Kerangka Dasar dan Struktur
Kurikulum Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah

BAB 4 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Kurikulum 2013 (K-13) | 57

MATA PELAJARAN
KELOMPOK A (Wajib)
1.
Pendidikan Agama dan Budi Pekerti
2.
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
3.
Bahasa Indonesia
4.
Matematika
5.
Sejarah Indonesia
6.
Bahasa Inggris
Kelompok B
1.
Seni Budaya
2.
Pendidikan Jasmani, Olah Raga, dan Kesehatan
3.
Prakarya dan Kewirausahaan
Jumlah Jam Pelajaran Kelompok A dan B perminggu
Mata Pelajaran Peminatan Akademik (Sekolah
Menengah Atas/Madrasah Aliyah)
Mata Pelajaran Peminatan Akademik dan Vokasi
(Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah)
Jumlah jam pelajaran yang harus ditempuh perminggu
(Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah)
Jumlah jam pelajaran yang harus ditempuh perminggu
(Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah
Kejuruan)

ALOKASI WAKTU
PER MINGGU
X
XI
XII
3
2
4
4
2
2

3
2
4
4
2
2

3
2
4
4
2
2

2
3
2
24

2
3
2
24

2
3
2
24

18

20

20

24

24

24

42

44

44

48

48

48

Keterangan:
a. Mata pelajaran Kelompok A dan C adalah kelompok mata
pelajaran yang substansinya dikembangkan oleh pusat. Mata
pelajaran Kelompok B adalah kelompok matapelajaran yang
substansinya dikembangkan oleh pusat dan dapat dilengkapi
dengan muatan local yang dikembangkan oleh pemerintah
daerah.

58 | PERENCANAAN PEMBELAJARAN Sesuai Kurikulum KTSP dan K-13

b.

Kegiatan Ekstrakurikuler Sekolah Menengah Atas/Madrasah
Aliyah, Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan: Pramuka (wajib), OSIS, UKS, PMR, dan lain-lain, diatur lebih lanjut dalam bentuk Pedoman Program Ekstrakurikuler.

Beban Belajar
Beban belajar dinyatakan dalam jam belajar setiap minggu
untuk masa belajar selama satu semester. Beban belajar di SD/MI
kelas I, II, II masing-masing 30, 32, 34 sedangkan untuk kelas IV,
V, dan VI masing-masing 36 jam setiap minggu. Satu jam pelajaran
di SD/MI adalah 35 menit.
Beban belajar di SMP/MTS untuk kelas VII, VIII, IX yaitu 38
jam dengan durasi waktu satu jam pelajaran 40 menit. Sedangkan
untuk SMA/SMK/MA/MAK beban belajar untuk kelas X adalah
42 jam dan kelas XI,XII adalah 44 jam pelajaran dengan durasi
waktu 45 menit per satu jam pelajaran.
Adanya tambahan jam belajar dan pengurangan jumlah Kompetensi Dasar dalam Kurikulum 2013 memberikan kesempatan kepada guru untuk mengembangkan proses pembelajaran yang berorientasi siswa aktif. Proses pembelajaran siswa aktif memerlukan
waktu yang panjang karena penyampaian informasi kepada peserta
didik perlu adanya latihan untuk mengamati, menanya, mencoba,
mengasosiasi, dan berkomunikasi. Sehingga siswa akan memperoleh pemahaman yang lebih tentang materi yang dipelajari berdasarkan pengalaman yang mereka peroleh dari proses mengamati,
menanya, mencoba, mengasosiasi dan mengkomunikasikan.
3.

BAB 4 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Kurikulum 2013 (K-13) | 59

Kompetensi Dasar
Kompetensi dasar merupakan kompetensi setiap mata pelajaran untuk setiap kelas yang diturunkan dari Kompetensi Inti.
Kompetensi Dasar merupakan kompetensi yang terdiri atas sikap,
ketrampilan, dam pengetahuan yang bersumber pada Kompetensi
Inti yang harus dikuasai peserta didik.48 Kompetensi tersebut dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik peserta didik, kemampuan awal, serta ciri dari suatu mata pelajaran.
Kompetensi Dasar merupakan kompetensi setiap mata pelajaran untuk setiap kelas yang diturunkan dari Kompetensi Inti.
Kompetensi Dasar di SD/MI untuk setiap mata pelajaran mencakup mata pelajaran : Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Seni
budaya dan Prakarya, dan Pendidikan jasmani, Olahraga, dan Kesehatan.
4.

48

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kurikulum 2013 Kompetensi
Dasar, 8.

60 | PERENCANAAN PEMBELAJARAN Sesuai Kurikulum KTSP dan K-13

Bab

5

PERANGKAT PEMBELAJARAN

A. Pengertian Perangkat Pembelajaran
Perangkat adalah sejumlah bahan, alat, media, petunjuk dan
pedoman yang akan digunakan dalam proses pencapaian kegiatan
yang diinginkan. Pembelajaran adalah sebagai proses belajar yang
dibangun oleh pendidik untuk mengembangkan kreativitas berpikir
yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik, serta
dapat meningkatkan kemampuan mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan pengetahuan.49

49

http://blog.sunan-ampel.ac.id/muhammadthohir/tag/perangkatpembelajaran/

BAB 5 Perangkat Pembelajaran | 61

Perangkat pembelajaran berarti serangkaian media/ sarana
yang digunakan dan dipersiapkan oleh pendidik dan peserta didik
dalam proses pembelajaran di kelas, berikut ini akan dibahas tentang perangkat pembelajaran sebagai berikut :

B. Silabus
Pengertian silabus Secara Etimologis, silabus berarti “label”
atau daftar isi (table of contents). The American Heritage Dictionary mengartikan silabus sebagai outline of a course of study (garis-garis besar
pembelajaran).50 Imas mengartikan silabus adalah seperangkat rencana dan pengaturan kegiatan pembelajaran, pengelolaan kelas dan
penilaian hasil belajar untuk satu mata pelajaran tertentu yang diajarkan selama waktu satu semester atau satu tahun.51
Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi (SK) dalam KTSP dan Kompetensi Inti (KI) dalam Kurikulum 2013, Kompetensi Dasar (KD), materi pokok/ pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi
untuk penilaian, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Selain
itu, sesuai dengan kebijakan pemerintah terbaru, silabus juga akan
berisi dua hal lain, yaitu nilai budaya & karakter bangsa, dan kewirausahaan.
Silabus merupakan kerangka inti dari setiap kurikulum yang
sedikitnya memuat tiga komponen utama sebagai berikut :
1. Kompetensi yang akan ditanamkan kepada peserta didik melalui suatu kegiatan pembelajaran.
50

Zainal Arifin Ahmad, Perencanaan Pembelajaran, (Yogyakarta : Pedagogia, 2012), 123.
51
Imas & Berlin Sani, Perancangan Pembelajaran Prosedur Pembuatan RPP
yang sesuai dengan Kurikulum 2013, (Jakarta :Kata Pena, 2013),9.

62 | PERENCANAAN PEMBELAJARAN Sesuai Kurikulum KTSP dan K-13

2.

Kegiatan yang harus dilakukan untuk menanamkan/membentuk kompetensi tersebut.
3. Upaya yang harus dilakukan untuk mengetahui bahwa kompetensi tersebut sudah dimiliki peserta didik.
Silabus dapat difahami juga sebagai rencana pembelajaran pada suatu mata pelajaran atau kelompok pelajaran yang mencakup
Standart Kompetensi (SK) dalam KTSP dan Kompetensi Inti (KI)
dalam K-13, Kompetensi Dasar (KD), materi pokok pembelajaran,
kegiatan pembelajaran.

Contoh Format Silabus :
Silabus
Nama Madrasah
Mata Pelajaran
Kelas/Program
Semester
Standar Kompetensi
No

Kompet
Kegiatan
ensi
Pembelajaran
Dasar

:
:
:
:
:
Materi
Alokasi Sumber/
Indikator Penilaian
Pembelajaran
Waktu Bahan

1
2
3
4
5

C. Kalender Pendidikan
Kalender satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan
diselenggarakan dengan mengikuti kalender pendidikan pad