Main Pendidikan Agama Islam untuk Difabel

Pendidikan Agama Islam untuk Difabel

, , ,
0 / 0
How much do you like this book?
What’s the quality of the file?
Download the book for quality assessment
What’s the quality of the downloaded files?
Keberhasilan dalam pengasuhan terhadap anak tunanetra tidak terlepas dari pola asuh yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Penanaman nilai-nilai Islam kepada anak memerlukan keterampilan khusus disertai kesabaran dan ketelatenan. Buku ini mendeskripsikan pendidikan agama Islam (PAI) untuk difabel dengan model pengasuhan di Panti Asuhan Tunanetra Terpadu Aisyiyah Ponorogo. Teori pengasuhan anak Diana Baumrind dan teori pendidikan anak dalam Islam oleh Abdullah Nashih Ulwan digunakan untuk menganalisis praktik pendidikan agama Islam untuk pengasuhan anak tunanetra di Panti Asuhan Tunanetra Terpadu Aisyiyah Ponorogo. Hasil analisis menunjukkan suatu penegasan sekaligus kritik dan memberi solusi terhadap teori pengasuhan anak oleh Diana Baumrind. Penelitian ini juga menguatkan teori pendidikan anak dalam Islam oleh Abdullah Nashih Ulwan sehingga meneguhkan temuan model pengasuhan anak. Penelitian menyimpulkan bahwa model pengasuhan yang diterapkan oleh pengasuh di dalam panti asuhan tunanetra lebih didominasi oleh model pengasuhan authoritative daripada model pengasuhan permissive dan authoritarian. Pengasuhan authoritative cukup efektif menghasilkan output dengan prestasi yang membanggakan, kemandirian, serta mengedepankan aspek religiusitas. Pengasuhan di panti tunanetra menggunakan beberapa metode, instrumen, prinsip-prinsip seperti prinsip kasih sayang, disiplin, kemandirian, dan menerapkan nilai-nilai spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari. Pelajaran yang dapat diambil adalah bahwa anak difabel (tunanetra) yang diasuh dengan menggunakan model authoritative akan menjadi lebih baik. Model pengasuhan authoritarian yang dikonotasikan negatif dan mengakibatkan hasil output yang buruk, ternyata dapat memotivasi anak tunanetra lain yang memiliki dasar kemampuan yang lebih. Penulis mengusulkan dua proposisi: Pertama, model pengasuhan authoritarian di satu sisi berdampak pada turunnya kepercayaan diri dan mentalitas anak, tetapi di sisi lain memacu motivasi anak tunanetra. Kedua, Pola asuh anak tunanetra akan berhasil secara optimal jika yang menjadi patokan adalah fleksibilitas kontrol dan responsivitas pengasuh, bukan pada pola pengasuhannya. Selanjutnya penulis menawarkan suatu model pengasuhan flexibility and adaptability of Islamic parenting style.
Year:
2020
Edition:
Pertama
Publisher:
Gestalt Media
Language:
indonesian
Pages:
253
ISBN 13:
9786239370855
File:
PDF, 2.35 MB
Download (pdf, 2.35 MB)
0 comments
 

To post a review, please sign in or sign up
You can write a book review and share your experiences. Other readers will always be interested in your opinion of the books you've read. Whether you've loved the book or not, if you give your honest and detailed thoughts then people will find new books that are right for them.
Imam

Rohani

Tobroni

PENDIDIKAN

Ishomuddin
khozin

AGAMA ISLAM

untuk

Difabel

Pendidikan Agama Islam

untuk

Difabel
Imam Rohani
Tobroni
Ishomuddin
Khozin

Pendidikan Agama Islam
untuk

Difabel

ii

Pendidikan Agama Islam untuk Difabel

Penulis
Imam Rohani
Tobroni
Ishomuddin
Khozin
Editor
Muhyidin
Desain Sampul
Roykhan Alwi
Tata Letak
Mumtaz Syakhsia
Diterbitkan oleh:

Gestalt Media
Jl. Nakula E5 Sambisari RT 04/02 Purwomartani Kalasan Sleman
Yogyakarta 55571.
Website: www.gestaltmedia.id
Email: gestaltbuku@gmail.com
Bekerja sama dengan:
Direktorat Program Pascasarjana
Universitas Muhammadiyah Malang
Jl. Raya Tlogomas No. 246 Malang, Jawa Timur
Telp. 0341464318, Faks. 0341460435
ISBN 978-623-93708-5-5
Cetakan I, Juni 2020

© Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mencetak ulang
atau memperbanyak isi buku dengan cara apa pun tanpa izin tertulis
dari penerbit.

iii

KATA PENGANTAR

Hamdan wa syukran lillah. Puji syukur sepenuhnya kepada
Allah Azza wa Jalla atas karunia serta petunjuk-Nya sehingga
buku ini dapat terselesaikan. Buku ini ditulis sebagai tugas
akhir pada Program Studi Doktor Pendidikan Agama Islam di
Universitas Muhammadiyah Malang dengan sponsor
(beasiswa) dari Kementerian Agama (Ministry of Religious
Affairs) Republik Indonesia dalam Program Beasiswa 5000
Doktor, atau dikenal dengan MORA Scholarship, angkatan
tahun 2017.
Buku ini merupakan adaptasi dari disertasi yang berjudul
“Pendidikan Agama Islam dengan Model Pengasuhan
(Pengalaman Pengasuh dan Anak Asuh di Panti Asuhan
Tunanetra Terpadu Aisyiyah Ponorogo)” yang telah diujikan
secara tertutup pada tanggal 15 Juni 2020 bertepatan dengan 23
Syawal tahun 1441 Hijriah. Maksud dari penyusunan buku ini
adalah sebagai bentuk diseminasi penulis terhadap hasil
penelitian disertasi tersebut supaya bisa dibaca oleh khalayak
umum. Melalui modifikasi yang penulis lakukan serta
menyesuaikan dengan bentuk buku ilmiah popular, penulis
bekerja keras untuk menyelesaikan buku ini di masa new normal
Pandemi Corona dan di tengah kesibukan persiap; an akreditasi
lembaga LKSA kami. Alhamdulillah semuanya adalah atas
pertolongan dari Allah.
Penulisan buku ini tidak akan terselesaikan tanpa bantuan
berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung.
iv

Sebagai bentuk takzim, penulis menyampaikan banyak terima
kasih, jazakumullah khairan katsiran, khususnya kepada:
1. Rektor, Direktur Pascasarjana, Kaprodi Doktor PAI, para
guru besar, serta para dosen dan staf Universitas
Muhammadiyah Malang yang telah mengizinkan,
memfasilitasi, dan banyak membantu penulis dalam
menyelesaikan studi.
2. Kementerian Agama Republik Indonesia, Khususnya
Direktur Pendidikan Tinggi Islam (DIKTIS) beserta
stafnya yang telah memfasilitasi penulis menyelesaikan
studi tingkat doktoral sejak tahun 2017 hingga lulus.
3. Prof. Dr. Tobroni, M.Si. selaku promotor, Prof. Dr.
Ishomuddin, M.Si. dan Dr. Khozin, M.Si. sebagai ko
promotor yang telah bersusah payah membimbing
penulis dalam penyelesaian buku.
4. Dra. Hj. Ummi Mahmudah, M.Ag., Rektor IAI Riyadlotul
Mujahidin Ngabar Ponorogo, yang telah memberikan izin
menempuh studi bagi penulis dan para teman sejawat di
“kampus pesantren” di “bumi reog” atas dukungan serta
motivasinya.
5. Teman-teman kelas doktor PAI UMM angkatan 2017
yang telah memberikan banyak motivasi, inspirasi, dan
pengalaman yang luar biasa dalam berbagai diskusi dan
perdebatan kita di kelas yang sangat produktif dan
inspiratif.
6. Kedua orang tua penulis (Bapak Jauhari dan almh. Ibu
Jumaiyah) di ‘tanah Sumatra’ OKU Timur atas semua
doanya. Istri penulis (Nailur Rohmah, S.Pd.I) serta putri
v

pertama penulis, Mahra Muhammidah yang terus
mendampingi serta memotivasi penulis hingga
terselesaikannya studi ini. Terima kasih juga kepada
saudara penulis bersebelas beserta keluarganya atas
dukungannya.
Tentunya penulisan ini masih banyak kekurangan dan
masih jauh dari kesempurnaan meskipun usaha maksimal telah
dilakukan. Kritik dan saran para pembaca dan penulis
berikutnya untuk kesempurnaan penulisan ini menjadi
harapan besar bagi penulis.

Ponorogo, Juli 2020

Penulis

vi

DAFTAR ISI

Kata Pengantar - iv
Daftar Isi - vii
Daftar Tabel - ix
Daftar Gambar - x
BAB I

PENDAHULUAN - 1
A. Latar Belakang - 1
B. Penggunaan Istilah-Istilah Kunci - 11
C. Kerangka Pikir - 13
D. Penelitian Terdahulu ‒ 15

BAB II LANDASAN TEORITIS - 31
A. Pengasuhan dan Keluarga - 31
B. Tunanetra - 91
C. Fenomenologi ‒ 104
BAB III BAGAIMANA PENELITIAN DILAKUKAN - 117
A. Jenis dan Pendekatan - 117
B. Data dan Sumber Data - 119
C. Kehadiran Peneliti - 120
D. Pengumpulan Data - 120
E. Analisis Data - 121
F. Keabsahan Temuan - 123
G. Tahap-Tahap Penelitian - 124
BAB IV POTRET PANTI ASUHAN TUNANETRA TERPADU
AISYIYAH PONOROGO - 127
A. Letak Geografis - 127
B. Sejarah Berdiri - 127
C. Visi dan Misi - 129
D. Sarana dan Prasarana - 129
E. Keadaan Anak Asuh - 130
F. Struktur Organisasi - 131
vii

BAB V MODEL PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNTUK
ANAK DIFABEL - 133
A. Model Pendidikan Agama Islam untuk Pengasuhan
Anak Difabel di Panti Asuhan Tunanetra ‒ 133
B. Makna Pendidikan Agama Islam bagi Anak Difabel
di Panti Tunanetra ‒ 200
C. Konstruk Model Pendidikan Agama Islam bagi
Anak Difabel di Panti Tunanetra ‒ 213
D. Konstruk Makna Pendidikan Agama Islam bagi
Anak Difabel di Panti Tunanetra ‒ 221
BAB VI PENUTUP - 225
A. Kesimpulan - 225
B. Proposisi - 227
C. Saran-Saran - 229
BIBLIOGRAFI - 231
BIODATA PENULIS - 249

viii

DAFTAR TABEL

dan

Tabel 1

Model Pengasuhan
terhadap Anak

Pengaruhnya

66

Tabel 2

Jadwal Pelajaran 2019/2020 Panti Asuhan
Tunanetra Terpadu ‘Aisyiyah Ponorogo

134

Tabel 3

Program Kerja Panti Asuhan Tunanetra

141

Tabel 4

Pendidikan Formal dan Nonformal Anak
Asuh Tunanetra

193

Paradigma Pengasuhan di Panti Asuhan
Tunanetra Aisyiyah

207

Tabel 5

ix

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1

Kerangka Pikir

15

Gambar 2

Ikhtisar Penelitian Terdahulu

29

Gambar 3

Teori Pengasuhan Diana Baumrind

65

Gambar 4

Metode Pengasuhan Nashih Ulwan

73

Gambar 5

Instrumen Pengasuhan di Panti
Tunanetra Terpadu Aisyiyah

Gambar 6

Fungsi Pengasuhan di Panti Tunanetra
Aisyiyah

Gambar 7

Model

178
190

Pengasuhan Flexibility and
Adaptability of Islamic Parenting Style
228

x

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Aspek penting dalam pembentukan kepribadian anak
adalah dengan memberikan pengasuhan yang tepat.
Pengetahuan dan keterampilan orang tua sangat diperlukan
agar pengasuhan dapat berikan dengan benar. Pengasuhan
meliputi banyak hal seperti pemahaman cara merawat anak,
tumbuh kembang anak, dan variasi peran orang tua dalam
kehidupan anak-anak. Pengasuhan juga meliputi pemahaman
terhadap berbagai pendekatan yang tepat untuk memenuhi
kebutuhan anak baik berupa fisik, kognitif, dan sosioemosional
pada perkembangan anak (Erlanti, Mulyana & Wibowo, 2015).
Gaya mendidik anak oleh orang tua mulai dari dalam
kandungan hingga dewasa cukup beraneka ragam.
Perkembangan fisik dan psikis seseorang sangat dipengaruhi
oleh pengasuhan yang diterapkan orang tua pada setiap
tahapan usia. Tingkah laku seorang dewasa merupakan
cerminan dari didikan orang tua pada masa kecil anak. Anak
usia prasekolah lebih membutuhkan perhatian ekstra dari
orang tua. Lembaga prasekolah biasanya mengadakan kerja
sama dengan orang tua dengan melibatkan orang tua dalam
semua aspek kegiatannya. Ini memungkinkan orang tua untuk
terlibat dalam tim konseling dan pelatihan pengasuhan anak
yang diselenggarakan oleh lembaga prasekolah. Sering kali
orang tua dapat lebih memahami orang tua lain dan membantu
mereka mengatasi kesulitan dengan menawarkan nasihat
(Pavlov, 2018).
Anak merupakan amanah yang harus dijaga, dididik,
diasuh dengan baik oleh orang tua. Membentuk kematangan
pribadi dan perilaku anak bukan tugas yang mudah bagi orang

tua. Mereka membutuhkan keterampilan, pengalaman,
kematangan pikiran, dan tingkat ekonomi yang cukup (M.
Jannah, 2015). Kemampuan orang tua dalam memberikan
pengasuhan terhadap anak tidak terlepas dari keterbatasan.
Keterbatasan tersebut dapat dialami baik oleh orang tua
maupun anak. Keterbatasan-keterbatasan yang dialami anak
dengan gangguan spektrum autis, atau anak disabilitas
misalnya, dapat menimbulkan berbagai kesulitan hingga
dibutuhkan ketangguhan orang tua dalam menjalankan
pengasuhan (N. Daulay, Ramdhani, & Hadjam, 2018).
Keterbatasan itu terkadang menimbulkan sikap frustrasi orang
tua dalam mengasuh anak mereka, merasa tersisih dan terluka
dalam hubungan keluarga (Park & Yoon, 2018), keluarga
militer misalnya cukup rentan dalam hal ini (Bóia, Marques,
Francisco, Ribeiro, & Pessoa, 2018).
Orang tua merupakan pendidik yang pertama dan yang
utama karena menjalin hubungan dan ikatan emosional yang
sangat erat dan kuat kepada anak dalam kurun waktu yang
lama serta memberi pengaruh bahkan sejak anak masih dalam
kandungan (Ariyati, 2016). Orang tua bertanggung jawab
mendidik anak agar manjadi orang yang bermanfaat bagi orang
lain sesuai kehendak Allah swt. Al-Ghazali (1980)
menyampaikan bahwa anak merupakan amanah. Amanah atas
orang tua tersebut membentuk hubungan segi tiga, orang tua
dengan Allah karena anak, anak dengan Allah karena orang
tua, anak dengan orang tua karena Allah (Barmawi, 1993).
Mendidik anak pada hakikatnya ialah melestarikan fitrah yang
dimiliki setiap manusia. Hal ini yang menunjukkan arti penting
pengasuhan sebagai sarana menjadikan anak sebagai manusia
yang sempurna.
Pengasuhan merupakan hal yang fundamental dalam
membentuk karakter anak. Teladan dan sikap orang tua sangat
dibutuhkan bagi perkembangan anak-anak karena mereka
2

melakukan modeling dan imitasi dari lingkungan terdekatnya.
Keterbukaan antara orang tua dan anak menjadi hal penting
agar dapat menghindarkan anak dari pengaruh negatif yang
ada di luar lingkungan keluarga (Adawiah, 2017). Munculnya
perilaku bermasalah pada remaja tidak terlepas dari pengaruh
kondisi orang tua (A. M. Sumargi & Kristi, 2017).
Tingginya tingkat kegagalan dalam pengasuhan dan
rendahnya tingkat kompetensi orang tua terbukti berdampak
buruk pada berbagai hasil pengasuhan anak, seperti
permasalahan eksternal dan internal anak. Program pelatihan
perilaku bagi para orang tua secara bersamaan mengurangi
meningkatkan
permasalahan
pengasuhan
sekaligus
kompetensi orang tua (Jackson & Moreland, 2018; Ünlü, Vuran,
& Diken, 2018). Salah satu solusi untuk mengurangi beban
orang tua dalam mengasuh anak adalah dengan mengadakan
pelatihan-pelatihan atau terapi seperti terapi perilaku kognitif
dan lain sebagainya yang cukup direkomendasikan karena
manfaatnya yang cukup potensial (Wong, Ng, Priscilla, Chung,
& Choi, 2018).
Pengasuhan berkaitan dengan kemampuan orang tua
dalam memberikan segenap perhatian kepada anak, waktu
luang, serta mencukupi semua kebutuhan secara fisik, sosial,
spiritual, mental, dan emosionalnya. Orang tua harus
mendampingi dan membimbing anak dalam semua tahapan
pertumbuhan dan perkembangannya. Suatu rangkaian
interaksi dan tindakan orang tua dalam menopang tumbuh
kembang anak. Praktik pengasuhan merupakan hubungan dua
arah antara orang tua sebagai pemberi pengaruh dan anak yang
dipengaruhi. Pengasuhan dilakukan berkelanjutan mencakup
berbagai ragam aktivitas yang tujuannya agar anak bisa
berkembang secara optimal (Rahmat, 2018).
Keluarga dalam subsistem masyarakat tidak akan lepas
dari interaksinya dengan subsistem-subsistem lainnya yang
3

ada, misalnya sistem ekonomi, politik, pendidikan dan agama.
Interaksinya dengan subsistem-subsistem tersebut berfungsi
untuk memelihara keseimbangan (Sari, 2015). Keluarga
merupakan lingkungan terdekat dengan anak, oleh karena itu
orang tua menjadi sorotan utama dalam memberikan
pengasuhan yang tepat dengan menciptakan lingkungan yang
aman dan kondusif bagi anak (Usmarni & Rinaldi, 2014).
Keluarga menjadi aktor yang sangat menentukan
perkembangan dan masa depan anak. Perkembangan
pendidikan sudah dimulai sejak anak masih dalam kandungan.
yang
Anak yang belum lahir sudah bisa merespon apa
dikerjakan orang tuanya (Lestariningrum & Utomo, 2015).
Perkembangan teknologi dan perangkat digital sangat
berpengaruh dan membawa dampak bagi perkembangan anak.
Penggunaan internet oleh anak-anak pada usia yang semakin
dini merupakan tantangan besar bagi keluarga dan sekolah,
serta mempengaruhi kebijakan pendidikan dan sosial (Rojas,
Barandiaran, & Gonzalez, 2018). Pengawasan ekstra oleh orang
tua menjadi penting karena terdapat banyak varian informasi
yang diterima. Informasi telah mampu menembus jarak dan
waktu hingga ke sudut-sudut ruang. Informasi dapat diterima
dari berbagai sumber seperti televisi, radio, surat kabar, situs
internet, media sosial, dan sebagainya (Dhahir, 2017).
Media sosial, terutama Facebook dan Instagram,
menciptakan komunitas virtual tempat orang dapat bersatu
bersama keluarga dan teman di mana pun mereka berada
(Charoensukmongkol, 2018). Orang tua tidak boleh alpa akan
kemajuan dan perkembangan zaman. Orang tua juga harus
mengenal media sosial dan dapat mengaplikasikannya.
Diperlukan pengalaman dan wawasan yang luas untuk dapat
menguasai teknologi dan informasi serta menyaring dampak
negatif yang ditimbulkan. Orang tua harus dapat mengarahkan
anak untuk dapat memilih dan memilah informasi yang sesuai
4

terhadap kebutuhan usianya. Orang tua di era digital harus
dapat mengetahui kapasitas anak untuk menyikapinya secara
positif agar dapat mengakses perangkat digital dengan bijak,
baik dan benar (Faisal, 2016).
Kemajuan teknologi tidak hanya dirasakan oleh anak
normal saja, bahkan anak disabilitas sekalipun dapat
merasakan dampak kemajuan teknologi tersebut. Anak
tunanetra misalnya, dengan segala keterbatasannya masih
dapat menggunakan handphone android dan
dapat
mengoperasikan komputer. Tunanetra yang dialami oleh
seseorang
tidak menjadi penghalang untuk melakukan
keseharian.
aktivitas
Tunanetra yang dialami oleh seseorang
pada saat lahir atau pada usia anak akan lebih cepat
menyesuaikan diri jika tinggal dengan keluarga atau
lingkungan yang harmonis. Namun sebaliknya, kebutaan pada
usia remaja akan membutuhkan waktu lebih lama untuk dapat
menerima keadaan, memahami, dan menyesuaikan diri
(Kartika, 2011). Peran orang tua dalam menangani kebutuhan
anak-anak penyandang cacat menjadi sangat penting ketika
pendidikan memasuki dekade kedua abad ke-21 (Hsiao,
Higgins, & Diamond, 2018).
Pengasuhan terhadap anak baik yang normal maupun
yang disabilitas hendaknya berpedoman kepada kebenaran.
Kebenaran yang ditanamkan sejak kecil dapat membawa
dampak positif ketika anak dewasa. Kesalahan dalam
mengasuh anak dapat membawa dampak negatif ketika anak
dewasa. Anak menjadi trauma bila pengasuhan dilakukan
dengan paksaan. Namun, jika permintaan anak selalu dipenuhi
oleh orang tua, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang
manja. Orang tua harus bisa menerapkan pengasuhan yang
fleksibel namun tetap bisa menanamkan nilai positif kepada
anak (Rakhmawati, 2015). Salah satu solusi untuk memberikan
pengasuhan yang baik bagi anak adalah dengan menerapkan
5

pendidikan Islam. Pendidikan Islam dapat diterapkan bahkan
ketika anak masih dalam kandungan, belum lahir ke dunia.
Agama menjadi faktor fundamental yang mempengaruhi cara
individu menjalani kehidupan sehari-hari, termasuk perannya
sebagai orang tua (Rahmawati, 2018).
Pendidikan Islam bertujuan untuk membentuk pribadi
muslim yang seutuhnya (H. P. Daulay & Pasa, 2013). Konsep
Pendidikan Islam memiliki perbedaan mendasar dibanding
konsep pendidikan Barat. Pendidikaan Barat terkesan
materialis, berorientasi pada kehidupan dunia. Pendidikan
Barat membekali anak pengetahuan dan keterampilan yang
akan menunjang kesuksesan dunia. Pendidikan Barat juga
bersifat antroposentris, segala hal dalam kehidupannya
berpusat pada aspek humanis. Berbeda dengan pendidikan
Islam yang bersifat teosentris, di mana segalanya bermuara dan
berpusat pada aspek ketuhanan, tidak lepas dari unsur
ketuhanan, tidak semata-mata berpusat pada manusia. Islam
sebagai agama mayoritas di Indonesia memiliki prinsip-prinsip
tersendiri dalam pengasuhan anak. Prinsip-prinsip ini berasal
dari sumber ajaran Islam, yaitu al-Qur’an dan al-Hadits
(Rahmawati, 2017c).
Pendidikan Islam memiliki dua makna ganda. Dalam arti
sempit, pendidikan Islam merupakan usaha membekali peserta
didik dengan pengetahuan, keterampilan, dan nilai, sedangkan
dalam arti luas pendidikan Islam tidak hanya fokus pada
transfer tiga hal tersebut namun lebih dari itu (Sukarman, 2017).
Landasan utama pendidikan agama Islam bersumber pada al
Qur’an dan al-Hadits. Tataran nilai dan norma kehidupan
dalam kedua sumber hukum tersebut sudah cukup untuk
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan
lembaga pendidikan. Pendidikan Islam dapat diaplikasikan
baik pada sekolah formal maupun nonformal, bahkan pada
lembaga nonpendidikan (Salamet, 2012).
6

Implementasi pendidikan agama Islam di lembaga
pendidikan formal disampaikan melalui kegiatan belajar
mengajar mata pelajaran berbasis agama seperti pelajaran
Pendidikan Agama Islam (PAI), Sejarah Peradaban Islam,
Aqidah, dan lain-lain. Implementasi pendidikan agama Islam
di lembaga pendidikan nonformal cukup unik dan menarik
untuk dikaji. Materi-materi yang diajarkan mencakup banyak
hal, seperti cara bergaul dengan baik kepada sesama, sikap
kepada orang yang lebih tua, adab bergaul dengan orang lain,
cara berpakaian, berjalan, makan, minum, tidur, sampai
dengan adab ke kamar mandi. Pendidikan agama Islam di
Pondok pesantren langsung diaplikasikan dalam kehidupan
sehari-hari. Para ustadz, pimpinan dan kiainya menjadi tokoh
sentral sebagai uswatun hasanah dalam berbagai aspek
kehidupan, dari ibadahnya, tingkah lakunya, sampai pada
tutur sapanya, dan lain sebagainya.
Membentuk anak yang saleh, berpendidikan, sehat dan
cerdas sesuai dengan pertumbuhan mereka bukan pekerjaan
yang ringan, anak-anak memerlukan pemenuhan hak fisik,
sosial, psikologis, dan spiritual. Anak memerlukan peran orang
dewasa dalam pertumbuhan dan perkembangannya untuk
memenuhi permakanan, kesehatan, pendidikan, pengarahan,
dan keamanan. Namun, kebanyakan orang tua belum mampu
menjalankan fungsinya sebagai pembimbing dengan benar.
Orang tua merasa perlu mengalihkan pendidikan dan
pembinaan itu kepada pihak lain seperti lembaga pendidikan,
bali sosial, orang tua asuh atau panti (Pujianto & Al-Amin,
2016).
Panti Asuhan merupakan lembaga di bidang sosial yang
mendidik anak yang memiliki permasalahan sosial seperti
permasalahan ekonomi, ketidakharmonisan rumah tangga,
meninggalnya kepala keluarga, sehingga keluarga dan
lingkungan tidak dapat memberikan jalan keluar terhadap
7

problematika anak, untuk diberikan pembinaan. Melalui
lembaga panti, anak-anak diasuh, dididik dan dibina dengan
bekal wawasan pengetahuan dan keterampilan sehingga dapat
membangkitkan rasa percaya diri sehingga anak asuh memiliki
masa depan yang cerah (Pujianto & Al-Amin, 2016).
Berbeda dengan pesantren dan madin, dalam membentuk
pribadi yang islami, panti asuhan sebagai lembaga non
pendidikan juga menerapkan pendidikan agama Islam kepada
anak asuhnya dalam praktik kehidupan sehari-hari. Panti
asuhan dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa macam jenis,
seperti panti yatim piatu, panti duafa, panti tunanetra, panti
bayi dan balita, panti jompo, panti orang gila, dan panti
rehabilitasi. Eksistensi dan aktivitas dari keseluruhan panti
tersebut di bawah naungan dan pengawasan Dinas Sosial.
Jenis panti asuhan yang dinilai dapat mengaktualisasikan
pendidikan Islam adalah panti asuhan anak atau panti asuhan
yatim piatu, jenis panti seperti ini secara kuantitas jumlahnya
lebih banyak dibandingkan dengan jenis panti asuhan lainnya.
Usia anak dan remaja perlu diajarkan pembiasaan ajaran Islam
dengan tujuan ketika dewasa mereka menjadi orang yang
beriman, pandai bergaul, berjiwa sosial tinggi, berpemikiran
maju, bertingkah laku yang sopan, dan bertutur yang santun
sesuai dengan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.
Panti Asuhan Tunanetra Terpadu Aisyiyah Ponorogo
merupakan salah satu di antara panti yang menerapkan
pendidikan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Anak asuh
dipelihara, dibina, dan dididik dengan cara dimasukkan ke
sekolah formal, ke diniyah sore dan malam, dan pendidikan
keseharian di panti itu sendiri. Anak asuh tinggal di dalam
asrama yang telah disediakan. Mereka melakukan aktivitas
kesehariannya di dalam asrama tersebut. Kehidupan
bernuansa religi menghiasi aktivitas keseharian anak asuh
panti ini. Mereka mencoba mengaplikasikan ajaran Islam
8

sebagai pembiasaan. Mereka mendirikan salat, berpuasa di
bulan Ramadan, mengaji, dan berbagai aktivitas lainnya pada
setiap harinya.
Setiap kali memasuki waktu salat, mereka bersegera
datang ke masjid yang berada di dalam area panti untuk
melaksanakan ibadah salat secara berjamaah dengan dipimpin
oleh pengasuh. Seusai salat mereka berzikir, membaca doa dan
salat sunnah ba’diyah secara munfarid, dan dilanjutkan dengan
membaca al-Qur’an. Sekembalinya dari masjid mereka
melakukan aktivitas di asrama seperti makan, piket, belajar,
diskusi, hafalan, dan lain-lain. Aktivitas keseharian yang
dilaksanakan sebagai pembiasaan mengacu pada agenda
kegiatan harian, mingguan dan bulanan yang disosialisasikan
kepada mereka.
Panti Asuhan Tunanetra Ponorogo memperoleh nilai
terakreditasi A pada tahun 2017 lalu di Kabupaten Ponorogo.
Panti ini juga telah ditetapkan sebagai panti penerima anugerah
LKSA Award 2017, yaitu LKSA Terbaik Percontohan Nasional
Umum
oleh
Ketua
Pengurus
Forum
Nasional
Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak – Panti Sosial Asuhan
Anak (LKSA-PSAA), Dr. H. Yanto Mulya Pibiwanto dan
Sekretaris Jenderal Jasra Putra S.Fil.I., M.Pd., dalam SK
bernomer 07/FN-LKSA-PSAA/IV/2017 tertanggal 21 April 2017.
Ayu (nama samaran), salah satu anak penyandang
tunanetra adalah penghafal Al-Qur’an lengkap 30 juz berikut
urutan surat dan nomer ayatnya. Pada acara Wisuda Akbar
Indonesia Menghafal ke-7 yang berlangsung di Masjid Istiqlal
Jakarta, Ahad 29 Mei 2016, Ayu diundang menjadi tamu
kehormatan. Ayu juga mendapat hadiah dari Ustadz Yusuf
Mansyur berupa ibadah umrah bersama nenek dan satu
pendampingnya. Mereka diberangkatkan oleh PPPA Darul
Qur’an dalam “Umrah Penghafal Alquran Angkatan I Tahun
2017” yang dibimbing oleh Ustadz Basri pada 13-21 Maret 2017.
9

Salah satu nilai tambah dari panti asuhan tunanetra ini
adalah adanya band dan hadroh panti. Semua pemain dari
group band dan hadroh ini merupakan penyandang disabilitas
tunanetra. Keterbatasan fisik tidak mengurangi kualitas
mereka dalam memainkan alat musik. Mereka sering tampil
dalam berbagai acara besar yang diselenggarakan oleh
masyarakat. Hal ini menjadi syiar agama dan syiar lembaga
sehingga panti asuhan ini dikenal secara luas di daerahnya.
Keberhasilan dalam pengasuhan terhadap anak tunanetra
tidak terlepas dari pengasuhan yang dipraktikkan dalam
kehidupan sehari-hari. Penanaman nilai-nilai Islam kepada
anak, rasa syukur misalnya, tidak semudah membalik telapak
tangan; kebanyakan anak tunanetra akan mengeluh dengan
keadaannya. Apabila anak tunanetra mampu mensyukuri
keadaan dengan segala keterbatasan dan kekurangannya
melebihi rasa syukurnya anak normal, maka pengasuhan yang
diberikan bisa dianggap berhasil. Anak tunanetra yang
mestinya memiliki keterbatasan, tidak mampu melihat tulisan
di dalam al-Qur’an namun mampu menghafalnya dengan
sempurna. Ini yang menarik bagi penulis untuk mendalami
proses pengasuhan anak tunanetra di Panti Asuhan Tunanetra
Ponorogo.
Kajian pokok dalam buku ini berfokus pada bagaimana
pendidikan agama Islam dengan model pengasuhan di Panti
Asuhan Tunanetra Terpadu Aisyiyah Ponorogo, dan apa
makna pendidikan agama Islam dengan model pengasuhan di
Panti Asuhan Tunanetra Terpadu Aisyiyah Ponorogo. Adapun
yang menjadi tujuan penulisan buku ini adalah untuk
mendeskripsikan pendidikan agama Islam dengan model
pengasuhan di Panti Asuhan Tunanetra Terpadu Aisyiyah
Ponorogo, dan untuk memahami makna pendidikan agama
Islam dengan model pengasuhan di Panti Asuhan Tunanetra
Terpadu Aisyiyah Ponorogo.
10

Penelitian ini secara teoritik akan menemukan proposisi
proposisi terkait pengasuhan anak difabel dalam penerapan
agama Islam dalam
pendidikan
kehidupan sehai-hari.
Penelitian ini juga ingin menemukan teori baru dalam
keilmuan di bidang pendidikan agama Islam yang dibentuk
dari proses penerapan, akumulasi pembelajaran, dan sosialisasi
individu ataupun kelompok.
Kegunaan secara praktis dari buku ini ialah agar pengurus,
pengasuh dan semua praktisi panti serta masyarakat pada
umumnya, dapat mengetahui seberapa jauh proses dan hasil
dari implementasi pengasuhan pendidikan agama Islam
terhadap anak asuh mereka. Kegunaan lainnya ialah sebagai
bahan evaluasi untuk perbaikan ke depannya, dan diharapkan
menjadi model atau panti percontohan bagi panti-panti yang
lain. Bagi lembaga pendidikan, baik formal maupun non formal
kiranya dapat mencotoh bagaimana menjalin relasi antara
lembaga pendidikan dengan panti difabel. Khusus bagi penulis
kiranya dapat menambah dan memperkuat kepakaran di
bidang yang digeluti, yakni sebagai pengurus Lembaga
Kesejahteraan Sosial Anak..

B. Penggunaan Istilah-Istilah Kunci
Pengasuhan
Pengasuhan merupakan sebuah proses interaksi yang
berlangsung secara terus-menerus dan berpengaruh bukan
hanya bagi anak tetapi juga bagi orang tua. Pengasuhan
yang dimaksud dalam buku ini adalah kegiatan yang
bertujuan menjadikan anak asuh tunanetra memiliki
pemahaman pendidikan agama Islam serta mampu
berkembang dan bertahan menghadapi segala tantangan
kehidupan. Potensi anak asuh dikembangkan melalui
berbagai rangkaian stimulus psikososial oleh bapak asuh
dan lingkungan di panti asuhan Tunanetra Ponorogo.
11

Interaksi antara pengasuh, anak asuh, tata tertib yang
diberlakukan, dan lembaga ekstern panti cukup
berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan
anak.
Difabel
Kata di.fa.bel/difabêl/ di dalam KBBI V 0.2.1 Beta (21) yang
dibuat oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa,
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI tahun 2016
memiliki arti penyandang cacat. Meski difabel adalah
serapan dari “different ability” yang berarti perbedaan
kegunaan; memiliki makna perbedaan cara penggunaan
anggota tubuh. “Different ability” kemudian dipendekkan
menjadi “difable”, dan dalam perkembangan selanjutnnya
diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi “difabel”.
Berdasarkan definisi tersebut penulis menyamakan istilah
difabel dengan istilah disabilitas, karena itu keduanya
akan digunakan bergantian dalam buku ini.
Tunanetra
Istilah tunanetra digunakan untuk menggambarkan
keadaan penderita yang mengalami kelainan indra
penglihatan, sehingga mata tersebut tidak dapat berfungsi
sebagaimana mestinya. Tunanetra dalam buku ini
maksudnya ialah anak asuh Panti Tunanetra Ponorogo
yang mengalami gangguan penglihatan, baik gangguan
penglihatan total (total blind) maupun yang tidak total (low
vision) baik laki-laki maupun perempuan dari jenjang
sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Anak asuh
tunanetra di panti tersebut secara kuantitatif mendominasi
dibandingkan dengan disabilitas yang lain seperti
tunarungu, tunawicara, tunadaksa, tunagrahita, dan
lainnya.
12

Model
Model memiliki banyak definisi. Dalam kamus KBBI
setidaknya ada ada enam definisi. Pertama, model ialah
pola (contoh, acuan, ragam, dan sebagainya) dari sesuatu
yang akan dibuat atau dihasilkan; makna ini dapat
dijumpai dalam contoh kalimat: rumahnya dibuat seperti
model rumah adat. Kedua, orang yang dipakai sebagai contoh
untuk dilukis (difoto); contoh penggunannya dalam
kalimat: pernah aku menjadi model lukisan. Ketiga, orang yang
(pekerjaannya) memperagakan contoh pakaian yang akan
dipasarkan; seperti dalam kalimat: gadis model yang cantik
cantik itu memperagakan pakaian dari bahan batik. Keempat,
barang tiruan yang kecil dengan bentuk (rupa) persis
seperti yang ditiru; contoh penggunaannya: model pesawat
terbang. Kelima, pempek berisi tahu yang dimakan dengan
kuah bening seperti sop. Keenam, cara untuk
merepresentasikan pola hubungan yang diperoleh dari
perilaku manusia. Penggunaan istilah “model” dalam
buku ini lebih condong kepada definisi yang pertama dan
keenam.

C. Kerangka Pikir
Problematika dalam penelitian ini berawal dari sebuah
tuntutan bagi setiap orang tua atau pengasuh untuk memiliki
bekal pengetahuan dalam memberikan pengasuhan (Erlanti et
al., 2015). Ini dikarenakan dalam membentuk anak agar
memiliki perilaku yang matang sesuai yang diinginkan
bukanlah tugas yang mudah bagi orang tua; dibutuhkan
kematangan pikiran, pengalaman, keterampilan, dan tingkat
ekonomi yang mencukupi (M. Jannah, 2015). Anak sebagai
amanah harus dijaga dan diajak berinteraksi secara terus
menerus oleh orang tua supaya tumbuh kembangnya optimal
(Barmawi, 1993; H. P. Daulay & Pasa, 2013; Rahmat, 2018).
13

Terbentuknya pribadi muslim yang sesuai dengan tujuan
pendidikan Islam (Sukarman, 2017) perlu merujuk kepada
landasan utama pendidikan agama Islam yakni al-Qur’an dan
al-Sunnah (Salamet, 2012). Pengasuhan bagi anak yang normal
relatif lebih mudah daripada pengasuhan bagi anak
penyandang disabilitas. Dalam buku ini dibahas pengasuhan
anak yang mengalami gangguan penglihatan. Kalangan
akademis menyebutnya dengan istilah tunanetra, yakni anak
yang mempunyai gangguan penglihatan yang bersifat sebagian
atau menyeluruh sehingga tidak memiliki fungsi dalam
menerima informasi setiap kegiatan (Nahlisa & Christiani,
2015; Putranto, 2015; Somantri, 2006a). Anak tunanetra
berusaha memaksimalkan fungsi indra-indra selain mata
seperti indra perabaan, penciuman, pendengaran, dan lain
sebaginya (Saputri, 2013). Keberhasilan dalam pengasuhan
terhadap anak tunanetra tidak terlepas dari pengasuhan yang
dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Penulis melakukan
penelitian tentang penanaman nilai-nilai Islam anak asuh
tunanetra di Panti Asuhan Tunanetra Terpadu Aisyiyah
Ponorogo.
Penulis menggunakan teori parenting style Baumrind (1971,
1991) yang mengklasifikasikan pengasuhan ke dalam empat
model yakni pengasuhan permissive, authoritarian, authoritative,
dan neglectfull. Masing-masing pengasuhan dipraktikkan
secara berbeda dan menghasilkan perilaku anak yang berbeda
beda pula. Penulis juga menggunakan teori pendidikan anak
dalam Islam oleh Abdullah Nasih Ulwan (2012) sebagai
penyeimbang yang model pengasuhannya didominasi oleh
nuansa islami.

14

Paradigma
Pengasuhan:
- Spiritualitas
- Filantropis
- Ittiba’

Pola asuh anak
(Diana Baumrind):
- Permissive
- Authoritarian
- Authoritative
- Neglectfull

Pendidikan anak
dalam Islam (Ulwan)
- Metode
- Saran
- Tanggung jawab
- Kaidah asasi

Pengasuhan anak
tunanetra:
- Bentuk pengasuhan
berupa assesmen awal,
reassesmen, dan
terminasi
- Pola pengasuhan
permissive, authoritarian
dan authoritative
dengan berfokus pada
kontrol dan responsivitas
pengasuh
- Fungsi pengasuhan:
pendidikan, sosialisasi,
perlindungan, agama,
ekonomi, dan rekreasi.
- Program kerja panti
mingguan, bulanan dan
tahunan.
- Instrument pengasuhan
terdiri dari pengasuh,
anak asuh, panti asuhan,
lembaga ekstern.
- Prinsip-prinsip
pengasuhan

Gambar 1
Kerangka Pikir

D. Penelitian Terdahulu
Terdapat beberapa penelitian terdahulu yang objek
penelitiannya seputar pendidikan agama Islam, pengasuhan,
dan disabilitas. Beberapa penelitian tersebut antara lain adalah
penelitian yang dilakukan oleh Aziz (2016) tentang internalisasi
nilai Islam di lembaga pendidikan SMPLB Kota Malang. Hasil
penelitiannya adalah bahwa internalisasi nilai Islam kepada
ABK dilakukan melalui tahap perencanaan, tahap pelaksanaan,
15

dan tahap evaluasi. Pada tahap perencanaan guru SMPLB
mengidentifikasi catatan pribadi siswa, lalu memberikan
pelayanan keluarga.
Tahap pelaksanaan dengan menggunakan beberapa
metode, yakni uswatun hasanah, demonstrasi dan dramatisasi,
pembiasaan, dan sosiodrama. Metode uswatun hasanah
diterapkan dengan mengenalkan profil beberapa tokoh teladan
muslim. Metode demonstrasi dan dramatisasi seperti praktik
salat dengan gerakan dan bacaan yang benar. Metode
pembiasaan seperti kebiasaan salat berjamaah di akhir jam.
Metode sosiodrama memberikan peran pada siswa lalu mereka
mendramakannya. Sedangkan evaluasi dilakukan dengan
menggunakan teknik observasi. Faktor yang mendukung
keberhasilan internalisasi nilai Islam yaitu dengan peringatan
HBI, upacara bendera, doa sebelum belajar dan sesudahnya,
buku mata pelajaran yang sesuai, dan dukungan wali murid
(Aziz, 2016).
Hasil penelitian Mahpur (2015: 1) Perencanaan pembiasaan
perilaku islami mulai dari perumusan visi dan misi islami
sampai penyusunan standar ubudiyah; 2) Pembiasaan perilaku
islami dilaksanakan mulai dari kegiatan harian, mingguan,
bulanan sampai tahunan; dan 3) Pembiasaan ini dapat
membentuk kepribadian muslim anak didik di lembaga
pendidikan. Pribadi muslim dengan karakter qur’ani dapat
terbentuk melalui pembiasaan kegiatan keagamaan yang ada di
lembaga pendidikan tersebut.
Erlanti et al., (2015) menyimpulkan hasil penelitian bahwa
pengetahuan pengasuhan anak sebaiknya dimiliki oleh orang
tua agar dapat mengasuh anak lebih baik dan menunjang
pertumbuhan dan perkembangan anak. Namun, pada
kenyataanya tidak semua orang tua memiliki pengetahuan dan
keterampilan yang memadai mengenai pengasuhan anak.
Minimnya pengetahuan dan keterampilan orang tua mengenai
16

pengasuhan dapat menimbulkan perlakuan salah pada anak.
Pengasuhan oleh orang tua dipengaruhi oleh beberapa faktor
seperti lingkungan sosial dan fisik tempat keluarga itu tinggal,
status ekonomi orang tua, dan model pengasuhan yang
didapatkan orang tua sebelumnya.
Orang tua dapat memperluas pengetahuan dan
keterampilan dalam pengasuhan anak melaui program
program Parenting Education. Parenting Education adalah
pendidikan yang berupaya untuk meningkatkan atau
memfasilitasi perilaku orang tua yang akan mempengaruhi
hasil positif perkembangan pada anak-anak mereka. Parenting
education menjelaskan berbagai program pengajaran dan
dukungan yang fokus pada keterampilan, perasaan, dan tugas
menjadi orang tua. Parenting education ini biasanya diberikan
oleh sebuah lembaga pendidikan formal dan nonformal dengan
fokus target, jenis-jenis, metode-metode penyampaian
parenting education yang berbeda-beda.
Penelitian selanjutnya yang bertujuan untuk mengetahui
proses pengasuhan yang dilakukan oleh ibu bekerja di Desa
Guntur, Bener, Purworejo. Penelitian kualitatif dengan
pendekatan studi kasus ini menggunakan ibu yang bekerja
sebagai petani, guru, dan pedagang sebagai informan.
Temuannya menjelaskan bahwa perencanaan pengasuhan
anak dimulai sejak anak masih dalam kandungan. Ritual adat
dan agama dilakukan dalam menyambut kelahiran anak.
Informan melibatkan pengasuhan dalam aktivitas
pekerjaan. Salah satu faktor pendukung keberhasilan proses
pengasuhan adalah keterlibatan keluarga. Tidak banyak
hambatan bagi ketiga informan dalam proses melaksanakan
pengasuhan. Kendala yang mereka hadapi adalah tuntutan
untuk mengambil keputusan tentang perkembangan anak
seperti kesehatan anak, pendidikan, dan tuntutan pekerjaan
(Wibowo & Saidiyah, 2013).
17

Hasil penelitian lainnya menunjukan bahwa orang tua
pada kelompok kontrol dan eksperimen dapat berinteraksi
dengan remaja dengan menunjukkan keterampilan mindful
parenting. Keterampilan tersebut meliputi: mendengarkan anak
dengan penuh perhatian, menerima anak tanpa menghakimi,
pengaturan diri, kesadaran emosi, dan kasih sayang terhadap
diri dan anak (Mubarok, 2016).
Disebutkan dalam penelitian yang lain bahwa moral anak
tidak terlepas dari pengasuhan orang tua. Banyak orang tua
mengalami permasalahan dalam mendidik anak, baik dari
berbagai kalangan. Permasalahan itu terletak pada gagalnya
mendidik generasi yang memahami nilai-nilai keislaman dan
taat pada Allah swt. Berbagai permasalahan remaja seperti free
sex, tawuran, salah pergaulan, narkoba, minuman keras, dan
berbagai macam kriminal lainnya. Peristiwa tersebut sering
terjadi di semua tingkatan masyarakat baik di kota besar
bahkan sampai di tingkat desa.
Para remaja mengikuti perilaku negatif tanpa memikirkan
dampak negatif yang ditimbulkan. Mereka gagal menjaga
nama baik orang tua. Itulah mengapa generasi muda harus
dididik oleh orang tua dengan landasan keislaman yang kuat
sehingga kusuksesan pengasuhan dimulai dari keluarga,
berlanjut ke lingkungan sekolah dan masyarakat (M. Jannah,
2015).
Penelitian lain menyampaikan bahwa pendidikan Islam
memiliki varian yang kompleks, baik pada kegiatan
pendidikan formal, nonformal, dan informal. Ketiganya
memiliki keterkaitan yang sinergis untuk saling menguatkan,
sebagaimana yang terjadi pada ibu-ibu jamaah Masjid Baitul
Abror yang putra-putrinya mengikuti pendidikan prasekolah
pada RA Muslimat NU yang dikelola oleh takmir masjid. Para
ibu jamaah yang rata-rata tingkat pendidikan rendah, mereka
minim pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan dalam
18

memberikan pengasuhan secara islami, hal tersebut menjadi
concern sasaran program pengabdian akademik dalam
memberikan penguatan untuk meningkatkan pengetahuan,
keterampilan dan afeksi dalam mengasuh pertumbuhan dan
perkembangan anak khususnya usia prasekolah.
Program penguatan yang dikhususkan pada peningkatan
pengetahuan dalam mengasuh, praktek pengasuhan dan
keterampilan dalam memberikan perlindungan kepada anak,
ternyata memberi kontribusi yang signifikan terhadap
perolehan ketiga aspek yang diberikan selama mengikuti
kegiatan penguatan tersebut. Hal tersebut terlihat pada saat
proses kegiatan pengabdian berlangsung seperti tanggapan
dan respon tentang materi dan praktik yang dilakukan bersama
antara Tim Pengabdian dan para ibu jamaah masjid (Hadi,
2017).
Penelitian selanjutnya menunjukkan hasil bahwa
pengasuhan anak pada keluarga petani Melayu di Desa Pusaka
Kecamatan Tebas Kabupaten Sambas. Penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis dan mengetahui tipe pengasuhan yang
diterapkan keluarga petani Melayu tersebut pengaruhnya
terhadap perilaku sosial remaja. Alat pengumpulan data
penelitian ini yaitu panduan wawancara, lembar observasi,
serta studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan
pengasuhan yang diterapkan oleh keluarga petani Melayu di
Desa Pusaka yaitu authoritative dan authoritarian.
Pada keluarga authoritative, masalah diselesaikan dengan
menegur, menjelaskan serta konsekuensi sebagai hukuman,
sehingga menghasilkan remaja yang percaya diri, merasa
diterima di masyarakat, bekerja sama, bersahabat, selalu ingin
tahu. Sedangkan pada keluarga yang authoritarian, pemecahan
masalah diwarnai dengan kebiasaan orang tua marah bahkan
memukul dan tidak pernah memberikan ucapan selamat serta
hadiah jika anak berprestasi sehingga menghasilkan remaja
19

yang penakut, pemalu, tidak percaya diri dan mudah
tersinggung (Purnasari, 2013).
Penelitian lain yang bertujuan untuk memperoleh
gambaran tentang kecenderungan pengasuhan yang
diterapkan orang tua terhadap anak pada keluarga karir ganda.
Populasi dalam penelitian ini adalah pasangan orang tua yang
telah memiliki anak berusia antara 2 tahun sampai dengan 12
tahun, yang bertempat tinggal di Perumahan Pondok Blimbing
Indah wilayah kelurahan Polowijen dan Purwodadi kota
Malang. Sampel yang digunakan adalah sampel jenuh.
Pengumpulan data menggunakan angket. Teknik analisa data
yang digunakan adalah analisis non-statistik, yaitu mencari
persentase.
Berdasarkan hasil analisis

data

didapatkan bahwa
kecenderungan pengasuhan pada keluarga karir ganda adalah
authoritative. Meskipun pasangan karir ganda bekerja dalam
rentang waktu yang sama, namun para ibu lebih sering
menyusun dan menyesuaikan jadwal harian mereka untuk

mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga dibandingkan
para bapak. Beberapa suami mengambil peran-peran istrinya
untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Waktu setiap
pagi sebelum bekerja dan sore atau malam harinya sepulang
dari bekerja adalah kesempatan bagi bapak untuk dapat
mengungkapkan kasih sayang, mengenalkan dan menerapkan
aturan serta kedisiplinan, dan penanaman nilai-nilai yang
diharapkan (Putranti, 2008).
Andi Subhan Amir dan Trianasari dalam penelitiannya di
Makassar selama tiga bulan pada tahun 2013 tentang pola
komunikasi dalam pengasuhan anak pada orang tua yang beda
agama. Tujuan dari penelitiannya adalah untuk mengetahui
pola komunikasi dalam pengasuhan anak pada orang tua beda
agama; dan faktor penghambat dalam komunikasi tersebut.
Mereka meneliti tiga keluarga beda agama. Hasil penelitian
20

menujukkan bahwa orang tua yang berbeda agama cenderung
yang
menerapkan komunikasi authoritarian, ada pula
authoritative. Pengasuhan authoritarian cenderung memaksakan
pilihan atas anak karena kurangnya komunikasi antar pribadi
yang efektif. Pola komunikasi authoritative lebih membebaskan
kepada anak dalam menentukan pilihannya. Komunikasi antar
pribadi lebih efektif pada orang tua authoritative (Amir &
Trianasari, 2013).
(2018)
Rahmat
dalam
sebuah
penelitiannya
.menyampaikan bahwa keluarga sebagai salah satu trisentra
pendidikan merupakan tempat pendidikan yang pertama dan
utama bagi pembentukan karakter anak. Keluarga sebagai
lokus pembentukan karakter anak perlu mengembangkan
pengasuhan yang edukatif dan efektif. pengasuhan yang
dilakukan orang tua terhadap anak bertujuan untuk melayani
kebutuhan fisik dan psikologis anak.
Selain itu, pengasuhan tersebut dapat diimplementasikan
dalam bentuk sosialisasi norma-norma yang berlaku dalam
masyarakat supaya anak-anak dapat hidup selaras dengan
lingkungannya. Pengasuhan anak dalam keluarga terdiri dari
empat (4) kategori, yaitu pengasuhan authoritarian, pengasuhan
permissive, pengasuhan yang kurang memiliki tuntutan
terhadap anak dan kurang responsif terhadap kebutuhan anak
(orang uninvolved), dan pengasuhan authoritative.
Orang tua yang hebat harus terlibat dalam mendidik anak
dengan pengasuhan authoritative, positif, efektif, konstruktif,
dan transformatif. Orang tua harus mendidik anak bukan
dengan kekerasan atau paksaan, tetapi memberi kebebasan
dengan suatu kontrol yang ketat supaya anak bertumbuh dan
berkembang secara positif. Pengasuhan yang dibutuhkan pada
era digital adalah pengasuhan yang authoritative. Pengasuhan
ini berupaya membantu anak agar bersikap kritis terhadap
pengaruh-pengaruh negatif dari era digital. Oleh karena itu,
21

orang tua harus mampu berperan untuk mendidik dan
membimbing anak supaya menggunakan media digital untuk
tujuan yang benar dan positif (Rahmat, 2018).
Adawiah (2017) dalam penelitian menyampaikan bahwa
konstitusi negara menegaskan bahwa setiap orang berhak
mengecap pendidikan setinggi-tingginya tanpa kecuali.
Namun demikian, masih banyak ditemukan anak yang putus
sekolah, termasuk pada masyarakat dayak di kabupaten
Balangan. Masalah ini tentu perlu mendapat perhatian semua
pihak. Karena jika dibiarkan tidak menutup kemungkinan
anak-anak di daerah terpencil seperti masyarakat Dayak di
Kabupaten Balangan ini selalu mengalami ketertinggalan.
Adanya anak yang putus sekolah atau bahkan tidak
bersekolah diduga erat kaitannya dengan pemahaman orang
tua tentang pendidikan, termasuk pemahaman tentang pola
pendidikan yang diterapkan. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui: (1) pemahaman orang tua tentang pendidikan
anak, (2) pola yang diterapkan orang tua dalam pendidikan
anak, dan (3) faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pola
pendidikan anak pada masyarakat Dayak di Kabupaten
Balangan.
Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara
dan dokumentasi. Data yang diperoleh dianalisis secara
deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
pemahaman orang tua suku Dayak di Kecamatan Halong
termasuk kategori baik. Mereka umumnya memahami bahwa
pendidikan itu sangat penting. Hal ini dapat diketahui dari
jawaban seluruh informan yang mengatakan bahwa pada
dasarnya mereka ingin agar anak-anaknya bisa bersekolah
setinggi-tingginya.
Pola pendidikan yang diterapkan oleh sebagian besar
masyarakat suku Dayak adalah pengasuhan permissive dan
authoritative.
22

Faktor-faktor

yang

mempengaruhi

pola

pendidikan anak adalah: (1) Tingkat Sosial Ekonomi Keluarga,
(2) tingkat pendidikan orang tua, (3) Jarak tempat tnggal
dengan sekolah, (4) usia, dan (5) jumlah Anak (Adawiah, 2017).
Susilowati (2012) memaparkan hasil penelitiannya sebagai
berikut. Pengasuhan adalah pengasuhan anak yang berlaku
dalam keluarga, yaitu bagaimana keluarga membentuk
perilaku generasi berikut sesuai dengan norma dan nilai yang
baik dan sesuai dengan kehidupan masyarakat. Perkembangan
adalah peningkatan kemampuan dalam hal struktur dan fungsi
tubuh yang lebih kompleks. Perkembangan memiliki pola yang
teratur dan dapat diprediksi, yang merupakan hasil dari proses
pematangan.
Perkembangan seorang anak dipengaruhi oleh faktor
internal dan eksternal. Pengasuhan orang tua adalah salah satu
bagian dari faktor eksternal pascapersalinan yang
mempengaruhi perkembangan anak. Masa prasekolah adalah
masa belajar, tetapi bukan dalam dua dunia dimensi (pensil
dan kertas) melainkan belajar pada dunia nyata, yaitu dunia
tiga dimensi. Masa prasekolah merupakan time for play, masa
masa bahagia dan amat memuaskan dari seluruh masa
kehidupan anak.
Fitriyani (2015) menghasilkan penelitian sebagai berikut:
Kecerdasan emosi merupakan kecerdasan yang memusatkan
perhatian dalam mengenali, memahami, merasakan,
mengelola, dan memotivasi baik diri sendiri maupun orang lain
serta dapat mengaplikasikan kemampuan tersebut dalam
kehidupan pribadi dan sosialnya. Pengasuhan dari guru, orang
dewasa, orang tua, dan lingkungan sangat berperan dalam
menstimulasi seluruh potensi kecerdasan anak sehingga dapat
menentukan bagaimana karakter, kepribadian, dan sikap anak
ketika sudah dewasa. Pengasuhan yang baik dalam keluarga
dapat memberikan dasar yang kuat bagi pengembangan emosi,
perilaku, watak, nilai-nilai moral dan sosial, serta pembentukan
23

karakter. Pengasuhan yang ideal adalah authoritative, yaitu
pengasuhan yang tidak hanya menerapkan tuntutan
(demanding) yang tinggi tetapi juga memberi tanggapan yang
tinggi terhadap anak.
Penelitian Septiani yang bertujuan untuk mengetahui
hubungan dan seberapa besar pengaruh peran keterlibatan
ayah dalam pengasuhan terhadap perkembangan kecerdasan
moral anak, menggunakan metode kuantitatif dengan
menyebarkan skala kepada anak yang berada pada masa
kanak-kanak akhir yang terdiri dari skala peran keterlibatan
ayah dalam pengasuhan dan skala perkembangan kecerdasan
moral.
Alat ukur dianalisa secara statistik untuk melihat
hubungan korelasinya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan
bahwa ada hubungan antara perkembangan kecerdasan moral
anak dengan peran keterlibatan ayah dalam pengasuhan yang
didasarkan pada nilai p = 0,000 (p < 0,05). Sumbangan pengaruh
keterlibatan ayah terhadap perkembangan kecerdasan moral
anak sebesar 36 %. Hasil ini diharapkan bahwa sosok ayah
sebaiknya dapat berperan langsung dalam pengasuhan anak
anak (Septiani & Nasution, 2017).
Penelitian lain yang bertujuan untuk menjelaskan tentang
peran sebuah keluarga yang harmonis dalam proses
perkembangan manusia yang terdiri dari beberapa fase. Pada
fase awal, fase anak-anak, peranan keluarga terutama orang tua
dalam mengasuh anak cukup signifikan sebab keluarga
merupakan agen sosialisasi primer. Keberhasilan dalam
mengasuh salah satunya ditentukan oleh model pengasuhan
yang diterapkan.
Penelitian ini mengulas pengasuhan yang sesuai untuk
membentuk karakter positif pada anak. Hasil penelitian
menemukan tiga jenis pengasuhan, yaitu authoritarian,
permissive, dan authoritative. authoritarian cenderung koersif dan
24

rigid sehingga membuat anak menjadi tertekan. Pengasuhan
permissive cenderung menjadikan anak menjadi sosok yang
egois dan tidak peka karena orang tua cenderung memenuhi
kebutuhan materil. Pengasuhan ideal adalah authoritative,
karena pola komunikasi dua arah sehingga menempatkan anak
pada posisi bebas namun tetap terkontrol (Rakhmawati, 2015).
Penelitian lain tentang PAUD bagi orang tua pekerja,
menyatakan bahwa orang tua pekerja biasanya melimpahkan
tanggung jawab pengasuhan anak kepada anggota keluarga
lain. Pelatihan pengasuhan dilakukan untuk membenahi model
pengasuhan orang tua/wali siswa. Pengasuh diharapkan
mampu memahami model pengasuhan anak usia dini dengan
tepat dan dapat bermanfaat bagi anak usia dini sehingga
mereka tidak kehilangan momen penting pada masa absorbment
mind. Anak memerlukan berbagai varian stimulasi untuk
mengoptimalkan perkembangan. Stimulasi ini banyak
didapatkan melalui pengasuhan orang tua dengan berinteraksi
secara berkualitas (Widiasari & Pujiati, 2017).
Santoso mengemukakan bahwa pergeseran paradigma
dalam memaknai disabilitas perlu terus digulirkan seiring
dengan semangat reformasi dan demokratisasi yang bertumpu
pada penguatan sendi-sendi dasar hak asasi manusia.
Penulisan artikel ini menggunakan studi literatur dan
dokumen. Paradigma dalam menangani ataupun memberikan
pelayanan bagi penyandang disabilitas mengalami pergeseran,
dimulai dengan Traditional Model, yang bersifat kesukarelaan,
kemudian berubah menjadi Individual Model ‒ Medical Model,
dengan titik berat bantuan yang diberikan berupa rehabilitasi
kepada orang-orang dengan disabilitas.
Model kedua ini dirasa tidak cukup menghilangkan
hambatan yang dialami oleh orang dengan disabilitas, sehingga
para profesional mengembangkan paradigma ketiga, yaitu
Social Model, dengan fokus pelayanan lebih ditujukan pada
25

terjadinya perubahan sosial – perubahan masyarakat. Hingga
saat ini, yang digunakan dalam memberikan pelayanan kepada
orang dengan disabilitas adalah Inclusion Model, yaitu inclusive
development – inclusive society. Pendekatan inklusif digunakan
dengan maksud untuk menghadirkan orang-orang dengan
disabilitas dalam kehidupan bermasyarakat, sehingga
dirasakan lebih mengakomodir hak asasi manusia orang
dengan disabilitas (M. B. Santoso & Apsari, 2017).
Penelitian lain yang bertujuan untuk mengkaji beberapa
metode, mereduksi, dan memodifikasi kode Braille yang lebih
efektif agar lebih mudah diimplementasikan oleh para
penyandang tunanetra ketika membaca Al-Qur’an melalui
metode Qur’anic technobraille. Metode pembelajaran dilakukan
dengan pendekatan teori kepribadian sosial humanisme, yaitu
melalui sudut pandang teori untuk memahami bagaimana
individu tunanetra mengembangkan sifat-sifat kepribadian
nya. Hasil kajian menunjukan, kehadiran teknologi Al-Qur’an
Braille telah mengangkat kedudukan para tunanetra di tengah
tengah masyarakat. Mereka memiliki akses yang sama untuk
berinteraksi, berkomunikasi, dan mendapatkan pahala
keutamaan membaca Al-Qur’an. Hal ini seharusnya menjadi
bagian program prioritas pemerintah, salah satunya melalui
program pengembangan teknologi komunikasi baca kode
braille menuju Indonesia bebas buta baca Al-Qur’an. Hal ini
harus dilakukan mengingat populasi masyarakat terbesar di
Indonesia adalah umat Islam (Hamzah & Zaenal, 2018).
Penelitian Tarsidi (2012) tentang problematika psikososial
akibat tunanetra usia dewasa, menghasilkan temuan penelitian
yang menyatakan bahwa ketunanetraan yang terjadi pada usia
dewasa lebih banyak menimbulkan permasalahan daripada
ketunanetraan yang terjadi pada awal kehidupan. Penelitian ini
dilakukan untuk menemukan suatu model konseling
rehabilitasi yang dapat digunakan untuk membantu para
26

tunanetra dewasa mengatasi secara lebih efektif masalah
masalah psikososial yang diakibatkan oleh ketunanetraannya,
agar mereka dapat memperoleh kembali kemandiriannya dan
mampu mencapai kehidupan yang bermakna.
Model konseling tersebut dikembangkan melalui
penelitian yang dilakukan menggunakan exploratory mixed
methods research design. Konstruk model dikembangkan
berdasarkan data hasil studi kasus terhadap enam orang yang
ketunanetraannya terjadi pada usia dewasa dan telah terbukti
berhasil dalam kehidupannya, sedangkan model divalidasi
dengan expert judgment dan diujicobakan dengan desain single
subject research pada dua orang klien yang relatif baru
mengalami ketunanetraan.
Penelitian Muhtar (2015) di Panti Asuhan Sayap Ibu
kreativitas anak disabilitas ganda,
mengungkapkan adanya 11 metode yang digunakan dalam
mengembangkan kreativitas anak cacat ganda yaitu: metode
penciptaan produk (hasta karya), metode imajinasi, metode
eksplorasi, metode ekperimen, metode proyek, metode musik,
metode bahasa, metode demonstrasi, metode motivasi, metode
bermain dan metode pelatihan. Tujuan dari perlunya metode
Sleman

tentang

pengembangan kreativitas untuk anak penyandang cacat
ganda, dengan adanya metode yang digunakan untuk
mengoptimalkan
usaha
dan
dalam
membimbing
yang
kreativitas
mengembangkan
ada pada anak penyandang
cacat ganda.
Metode yang paling dominan atau paling sering
digunakan setiap harinya adalah metode penciptaan produk.
Metode ini selalu digunakan karena anak dapat menggunakan
kemampuan kognitif yang membantu mereka lebih kreatif dan
dapat mengeksplorasikan daya khayalnya menjadi karya atau
benda yang nyata. Metode yang paling sedikit digunakan
pembimbing adalah metode eksperimen, karena metode
27

tersebut belum mampu diterima dengan baik oleh anak
panyandang cacat ganda.
Penelitian yang selanjutnya tentang pelayanan di panti
asuhan, studi ruang interior terhadap optimalisasi
perkembangan anak. Peneliti melakukan studi peninjauan
tentang tata ruang, material, ergonomi, dan biaya mengacu
pada standar pelayanan minimal panti asuhan dengan tujuan
menghasilkan dan mengimplementasikan fasilitas dan
program aktivitas menjadi rancangan visual desain interior.
Desain interior memiliki peranan yang penting dalam
perancangan fasilitas panti dalam rangka mengoptimalkan
pertumbuhan fisik anak. Perancangan tetap memperhatikan
tujuan utama tentang kebersamaan dan kesederhanaan.
Peneliti juga memperhatikan aspek fungsi, sosial, budaya
dan ekonomi dalam perancangan fasilitas panti tersebut.
Implementasi desain ruang-ruang diwujudkan dari tahap awal
pemilihan material dan perangkat utilitas yang berkualitas,
penataan ruang dengan fungsi serbaguna, dan perancangan
fasilitas dengan mempertimbangkan kenyamanan anak.
Pemilihan material yang ramah dengan dimensi furnitur yang
sesuai dengan antropometri tubuh anak (Oktaviana &
Wibisono, 2013).
Kesimpulan dari beberapa penelitian terdahulu yang telah
dijelaskan di atas adalah bahwa objek penelitian dari masing
masing tema seputar pendidikan agama Islam, panti asuhan,
dan disabilitas dikaji secara parsial. Maka dalam kesempatan
ini penulis membahas semua komponen tersebut pada satu
lokasi penelitian, yakni pendidikan agama Islam dengan model
pengasuhan bagi anak asuh disabilitas di Panti Asuhan
Tunanetra Terpadu Aisyiyah Ponorogo.

28

Pendidikan Agama Islam pada Anak Asuh Disabilitas (Studi Fenomenologi Pengasuhan Tunanetra
di Panti Asuhan Tunanetra Terpadu Aisyiyah Ponorogo)

Pendidikan Agama
Islam

Pembiasaan PAI
Masruchan Mahpur,
2015

Disabilitas

Pengasuhan

Paradigma disabilitas
Santoso & Apsari, 2017

Mindful parenting; Mubarok, 2016

Teknik parenting
Erlanti, et al, 2017

Quranic technobraile
Hamzah & Zaenal, 2018
Internalisasi PAI pada
ABK (Aziz, 2016)
Kreativitas anak disabilitas
ganda (Muhtar, 2015)

Tumbuh kembang anak studi
ruang interior
Oktaviani & Wibisono, 2013

Pengasuhan orang tua pekerja; Wibowo
& Saidiyah, 2013; Widiasari & Pujiati,
2017; Purnasari 2013; Dririndra Putranti,
2008

Pengasuhan dalam Islam; Jannah,
2015; Hadi, 2017

Pengasuhan orang tua beda
agama; Amir & Sari, 2013; Jannah,
2015

Pola asuh era digital
Rahmat, 2018

Pengasuhan
anak

Pendidikan Agama Islam pada
anak disabilitas

Pola asuh Orang tua; Adawiyah, 2017;
Susilowati, 2012; Fitriyani, 2015;
Septiani & Nasution, 2017; Rahmawati,
2015

Yang perlu diteliti

Gambar 2
Ikhtisar penelitian terdahulu

29

“Pendidikan Islam bersifat
teosentris: segalanya
bermuara dan berpusat pada
aspek ketuhanan, tidak lepas
dari unsur ketuhanan, tidak
semata-mata berpusat pada
manusia.”

30

BAB II
LANDASAN TEORITIS

A. Pengasuhan dan Keluarga
1. Definisi, Tujuan, Teknik, dan Prinsip Pengasuhan
Perihal yang menjadi dasar dalam pembentukan
kepribadian anak adalah pengasuhan yang dilakukan oleh
orang tua kepadanya (Smith, 2002). Perilaku sosial anak
pada saat berada di lingkungan sekolah merupakan salah
satu hasil pengasuhan orang tua yang tampak.
Problematika anak di lingkungan sekolah tidak terlepas
dari pengasuhan orang tua pada lingkungan keluarga di
rumah. Prestasi anak di sekolah baik dari segi akademik
maupun non-akademik sangat ditunjang oleh pengasuhan
terhadap anak dalam keluarganya. Pendidikan yang
dipraktikkan di sekolah sebaiknya dapat bersinergi
dengan pendidikan yang diadakan di keluarga (Mubarok,
2016).
Pengasuhan dapat berarti perilaku orang tua yang
berpengaruh terhadap kemampuan emosional, intelektual,
dan sosial anaknya. Pengasuhan berarti juga sebagai
pembimbingan, pengarahan, pembelajaran dan pemberian
pengaruh kepada anak supaya kelak lebih bisa berfikir
secara matang dan mandiri. Pengasuhan orang tua dapat
pula diartikan sebagai gambaran perilaku interaksi,
komunikasi, antara orang tua dan anak (Sukesi, 2015).
Konsep pengasuhan orang tua juga dapat diartikan sebagai
proses yang meliputi pemberian makan, penjagaan dan
pemberian bimbingan kepada anak dalam melewati masa
perkembangan (Missiliana & Handayani, 2014).
Pengasuhan dalam definisi yang lain diartikan sebagai
sebuah proses interaksi yang berlangsung secara

berkelanjutan dan mempengaruhi baik bagi anak bahkan
juga bagi orang tua (Wibowo & Saidiyah, 2013). Sehaluan
dengan definisi tersebut, Brooks (2011) mendefinisikan
pengasuhan sebagai suatu proses interaksi dan tindakan
antara orang tua dan anak yang mana kedua belah pihak
dapat saling mengubah satu dengan lainnya. Perlakuan
ibu kepada anak dapat berpengaruh terhadap fisik dan
mental mereka untuk berkembang sesuai dengan
keinginan ibu yang mengasuhnya. Lebih ringkas dan
padat Syukur (2015) mendefinisikan pengasuhan sebagai
pengetahuan, pengalaman, keahlian dalam melakukan
pemeliharaan, perlindungan, pemberian kasih sayang dan
pengarahan kepada anak.
Pengasuhan dapat pula diterjemahkan sebagai
kegiatan yang memiliki tujuan agar anak dapat
berkembang dan dapat bertahan menghadapi tantangan
dari lingkungannya. Potensi anak dapat dikembangkan
melalui serangkaian stimulus psikososial dari orang tua
dan lingkungan (Erlanti et al., 2015). Pengasuhan
merupakan proses merawat dan mendidik anak dari lahir
hingga dewasa. Hal ini biasanya dilakukan oleh ayah dan
ibu dalam sebuah keluarga. Namun bila orang tua tidak
mampu atau tidak bersedia mengasuh anak, maka
biasanya hal ini dilakukan oleh keluarga terdekat
(Putranti, 2008). Gaya pengasuhan merupakan pola
perilaku orang tua yang paling menonjol atau dominan
dalam menangani anak-anaknya sehari-hari (Alfiasari,
Latifah, & Wulandari, 2011).
Pengasuhan juga merupakan suatu tindakan ataupun
proses atas fungsi-fungsi sebagai orang tua. Pengasuhan
dapat berarti suatu tindakan ataupun proses yang dinamis
untuk merawat anak-anak dengan baik. Pengasuhan
secara umum juga dipandang sebagai sebuah proses
32

sosialisasi dari orang tua dalam mempengaruhi anak
anaknya agar dapat berperilaku sesuai dengan lingkungan
sosial berdasarkan keyakinan, nilai-nilai, dan pandangan
atas harapan sosial dari orang tua itu sendiri. Akan tetapi
pengasuhan merupakan suatu proses dua arah dan sebuah
transaksi antara orang tua dan anak, bukan hanya sekedar
sesuatu yang “dilakukan” orang tua untuk anak (Putranti,
2008).
Setelah mengkaji dan memahami berbagai definisi
yang dikemukakan oleh beberapa pakar pengasuhan anak
di atas, penulis berusaha menyimpulkan dan memberikan
definisi pengasuhan secara tersendiri. Adapun definisi
pengasuhan menurut penulis adalah segala upaya yang
dilakukan oleh orang tua atau penggantinya atau sinergi
keduanya baik berupa bimbingan, arahan,
pendidikan, sikap, perilaku dan sebagainya terhadap anak
dari segi fisik ataupun mental secara dinamis dan
berkesinambungan dengan menggunakan teknik dan
prinsip tertentu serta memiliki tujuan tertentu sehingga
terjadi perubahan dan memberikan pengaruh pada
kehidupan anak.

dari

Tujuan Pengasuhan
Beralih dari pengertian pengasuhan kepada tujuan
pengasuhan. Merujuk pada hasil penelitian, didapatkan
sebuah kesimpulan bahwa sebagian besar orang tua tidak
pernah merumuskan apa tujuan pengasuhan anak mereka
(Hidayah, Tarnoto, & Maharani, 2018; A. Sumargi,
Sofronoff, & Morawska, 2015). Pengasuhan akan lebih
terlihat hasilnya jika tujuan pengasuhan itu dirumuskan.
Adapun tujuan pengasuhan adalah tercapainya hasil
perkembangan pada anak yang diharapkan orang tua
melalui pengasuhan. Tujuan pengasuhan memiliki
33

pengaruh bagi anak melalui model dan praktik
pengasuhan. Tujuan pengasuhan meliputi sejumlah
keterampilan, regulasi diri, dan nilai-nilai. Tujuan
pengasuhan terkait dengan keyakinan atau prinsip orang
tua yang dipengaruhi oleh harapan masyarakat dan faktor
budaya (Etikawati, Siregar, Widjaja, & Jatnika, 2019).
Tujuan pengasuhan pada masa kanak-kanak tidak
sama dengan tujuan pegasuhan pada masa remaja, kuliah,
ataupun dewasa. Pengasuhan pada masa anak-anak lebih
difokuskan pada kondisi fisik anak. Pengasuhan pada usia
remaja berfokus pada keterampilan motorik yang
berhubungan dengan kegiatan baik akademik maupun
non akademik. Pengasuhan pada usia kuliah dan dewasa
lebih bertujuan untuk kegiatan pekerjaan dan sosial.
Tujuan lain dari pengasuhan ialah untuk meningkatkan
kompetensi fisik, gizi, dan kesehatan anak, serta untuk
meningkatkan kompetensi intelektual, emosi, sosial,
moral, dan kepercayaan diri anak (Syukur, 2015).
Lebih lanjut Syukur (2015) memperinci tujuan
pengasuhan adalah untuk memastikan kesehatan fisik dan
kemampuan bertahan hidup; membangun kapasitas
tingkah laku agar mampu mandiri secara ekonomi; dan
laku
menanamkan
kapasitas
tingkah
untuk
memaksimalkan nilai kebudayaan seperti moral dan
prestasi. Penelitian lain menyebutkan bahwa ada tiga
tujuan utama yang terpenting dalam memberikan
pengasuhan kepada anak, yakni kesehatan dan keamanan
anak, kesiapan anak untuk hidup produktif setelah
dewasa, dan kemampuan mentransmisikan nilai-nilai
budaya. Hubungan yang baik dan berkualitas antara anak
dan orang tua merupakan perihal penting bagi
perkembangan anak (Hidayati, Kaloeti, & Karyono, 2002).

34

Menurut Erlanti et al., (2015) tujuan dari pengasuhan
secara rinci yaitu: 1. Menjamin kesehatan fisik (gizi dan
kesehatan) dan kelangsungan hidup anak; 2. Menyiapkan
agar anak menjadi orang dewasa yang mandiri dan
bertanggung jawab baik secara ekonomi, sosial dan moral;
3. Mendorong perilaku individu yang positif, termasuk
cara penyesuaian diri, kemampuan intelektual, dan
kemampuan berinteraksi sosial dengan orang lain agar
dapat bertanggung jawab dan bermanfaat bagi lingkungan
sekitar.
Setelah mengkaji berbagai tujuan pengasuhan yang
dipaparkan oleh beberapa pakar pengasuhan anak di atas,
penulis menyimpulkan tujuan pengasuhan secara
tersendiri. Adapun tujuan pengasuhan adalah tercapainya
hasil pertumbuhan dan perkembangan pada anak dengan
menjamin kesehatan fisik, pemenuhan gizi, keamanan dan
kelangsungan hidup, serta menyiapkan anak menjadi
orang dewasa yang memiliki kemampuan intelektual,
kecerdasan emosional, berperilaku positif, produktif,
percaya diri, mandiri secara ekonomi, bertanggung jawab,
dan mampu berinteraksi sosial dengan tetap
memperhatikan dan menyesuaikan jenjang pengasuhan
dari masa anak-anak, remaja, hingga dewasa.
Teknik Pengasuhan
Teknik pengasuhan mencakup orang-orang yang
memberikan respon tindakan anak dalam upaya untuk
memfasilitasi perilaku yang dapat diterima secara sosial.
Teknik ini meliputi kedisiplinan, monitoring, reward,
rutinitas sehari-hari, dan prearming. Pertama, adalah teknik
disiplin, setiap orang tua mengajarkan perilaku disiplin
kepada anak-anaknya. Karakter orang tua dan anak-anak
berbeda-beda sehingga setiap orang tua mungkin
35

menerapkan teknik yang berbeda-beda pula. Kedua, teknik
monitoring
dilakukan untuk
atau pemantauan,
mengetahui kegiatan apa yang dilakukan anak, bagaimana
kondisi anak, dan dampaknya kepada anak. Teknik
monitoring ini diterapkan sejak anak lahir bahkan sampai
anak beranjak dewasa.
Ketiga, reward atau penghargaan. Teknik ini diterapkan
dengan memberi penghargaan apabila anak patuh dan
melakukan suatu perilaku yang positif. Keempat, rutinitas
sehari-hari. Diterapkan dengan memberikan suatu tugas
yang dilakukan sehari-hari seperti membantu mencuci
piring, menyapu, merapikan tempat tidur. Teknik ini
bertujuan untuk menumbuhkan sikap mandiri dan rajin
pada anak. Kelima, prearming adalah teknik yang
diterapkan oleh orang tua dalam hal berkomunikasi.
Orang tua mengkomunikasikan kepada anak apa yang
baik dan apa yang tidak baik untuk dilakukan serta
menjelaskan alasannya (Erlanti et al., 2015).
Teknik-teknik parenting tersebut tentu perlu
disesuaikan dengan karakter dan kondisi anak. Orang tua
yang mempersiapkan dan membekali dirinya dengan
pengetahuan yang memadai mengenai pengasuhan dan
memahami karakter anak mereka dapat menerapkan
teknik parenting yang tepat dan sesuai dalam mengasuh
anak mereka. Kendala dalam pengasuhan anak terjadi
pada keluarga dengan orang tua tunggal. Biasanya orang
tua tunggal merasa lebih tertekan daripada orang tua utuh
dalam kemampuan mengasuh anak (Astuti, 2016).
Rahmawati (2017) memperkenalkan teknik holistic
parenting, yakni teknik pengasuhan dan pendidikan Islam
yang menyangkut permasalahan individual atau sosial
peserta didik/anak dan pendidik/pengasuh itu sendiri.
Seorang
36

pendidik/pengasuh

dalam

menggunakan

teknik/metode harus memperhatikan dasar-dasar umum
teknik pendidikan Islam. Teknik holistic parenting mengacu
pada lima perihal mendasar, yaitu keteladanan,
pembiasaan, nasihat, perhatian dan kontrol, serta apresiasi
positif dan negatif.
Pertama adalah keteladanan. Keteladanan adalah cara
paling efektif dalam mendidik, anak akan mengikuti
perkataan, perbuatan, maupun sikap orang tua, disadari
atau tidak. Meski anak memiliki potensi untuk menjadi
baik, namun selama pendidik tidak mencontohkan dalam
perilakunya, maka sulit bagi anak untuk mengikutinya. Ini
didasarkan pada ayat Al-Qur’an Surah al-Ahzab ayat 33
yang menyatakan bahwa pada diri Rasulullah saw.
terdapat suri teladan yang baik, dan Al-Qur’an Surah ash
Shaff ayat 2 yang intinya adalah larangan mengatakan
sesuatu yang dia sendiri tidak dapat mengerjakan.
Kedua adalah pembiasaan dan pendisiplinan,
mengambil peran dalam pertumbuhan anak. Pembiasaan
berasal dari lingkungan yang kondusif sehingga anak
terbiasa melihat perilaku yang beretika. Apabila anak
dibiasakan dengan kejelekan dan diabaikan begitu saja,
maka ia akan sengsara dan celaka. Maka dari itu, menjaga
anak adalah dengan mendidik, mendisiplinkan dan
mengajarkannya akhlak yang terpuji. Ini didasarkan pada
firman Allah swt. dalam Al-Qur’an Surah al-Insan ayat 3
bahwa setiap manusia telah ditunjukkan kepada dua jalan,
yaitu jalan yang lurus dan jalan yang sesat. Pendidik perlu
membiasakan anak untuk menempuh jalan yang lurus
dengan perilaku-perilaku yang mulia.
Ketiga adalah nasihat, sebagaimana di dalam Al
Qur’an yang dipenuhi dengan ayat-ayat nasihat sebagai
asas pendidikan. Nasihat diberikan dalam berbagai bentuk
serta isi, terkadang dalam bentuk untuk mengingatkan
37

ketakwaan, perinagatan, anjuran, memberikan semangat,
bahkan juga peringatan. Nasihat merupakan isi dari
komunikasi, yang berupa penyampaian pesan kepada
pendengar dengan muatan tertentu. Isi dari komunikasi
bisa bermacam-macam, disesuaikan dengan arah perilaku
yang akan dibentuk. Teknik komunikasi menjadi penting
dalam pemberian nasihat. Ini dilandaskan kepada ayat Al
Qur’an Surah An-Nahl ayat 125 yang memerintahkan
untuk menyeru manusia kepada jalan Rabb-nya dengan
hikmah dan pelajaran yang baik dan membantah orang
lain dengan cara yang lebih baik pula.
Keempat, perhatian dan kontrol, diberikan orang tua
secara berimbang. Perhatian berarti membangun suasana
psikologi sehingga anak dan orang tua memiliki kedekatan
emosi. Bentuk perhatian juga berarti menyediakan waktu
untuk terlibat dalam kegiatan anak dan memberikan
perhatian pada masa tumbuh kembangnya. Sementara
kontrol berarti pengawasan terhadap tingkah laku anak.
Kontrol merupakan cara agar anak tetap menunjukkan
tingkah laku yang sesuai aturan. Perhatian dan kontrol
diberikan pada semua aspek perkembangan anak, seperti
pada perkembangan mental, perkembangan jasmani,
perkembangan sosial dan perkembangan rohani.
Kelima ialah apresiasi. Apresiasi diberikan kepada
anak untuk memperkuat tingkah laku yang positif dan
menghilangkan tingkah laku negatif. Apresiasi merupakan
bentuk konsekuensi dari tingkah laku yang ditunjukkan
anak. Prinsip-prinsip dalam pemberian apresiasi dan
hukuman:
a. pendidik melakukannya dengan sikap lemah lembut
terhadap anak;
b. pendidik memperhatikan karakter anak. Bila anak
memiliki sifat yang keras, maka sanksi perlu
38

ditegakkan. Namun bila anak memiliki sifat sensitif,
maka sanksi yang diberikan disesuaikan dengan
karakter anak;
c. memberikan hukuman secara bertahap dari ringan
hingga hukuman yang keras. Dalam pemberian
sanksi, perlu diperhatikan tingkat pelanggarannya
serta

frekuensi anak melakukan pelanggaran.
Hukuman diberikan secara bertahap dari mulai yang
ringan hingga hukuman yang lebih keras, ketika
efeknya tidak membekas pada diri anak;
d. menunjukkan kesalahan tingkah lakunya sehingga
dapat menjadi pembelajaran. Dalam memberikan
sanksi, perlu ditunjukkan kesalahan yang dilakukan
anak,
sehingga
anak
mengetahui
bentuk
dan
mengulanginya
kesalahannya
tidak
pada masa
yang akan datang. Sanksi diberikan kepada anak atas
kesalahannya dan bukan pada sosok/pribadi anak.
Artinya walaupun anak melakukan kesalahan, tetapi
orang

tua

tetap

menyayangi
anak
kebaikan
dirinya.
mengharapkan
pada

dan

Prinsip Pengasuhan
Beralih pada prinsip pengasuhan, setidaknya ada tiga
prinsip pengasuhan ramah anak, yaitu (1) pendidikan
tanpa diskriminasi yang bermakna perlakukan anak
dengan seadil-adilnya tanpa membeda-bedakan anak atas
dasar perbedaan asal usul, suku, agama, ras, jenis kelamin,
dan status sosial; (2) pendidikan tanpa kekerasan, yaitu
pendidikan yang menghargai hak-hak anak dan
memberikan kepercayaan penuh kepada anak serta
menghindari pelampiasan kemarahan pada anak; (3)
pendidikan dengan kasih sayang, yakni pendidikan
dengan penuh kasih sayang yang memberikan kasih
39

sayang dalam mendidik sehingga anak dapat hidup
dengan karakter positif dan rasa percaya diri yang tinggi
karena mereka merasa terlindungi dan nyaman (Wahyuni,
Desyanty, & Redjeki, 2018).
Setingkat lebih rendah, prinsip pengasuhan pada
pendidikan anak usia dini (PAUD) menurut perspektif
Islam mencakup prinsip mendahulukan penanaman
akidah, menuntun dan menuntut aktualisasi ibadah,
pembinaan akhlak mulia dan melatih kemandirian serta
prinsip keseimbangan antara dunia dan akherat serta
prinsip keseimbangan antara ilmu dan amal (Agus, 2018).
Pengembangkan metode pendidikan untuk anak juga
disebutkan oleh Maria Montessori dengan menerapkan
lima aspek yang merupakan prinsip utama, yaitu
pentingnya kebebasan, struktur dan keteraturan alam
semesta, realistis dan alami, keindahan dan nuansa, serta
aspek alat bermain (Muzammil, 2018).
Montessori (2015) mengungkapkan bagaimana
pelajaran-pelajaran seharusnya diberikan. Khususnya
dalam pelajaran-pelajaran individual terdapat beberapa
karakteristik yang disampaikan, yakni kepadatan dan
keringkasan materi, kesederhanaan, dan objektivitas.
Montessori juga mengajarkan latihan keterampilan hidup
sehari-hari yang meliputi kebersihan, keteraturan,
ketenangan, dan percakapan. Beberapa aspek fisik yang
diajarkan Montessori meliputi pola makan dengan
menerapkan program diet anak, pendidikan otot dengan
menerapkan senam-senam, melakukan pekerjaan kreatif
dengan membuat tembikar dan bangunan, sampai pada
pendidikan indra-indra dan ilustrasi-ilustrasi tentang
bahan pembelajaran yang meliputi kepekaan umum, indra
sentuhan, suhu, dan tekanan.

40

Ilmu pengetahuan, pengalaman, ketrampilan, serta
kesabaran sangat dibutuhkan dalam mengasuh anak.
Beberapa prinsip mendasar yang dapat diterapkan dalam
pengasuhan anak tersebut antara lain prinsip kasih sayang,
kedisiplinan, meluangkan waktu untuk kebersamaan,
membedakan antara benar dan salah, mengembangkan
sikap saling menghargai, memperhatikan anak dan
mendengarkan pendapatnya, membantu mengatasi
masalah, melatih anak agar dapat mengenal diri dan
lingkungan, mengembangkan sikap kemandirian anak,
memahami kekurangan dan keterbatasan anak, dan
menerapkan nilai-nilai spiritual keagamaan dalam
kehidupan sehari-hari anak.
a. Prinsip kasih sayang
Menurut Solichin (2001) anak-anak sejak kecil sudah
dapat merasakan bahwa ia disayangi, diperhatikan,
disenangi, dihargai, dan diterima. Kasih sayang
dapat ditunjukkan secara wajar sesuai dengan
tahapan usia anak, misal dengan cara mencium pipi,
membelai rambut, memuji kebaikan, menepuk bahu,
berbicara dan sebagainya. Orang tua harus bersifat
tulus dalam memberikan kasih sayang, bahkan
ketika anak melakukan kesalahan sekalipun. Kasih
sayang harus nyata dan benar-benar dapat dirasakan
oleh anak. Suasana kasih sayang sangat penting
diupayakan dalam kehidupan berkeluarga agar
menjadi uswah baginya.
Kasih sayang yang diberikan akan membuat
anak merasa nyaman tinggal bersama keluarga.
Lingkungan keluarga sebagai tempat tumbuh
kembang dapat menanamkan kasih sayang dalam
hati anak. Kecukupan kasih sayang yang didapat

41

anak akan menjadinya memiliki jiwa penyayang,
serta mampu membalas kasih sayang (Yusuf, 2011).
b. Penanaman nilai kedisiplinan
Tata tertib dalam keluarga sangat perlu dibuat dan
diterapkan kepada anak. Tata tertib dijadikan
sebagai pedoman, sehingga mereka mengetahui
perbuatan yang boleh dilaukan dan perbuatan yang
dilarang. Tata tertib berfungsi untuk melatih
kedisiplinan sehingga anak dapat mengendalikan
diri dan memiliki sikap tanggung jawab.
Kedisiplinan sangat penting dimiliki anak sehingga
apabila kelak sudah dewasa mereka akan terbiasa
menyesuaikan diri dengan norma dan aturan yang
berlaku dalam masyarakat. Ada sepuluh cara
menanamkan disiplin pada anak, yaitu: konsisten,
jelas, memperhatikan harga diri anak, beralasan dan
dapat dimengerti, memberikan hadiah, hukuman,
luwes, keterlibatan anak, bersikap tegas, dan tidak
emosional.
c. Meluangkan waktu untuk kebersamaan
Meluangkan waktu bersama anak merupakan hal
yang amat penting dalam pengasuhan sehingga
tercipta lingkungan dan suasana yang menunjang
perkembangan mereka. Bermain bersama dengan
anak, berbicara, saling menanggapi dan mendengar,
mengajarkan aktivitas harian seperti mencuci, masak
nasi, berdandan, melakukan kegiatan bersama secara
rutin dan teratur seperti bermain, bersih-bersih,
makan, berlibur dan sebagainya (Sukesi, 2015).
d. Membedakan antara benar dan salah
Anak harus dapat membedakan antara baik dan
buruk atau antara yang benar dan yang salah. Perihal
yang perlu disampaikan terkait nilai-nilai yang
42

keluarga,
dalam
diberlakukan
lingkungan
masyarakat, dan budaya misalnya peraturan lokal,
adat, susila dan lainnya. Ini dibutuhkan supaya
mereka kelak tidak mengalami kesulitan dalam
menyesuaikan diri untuk bermasyarakat. Perilaku
yang baik akan diterima oleh masyarakat dan
perilaku yang buruk akan ditolak oleh masyarakat.
e. Mengembangkan sikap saling menghargai
Sikap saling menghargai antar sesama dapat
diterapkan oleh orang tua melalui beberapa contoh
praktis seperti ketika orang tua salah mereka tidak
sungkan meminta maaf. Anak didorong oleh orang
tua agar dapat menghormati dan menghargai orang
yang lebih tua. Orang tua menunjukkan perhatian
terhadap kegiatan anak, tulus setiap saat, berlaku
jujur dan tidak pilih kasih, kebiasaan menepati janji
dan memberikan kepercayaan kepada anak.
f. Memperhatikan
dan
anak
mendengarkan
pendapatnya
Perhatian yang diberikan pada anak sejak dini
merupakan perihal yang membutuhkan kesabaran
dan ketelatenan. Mendengarkan keluhan anak dan
berusaha untuk menghargai pendapatnya tanpa
mempengaruhinya. Hal ini akan membuat
hubungan menjadi lebih dekat. Anak tidak segan
untuk mengungkapkan perasaannya, termasuk
perasaan yang buruk seperti rasa marah dan tidak
senang, tanpa takut kehilangan kasih sayang dari
orang tua.
g. Membantu mengatasi masalah
Carol, Halsey, Laurent, & Sullivan, (2009)
mengungkapkan bahwa membantu anak dalam
dapat
mereka
menyelesaikan
permasalahan
43

menumbuhkan kepercayaan diri dan keyakinan
akan dirinya sendiri serta mampu untuk bangkit saat
mengalami kegagalan. Ketika anak menghadapi
problematika hendaknya orang tua memberikan
dukungan kepadanya untuk dapat menyelesaikan
sendiri problematika dan permasalahan yang
mereka hadapi sebelum orang tua turut campur
menyelesaikannya. Anak akan merasa bangga
dia
apabila
mampu
menyelesaikan
sendiri.
Orang
tua
permasalahannya
sebaiknya
sikap
masalah
dan
menanamkan
untuk menghindari
tidak mencari masalah, namun jika mendapati
permasalahan maka harus segera diselesaikan.
h. Melatih anak agar dapat mengenal diri dan
lingkungan
Orang tua perlu melatih anak untuk mengenal
dirinya sendiri dan orang lain, seperti: bapak dan
ibu, kakak dan nenek, karib kerabat, teman sebaya,
tetangga, serta lainnya sehingga relasi anak menjadi
luas. Anak perlu diajarkan untuk mengenal emosi
dan cara menyalurkannya dengan benar agar
nantinya tidak berperilaku arogan kepada orang lain
di sekitarnya. Mengenal lingkungan dalam arti
mengenal dan dapat membedakan mana yang baik
dan mana yang buruk. Kemudian anak diarahkan
untuk mengikuti perihal baik, dan itu yang akan
lebih diterima oleh masyarakat luas, serta
menghindari perihal yang buruk, dan itu yang akan
dikucilkan dan dikesampingkan oleh masyarakat.
i. Mengembangkan sikap kemandirian anak
Inisiatif anak dapat tumbuh dan berkembang melalui
rangsangan oleh orang tua. Mereka perlu diberi
kebebasan untuk mengembangkan diri. Orang tua
44

memberikan kesempatan pada anak melakukan
sesuatu sesuai keinginannya dengan ketentuan tidak
melawan adat istiadat masyarakat. Orang tua dapat
mememaksimalkan inisiatif anak, dengan memberi
kan pujian atas buah karya mereka. Celaan yang
dilontarkan terhadap hasil karya anak akan
membekas baginya dan kepercayaan diri menjadi
berkurang. Anak menjadi bersikap tidak peduli,
acuh tak acuh, sulit membuat keputusan dan terus
bergantung pada lainnya.
j. Memahami kekurangan dan keterbatasan anak
Orang tua yang baik akan mengetahui apa yang
menjadi kekurangan dan apa yang menjadi
kelebihan anak. Orang tua hendaknya tidak
menuntut hal-hal yang melebihi kemampuan anak,
dan tidak pula membandingkan kelebihan dan
kekurangan antar anak. Carol et al., (2009)
mengatakan bahwa anak yang berusia enam tahun
mampu merasakan keadilan, mereka ingin
disamakan dengan saudaranya yang lain.
Seharusnya orang tua dapat berbagi perhatian dan
kasih sayang yang sepadan kepada anak-anak dan
menjauhi sikap negatif seperti pilih kasih supaya
tidak tumbuh rasa iri hati dan kebencian antaranak
dalam keluarga.
k. Menerapkan nilai-nilai spiritual keagamaan dalam
kehidupan sehari-hari
Cara paling efektif dan paling baik yang diterapkan
oleh orang tua dalam mengajarkan nilai-nilai
spiritual keagamaan dalam kehidupan sehari-hari
adalah dengan memberikan contoh praktis secara
langsung dan mengajak anak untuk berbuat perihal
yang sama, misalnya berdoa sebelum melakukan
45

suatu kegiatan seperti makan, tidur dan sebagainya,
mensyukuri nikmat yang sudah diberikan,
memaafkan kesalahan orang lain, memberikan
sebagian rejeki kepada fakir miskin, membantu
orang yang minta pertolongan, dan sebagainya
(Sukesi, 2015). Bagaimanapun perkembangan
manusia, dia tetap membutuhkan tempat gantungan
spiritual yang kokoh. Sebab, kebutuhan terhadap hal
yang bersifat spiritual merupakan sesuatu yang fitri
yang akan selalu muncul di hati nurani serta batiniah
manusia (Arifin, 1994).
Nilai-nilai lain yang dapat diajarkan kepada
anak ialah dengan menanamkan aqidah yang benar,
menjalin keakraban dengan anak seperti dengan
menggendongnya, mengajak bermain, melatih
ketangkasan, atau sekedar memberikan sesuatu yang
menyenangkan bagi anak, memberi label yang baik
pada anak, menyayangi anak dengan sepenuh hati,
berlaku adil pada semua anak misal dalam
memberikan nafkah ataupun hadiah, mendidik
dengan baik dan benar, memberi teladan berupa
ketakwaan, kesabaran, tanggung jawab dan keikhla
san, tidak memberi hukuman secara berlebihan, dan
tidak memaksakan kehendak anak (Ahmad, 2015).
Penerapan prinsip pengasuhan tersebut mengandung
similaritas dengan penerapan etika di pondok pesantren
modern Gontor yang amat menekankan nilai-nilai
keikhlasan, kejujuran, kesederhanaan, keterbukaan,
kebersamaan, kemanfaatan diri pada yang lain (Nurhakim,
2011). Totalitas penerapan prinsip pengasuhan anak yang
dijalankan orang tua berdampak signifikan dalam
membentuk kematangan dan kemampuan anak. Sebagai
46

negara muslim terbesar di dunia dan dikenal beragama,
bangsa Indonesia harus memiliki karakter yang kuat baik
soft skill maupun life skill Nabi Muhammad sebagai
karakter yang jujur, bertanggung jawab, cerdas dan
berintegritas. Karakter utama Nabi Muhammad harus
dianggap sebagai nilai-nilai yang hidup (Tobroni, 2014).
Sementara dalam Standar Nasional Pengasuhan Anak,
prinsip-prinsip utama pengasuhan alternatif untuk anak
meliputi hal-hal berikut.
a. Hak anak untuk memiliki keluarga
Anak, untuk perkembangan kepribadiannya secara
sepenuhnya dan serasi, harus tumbuh berkembang
dalam lingkungan keluarganya dalam suasana
kebahagiaan, cinta dan pengertian (Pembukaan
Konvensi Hak-Hak Anak). Setiap anak berhak untuk
diasuh oleh orang tuanya sendiri, kecuali jika ada
alasan dan/atau aturan hukum yang sah
menunjukkan bahwa pemisahan itu adalah demi
kepentingan terbaik bagi anak dan merupakan
pertimbangan terakhir (Pasal 14 UU Nomor 23
Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak).
b. Tanggung jawab dan peran orang tua dan keluarga
Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab
untuk: mengasuh, memelihara, mendidik, dan
melindungi anak; menumbuhkembangkan anak
sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya;
dan mencegah terjadinya perkawinan pada usia
anak-anak. Dalam hal orang tua tidak ada, atau tidak
diketahui keberadaannya, atau karena suatu sebab,
tidak dapat melaksanakan kewajiban dan tanggung
jawabnya, maka kewajiban dan tanggung jawab
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat beralih
kepada keluarga, yang dilaksanakan sesuai dengan
47

ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku (Pasal 26 UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak).
c. Pencegahan keterpisahan keluarga
Pencegahan keterpisahan keluarga harus selalu
menjadi tujuan utama dalam penyelenggaran
pelayanan untuk anak-anak, kecuali jika ada alasan
dan/atau aturan hukum yang sah menunjukkan
bahwa pemisahan itu adalah demi kepentingan
terbaik bagi anak dan merupakan pertimbangan
terakhir. Dalam lingkup pengasuhan, tujuan utama
pelayanan sosial bagi anak adalah memperkuat
kapasitas orang tua dan keluarga untuk
melaksanakan tanggung jawab terhadap anaknya
dan menghindari kehancuran dari keluarga.
d. Kontinum pengasuhan
Pengasuhan anak merupakan satu kontinum dari
pengasuhan keluarga sampai dengan pengasuhan
yang dilakukan oleh pihak lain di luar keluarga atau
disebut dengan pengasuhan alternatif. Jika
ditentukan bahwa pengasuhan di dalam keluarga
tidak dimungkinkan atau tidak sesuai dengan
kepentingan terbaik anak, maka pengasuhan anak
berbasis keluarga pengganti melalui orang tua asuh
(fostering), perwalian, dan pengangkatan anak harus
menjadi prioritas sesuai dengan situasi dan
kebutuhan pengasuhan anak.
e. Dukungan kepada keluarga untuk pengasuhan
Alasan ekonomi dan kemiskinan tidak boleh menjadi
alasan utama bagi pemisahan anak dari keluarga dan
penempatan anak dalam pelayanan Lembaga
Kesejahteraan Sosial Anak. Semua organisasi yang
menyelenggarakan pelayanan sosial bagi anak-anak
48

yang tergolong rentan, termasuk Lembaga
Kesejahteraan Sosial Anak, harus memfasilitasi
bantuan bagi kebutuhan pengasuhan anak dalam
keluarga mereka, termasuk bantuan keuangan dan
psikososial agar anak tidak ditempatkan di Lembaga
Kesejahteraan Sosial Anak karena alasan ekonomi.
f. Tanggung jawab negara
Jika keluarga anak tidak memberikan pengasuhan
yang memadai sekalipun dengan dukungan yang
sesuai, mengabaikan, atau melepaskan tanggung
jawab terhadap anaknya, maka Negara melalui
instansi pemerintah setempat yang berwenang atau
melalui organisasi masyarakat yang diberi izin,
bertanggung jawab untuk melindungi hak-hak anak
dan menjamin pengasuhan alternatif yang sesuai.
Tanggung jawab negara, melalui instansi yang
berwenang, adalah untuk menjamin supervisi
keselamatan, kesejahteraan diri, dan perkembangan
setiap anak yang ditempatkan dalam pengasuhan
alternatif dan melakukan review secara teratur
tentang ketepatan situasi pengasuhan yang
disediakan.
2. Pengasuhan dan Keluarga
Rochaniningsih (2014) menjabarkan fungsi keluarga
adalah sebagai pengaturan seksual; reproduksi; sosialisasi;
pemeliharaan; penempatan anak di dalam masyarakat;
pemuas kebutuhan seseorang; dan kontrol sosial. Masalah
yang dihadapi anak-anak, menurut teori sistem, muncul
akibat fungsional keluarga tidak optimal. Senada dengan
Abdullah et al., (2013) yang menjabarkan beberapa fungsi
penting keluarga iaitu reproduksi, menentukan pasangan
seksual yang sah, kerjasama dari segi ekonomi, sosialisasi
49

anak-anak, rekreasi dan menyediakan penjagaan untuk
anak-anak, warga tua dan mereka yang tidak berupaya.
Model pengasuhan yang berbeda antara kedua orang tua
akan menyebabkan anak berperilaku sesuai yang
dikehendakinya sendiri karena tidak ada aturan yang pasti
yang harus dijalankan (Andayani, 2000).
Fungsi yang dijalankan keluarga menurut Amir &
Trianasari (2013) adalah sebagai berikut:
a. Fungsi Pendidikan, dapat diamati dari cara keluarga
mendidik dan menyekolahkan anak. orang tua yang
peduli akan masa depan anaknya pasti tidak akan
sembarangan memasukkan anak ke lembaga sekolah
tertentu. Sedikit banyak ada selektivitas untuk
menyekolahkan anak.
b. Fungsi Sosialisasi anak, dapat diamati dari cara
keluarga menyiapkan anak menjadi bagian dari
masyarakat. Semakin sering anak diikutsertakan dan
dilibatkan dalam berbagai kegiatan masyarakat
maka semakin tinggi pula jiwa sosial anak nantinya.
c. Fungsi Perlindungan, dapat diamati dari cara
keluarga melindungi anak sehingga mereka merasa
aman dan terlindungi. Dalam kehidupan ini, bahaya
moral dapat menyerang siapa pun tanpa
memandang status, posisi, kekayaan, dan gelar
ilmiah. Orang dapat melakukan kejahatan dapat
bergerak atau didorong oleh kebutuhan, atau
keinginan (nafsu) dan keserakahan (Tobroni, 2018).
d. Fungsi Perasaan, dapat diamati dari cara keluarga
memperhatikan suasana, perasaan anak dan anggota
keluarga

dalam
lainnya
berinteraksi
dan
Sangat
disayangkan
masih
berkomunikasi.
banyak
tua
yang
memaksakan
orang
terkesan
kehendak dan
bertindak tanpa mengindahkan perasaan anak.
50

Komunikasi yang tepat oleh orang tua kepada
anaknya dapat lebih mengembangkan sikap terbuka
pada anak balita, sikap empati kepada remaja dan
dapat mengembangkan sikap sportif kepada anak
balita dan remaja (Sari, 2014).
e. Fungsi Agama, dapat diamati dari cara keluarga
menanamkan keyakinan untuk mengatur kehidupan
sekarang dan kehidupan lain setelah di
dunia.umumnya orang tua akan menanamkan
keyakinan kepada anak sesuai dengan keyakinan
yang dianutnya. Berbeda dengan orang tua beda
agama, maka anak bisa mengikuti salah satu
kepercayaan yang dianut oleh orang tuanya.
f. Fungsi Ekonomi, dapat diamati dari cara kepala
mengatur
keluarga
mencari
penghasilan,
penghasilan sedemikian rupa sehingga dapat
memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga. Orang
tua yang berkecukupan tidak akan merasa khawatir
terhadap kebutuhan keluarga. Sementara orang tua
yang hidupnya serba kekurangan sangat khawatir
dengan keadaan anak-anaknya.
g. Fungsi Rekreatif, dapat diamati dari cara
menciptakan suasana yang menyenangkan dalam
keluarga, seperti bercerita tentang pengalaman
hidup, acara nonton TV bareng, dan sebagainya.
Fungsi rekreatif tidak selalu diartikan sebagai
kegiatan berlibur ke tempat wisata dengan
meluangkan waktu dan menguras biaya.
h. Fungsi Biologis, dapat diamati dari cara keluarga
meneruskan keturunan sebagai upaya agar mata
rantai kehidupan tidak putus mewujudkan generasi
selanjutnya. Idealnya dalam sebuah keluarga terdiri

51

dari dua orang ayah dan ibu serta dua orang anak
laki-laki dan perempuan.
i. Memberikan perhatian, kasih sayang, dan rasa aman
di antara keluarga, serta membina pendewasaan
kepribadian anggota keluarga.
Silalahi (2010) berpandangan bahwa kegagalan dalam
menjalankan fungsi keluarga dapat disebabkan karena
beberapa faktor. Faktor-faktor kegagalan tersebut antara
lain: 1) faktor pribadi, di mana suami-istri kurang
menyadari akan arti dan fungsi perkawinan yang
sebenarnya. Misalnya, sifat egoisme, kurang adanya
toleransi, kurang adanya kepercayaan satu sama lain. 2)
faktor situasi khusus dalam keluarga, beberapa di
antaranya adalah: a) kehadiran terus menerus dari salah
satu orang tua baik dari pihak suami ataupun istri; b)
karena istri bekerja dan mendambakan kedudukan yang
lebih tinggi dari suaminya; c) tinggal bersama keluarga lain
dalam satu rumah; d) Suami-istri sering meninggalkan
rumah karena kesibukan di luar.
Peran keluaga dalam mendampingi anak mencapai
tahap-tahap perkembangan sosial-intelektualnya perlu
meneladani model-model pendidikan yang tertuang
dalam Al-Qur’an (seperti surah Luqman) dan juga sunnah
Rasulullah Muhammad saw. Masa keemasan (usia dini)
perkembangan anak perlu mendapatkan sentuhan
sentuhan pendidikan secara lembut dari kedua orang
tuanya, tanpa menggunakan kekerasan fisik maupun
psiskis guna menciptakan generasi-generasi muslim masa
depan yang berakhlak mulia (Rifa’i, 2018).

52

3. Model Pengasuhan
Baumrind (1978) menggambarkan dua macam tingkah
laku orang tua terhadap remaja, yaitu: parental
responsiveness dan parental demandingness. Parental
responsiveness menunjuk pada sejauh mana orang tua
menanggapi kebutuhan-kebutuhan remaja dalam suatu
sikap menerima dan mendukung. Parental demandingness
menunjuk pada sejauh mana orang tua menaruh harapan
dan tuntutan perilaku bertanggungjawab dan matang
pada remaja. Baumrind menempatkan kedua macam itu
dalam parental behavioral. Para orang tua memiliki
keragaman dalam dimensi-dimensi tersebut. Beberapa di
antaranya memperlihatkan kadar parental responsiveness
yang tinggi seperti tampak pada sikap hangat dan
menerima, dan ada yang tidak mau mendengarkan
(unresponsiveness) dan yang menolak (rejecting).
Beberapa orang tua dalam parental demandingness
tampak menuntut dan banyak sekali pengharapan
terhadap perilaku remaja mereka, sementara orang tua
lainnya serba memperbolehkan dan sedikit menuntut.
Baumrind menggabungkan parental control ke dalam
macam parental demandingness, sedangkan unsur-unsur
cinta kasih, kehangatan, dukungan, perlindungan, dan
pemeliharaan dimasukkan dalam macam gaya parental
responsiveness (M. Jannah, 2015; Steinberg, 1993).
Tiga prototipe kontrol pengasuhan orang tua, yang
sangat
masing-masing
mempengaruhi
praktik
pengasuhan anak, orang tua, pendidik, dan pakar
perkembangan anak adalah pengasuhan permissive,
authoritarian, dan authoritative (Baumrind, 1966). Satu
prototipe lain disinggung oleh Baumrind (1971) adalah
pengasuhan neglectfull. Baumrind (1991) menyinggung
model pengasuhan di atas dalam berbagai penelitiannya
53

yang lain. Model pengasuhan tersebut diklasifikasikan dan
dijabarkan sebagai berikut.
a. Pengasuhan permissive
Pengasuhan permissive dapat diartikan sebagai
pengasuhan dengan menerapkan pengabaian
terhadap anak dan yang menuruti anak. Pengasuhan
mengabaikan adalah jenis pengasuhan anak di mana
orang tua tidak mau atau enggan terlibat dalam
permasalahan kesehariannya. Anak dengan orang
tua yang seperti ini menganggap aspek lain dalam
kehidupan orang tua lebih penting dari pada diri
seperti
mereka.
ini
Pengasuhan
dapat
mengakibatkan kemampuan sosial anak cenderung
kurang, tidak mandiri, dan pengendalian diri yang
buruk. Masa remaja anak diwarnai dengan
kenakalan dan sebagainya (Baumrind, 1991).
Orang tua permissive berusaha untuk berperilaku
dengan cara yang tidak berprasangka, akseptif, dan
afirmatif terhadap impuls, keinginan, dan tindakan
anak. Orang tua berkonsultasi dengan anak tentang
keputusan kebijakan dan memberikan penjelasan
untuk aturan keluarga. Orang tua membuat sedikit
tuntutan untuk tanggung jawab rumah tangga dan
perilaku tertib. Orang tua menampilkan dirinya
kepada anak sebagai sumber daya untuk digunakan
sesuai keinginannya, bukan sebagai cita-cita baginya
untuk ditiru, juga bukan sebagai agen aktif yang
bertanggung jawab untuk membentuk atau
mengubah perilakunya yang sedang berlangsung
atau yang akan datang. Orang tua mengizinkan anak
mengatur kegiatannya sendiri sebanyak mungkin,
menghindari pelaksanaan kontrol, dan tidak
mendorongnya untuk mematuhi standar yang
54

ditetapkan secara eksternal. Orang tua mencoba
menggunakan akal dan manipulasi untuk mencapai
tujuannya, tetapi bukan dengan kekuatan
(Baumrind, 1966, 1978a, 1991).
Gaya pengasuhan permissive menggambarkan
proses pengasuhan orang tua yang tinggi
renponsifnya dan rendah tuntutannya. Orang tua
permissive bereaksi atas setiap perilaku anak, impuls
impuls, harapan, hasrat, tanpa memberi hukuman,
menerima anak, pasif dalam kedisiplinan, lunak,
serba memperbolehkan semua tindakan anak. Orang
tua permissive tidak proaktif dengan tanggung jawab
dalam membentuk perilaku anak saat ini atau yang
akan datang (M. Jannah, 2015).
Orang tua permissive menampilkan dirinya
sebagai sumber penghidupan bagi anak, dan
menuruti keinginan-keinginannya. Orang tua
anak
permissive
kebanyakan
membiarkan
perilakunya
sendiri.
Orang
menentukan
tua
tidak
memiliki
standar
sebagai
kontrol
permissive
sosial terhadap anak. Hal tersebut menjadi alasan
bagi orang tua untuk mengesampingkan aspek
kekuasaan dalam mengasuh anak. Pengasuhan
permissive mengedepankan pemberian kebebasan
secara luas kepada anak dan mempersilahkan
mereka melakukan hal-hal yang menurutnya baik
(Susilowati, 2012).
Orang tua permissive beralasan dan yakin bahwa
anak harus memiliki kebebasan, bukan dikontrol
secara ketat. Orang tua permissive menerima
kehendak anak, pasif kedisiplinan, dan lunak. Orang
tua kurang memberikan tuntutan kepada anak,
memberikan keleluasaan kepada anak untuk
55

berperilaku sesuai kehendaknya. Orang tua
permissive yakin dan percaya bahwa kontrol atau
pengendalian justru mengganggu perkembangan
kesehatan anak (H. Jannah, 2010).
Orang tua permissive memberikan kelonggaran
terhadap anak secara berlebihan dan kedisiplinan
tidak diterapkan secara konsisten. Orang tua
permissive sering mengakibatkan perasaan kecewa
bagi anak dan tidak jarang mengakibatkan ketidak
nyamanan. Akhirnya anak merasa kurang perhatian,
mereka bebas melakukan perbuatan sekehendaknya.
Perilaku yang dihasilkan dari pengasuhan permissive
ini antara lain tidak patuh, dan rentan untuk
menentang peraturan yang diterapkan. Beberapa ciri
pengasuhan permissive ialah ketika orang tua
menetapkan aturan tetapi jarang menegakkannya;
orang tua tidak sering memberi konsekuensi; dan
orang tua berfikir bahwa anak akan dapat belajar
dengan baik dengan sedikit gangguan dari orang tua.
Orang tua yang permissive bersikap lunak. Mereka
sering hanya melangkah ketika ada masalah serius
(M. Jannah, 2015).
Mereka cukup pemaaf dan mereka mengadopsi
sikap "anak-anak akan menjadi anak-anak". Ketika
mereka
menggunakan
konsekuensi,
mereka
membuat konsekuensi itu fleksibel tidak tetap.
Mereka memberikan hak istimewa kembali jika
seorang anak memohon atau mereka mengizinkan
anak untuk keluar dari batas waktu lebih awal jika
dia berjanji untuk menjadi baik. Orang tua yang
permissive biasanya mengambil lebih banyak peran
teman dari pada peran orang tua. Mereka sering
mendorong anak-anak untuk berbicara dengan
56

mereka tentang masalah mereka, tetapi mereka
biasanya tidak berupaya keras untuk mengecilkan
pilihan yang buruk atau perilaku buruk (N. D.
Kurniasari, 2015).
Anak-anak yang tumbuh dengan orang tua
permissive lebih cenderung berjuang secara akademis.
Mereka mungkin menunjukkan lebih banyak
masalah perilaku karena mereka tidak menghargai
otoritas dan aturan. Mereka sering memiliki harga
diri yang rendah dan dapat mengeluhkan banyak
kesedihan. Mereka juga berisiko lebih tinggi untuk
masalah kesehatan, seperti obesitas, karena orang tua
yang permissive berjuang untuk membatasi asupan
makanan cepat saji. Mereka bahkan lebih cenderung
memiliki gigi berlubang karena orang tua yang
permissive sering tidak menegakkan kebiasaan yang
baik, seperti memastikan seorang anak menyikat
giginya (Baumrind, 1966).
Pengasuhan permissve terbagi atas dua bentuk,
yaitu permissive indififrent, ialah pengasuhan yang
orang tua sangat tidak terlibat dalam kehidupan
anak, permissive indulgent, ialah orang tua sangat
terlibat dalam seluruh kehidupan anak. Kedua gaya
pengasuhan tersebut akan mempengaruhi tingkah
laku sosial anak (Sonita, 2013).
b. Pengasuhan Authoritarian
Pengasuhan authoritarian didefinisikan sebagai gaya
asuh orang tua yang membatasi, menghukum, serta
memaksa anak mengikuti, menghargai upaya dan
pekerjaan mereka. Orang tua authoritarian
menerapkan kendali dan batas dengan tegas kepada
mereka, mengurangi perdebatan verbal, tak jarang
memukul anak, secara kaku memaksakan aturan
57

tanpa memberi penjelasan. Anak dari orang tua
authoritarian sering mengalami minder, takut, tidak
bahagia, berat memulai aktivitas dan kemampuan
komunikasi cukup lemah (Baumrind, 1991; Sonita,
2013).
Jannah (2015) mendefinisikan gaya pengasuhan
authoritarian sebagai responsivitas rendah orang tua
dan tingginya tuntutan atas anak. Orang tua
authoritarian berusaha untuk mengontrol, menentu
kan, menilai perilaku dan sikap anak sesuai dengan
kehendak, berdasarkan standar yang ditentukan.
Orang tua authoritarian menuntut kepatuhan yang
tinggi terhadap anak, menyetujui pemberlakuan
sanksi, memaksa, mengekang kehendak anak
apabila perilaku dan keyakinan anak bertentangan
dengan pemikiran mereka. Mereka percaya bahwa
kekuasaan yang dikombinasikan dengan kepatuhan
akan berakibat baik terhadap anak.
Mereka percaya bahwa anak akan dapat
menerima perilaku yang dianggap benar oleh orang
tua. Mereka mengontrol anak dengan berbagai
peraturan. Mereka menerapkan sanksi dalam
membuat peraturan tanpa memberikan penjelasan,
namun mereka tidak berhasil memberikan
kehangatan keluarga kepada anak. Orang tua seperti
ini lebih suka memberi hukuman, tidak mengenal
istilah tawar-menawar. Pengasuhan authoritarian
minim dengan penanaman nilai-nilai etika dan lebih
menitikberatkan pada pemenuhan kebutuhan fisik
dari pada kebutuhan jasmani anak, cenderung
menuruti dan mengiyakan segala keinginan anak,
apabila anaknya tidak menangis dan mengganggu
kegiatan mereka itu sudah cukup (H. Jannah, 2010).
58

Perkataan menerima dan memberi sudah tidak
lazim dalam pengasuhan jenis ini. Anak menerima
tanpa boleh bertanya terkait aturan yang sudah
diberlakukan. Orang tua enggan mengakui perilaku
independen anak bahkan menempatkan pentingnya
batasan ruang kemandirian bagi anak. Mereka
bersikap kasar, kaku, emosional, tinggi otoritas, serta
mengabaikan kebutuhan anak. Dominasi orang tua
yang sedemikian besar mengakibatkan anak
kehilangan peluang untuk belajar secara mandiri,
termasuk mengelola konflik yang dihadapi
sepanjang perkembangan (Rahmawati, 2017a).
Orang tua authoritarian tidak mempertimbang
kan perasaan anak, anak-anak harus mengikuti
aturan tanpa terkecuali. Ketika seorang anak
mempertanyakan alasan di balik suatu aturan, orang
tua tidak tertarik untuk bernegosiasi dan fokus
mereka adalah kepatuhan. Mereka juga tidak
mengizinkan anak-anak untuk terlibat dalam
tantangan atau hambatan pemecahan masalah.
mereka
membuat
dan
Sebaliknya,
aturan
menegakkan konsekuensinya dengan sedikit
memperhatikan pendapat anak (Susilowati, 2012).
Orang tua authoritarian menggunakan hukuman
alih-alih disiplin. Jadi, alih-alih mengajari seorang
anak cara membuat pilihan yang lebih baik, mereka
malah berinvestasi membuat anak-anak merasa
bersalah atas perbuatan mereka. Anak-anak yang
tumbuh dengan orang tua authoritarian cenderung
mengikuti peraturan hampir sepanjang waktu. Tapi,
kepatuhan mereka harus dibayar. Anak-anak dari
orang tua yang authoritarian berisiko lebih tinggi

59

terkena masalah harga diri karena pendapat mereka
tidak dihargai (A. M. Sumargi & Kristi, 2017).
Mereka juga bisa menjadi bermusuhan atau
agresif dari pada memikirkan bagaimana melakukan
hal-hal yang lebih baik di masa depan. Mereka sering
fokus pada kemarahan yang mereka rasakan
terhadap orang tua mereka. Karena orang tua
authoritarian sering ketat, anak-anak mereka dapat
tumbuh menjadi pembohong dalam upaya untuk
menghindari hukuman.
c. Pengasuhan authoritative
Pengasuhan authoritative didefinisikan juga sebagai
pengasuhan kepada anak dengan mendorong
mereka menjadi mandiri dengan tetap memberikan
peraturan, batas-batas dan pengendalian atas semua
tindakan anak. Orang tua memberikan kehangatan
dan kasih sayang kepadnya. Orang tua authoritative
memberi dukungan, menunjukkan kesenangan
sehingga memberi umpan balik terhadap perilaku
anak yang konstruktif. Anak-anak yang tumbuh
dalam pengasuhan authoritative sering terlihat lebih
ceria, mampu mengendalikan diri, hidup mandiri,
dapat bekerja sama, ramah pada teman-temannya,
dan lebih mampu menahan stress (Santrock, 2007).
Diana Baumrind mengartikan pengasuhan
authoritative sebagai orang tua yang responsif,
memberi harapan sekaligus tuntutan yang tinggi
kepada anak. Orang tua authoritative berusaha
menampilkan dan mengatur kegiatan anak dengan
berpusat pada isu rasional. Orang tua authoritative
berusaha merangsang perilaku yang diinginkan
anak melalui penjelasan kepada mereka dan

60

memberi

pertimbangan pula dengan mereka
(Baumrind, 1991).
Anak dikontrol oleh orang tua, mereka memberi
dorongan verbal, saling memberi, saling menerima,
mereka memperbolehkan anak duduk bersama
mempertimbangkan tuntutan dan kebijakan mereka.
Mereka mengontrol anak tanpa membebaninya
dengan ancaman. Orang tua authoritative berusaha
memadukan kewenangan mereka untuk membesar
kan anak dengan berbagai peraturan yang dilihat
sebagai hak-hak dan tugas-tugas atau kewajiban
orang tua dan anak yang saling melengkapi (M.
Jannah, 2015).
Orang tua authoritative mempunyai asa yang
tinggi, memberikan penjelasan terhadap semua
peraturan yang diterapkan, dan menciptakan
suasana kekeluargaan yang hangat serta melindungi
hak-hak anak. Mereka mendukung, menerapkan
standar yang lumrah, dan memberi kesempatan
kepada anak mengenai peraturan yang dibuat.
Orang tua percaya bahwa kedua pihak memiliki hak
hak tetapi keputusan finalnya dite